Anak Genius : Mengandung Benih Pria Asing

Anak Genius : Mengandung Benih Pria Asing
Bab #76 (S2)


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Sepasang suami-istri yaitu Al dan Anjani sudah sampai di Labuan Bajo, pulau itu terletak di kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Pemandangan disana sangat indah apalagi jika kita menelusuri berbagai tempat wisata dan datang ke Bukit Sylvia untuk melihat sunset. Itulah yang membuat Jani menyukai tempat tersebut dan dia mau diajak bulan madu kesana.


Mereka ke tempat penginapan terlebih dahulu, lalu menyusun barang agar terlihat rapi. Keduanya merebahkan tubuh di atas ranjang, Al melirik wajah cantik Anjani. Kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman manis, dia sudah tidak sabar untuk melakukan malam pertamanya.


"Sayang, berhubung kita sudah sampai disini bagaimana jika kitaβ€”" ucapan Al terpotong karena Jani dengan cepat menyelanya.


"Makan! Iya 'kan, Al? Ayo, aku juga sudah lapar." Jani seakan tahu apa yang ingin Aku katakan sehingga dia memotongnya.


Al hanya pasrah dan menghela napas pelan.


'Baiklah, jika kita tidak bisa melakukannya sekarang maka nanti malam pasti aku akan memaksamu.' batin Al dengan senyum licik.


Dia sudah sangat ingin mencicipi bibir sensual milik Anjani, dirinya tidak sabar untuk melihat semua yang ada di dalam gaun sang istri.


Sesampainya di tempat makan, mereka langsung memesan beberapa menu. Anjani dengan cermat melihat berbagai macam menu yang tertera di buku.


"Em, aku mau, ikan kuah asam, banana cake, kompyang dan minumnya susu jagung." Jani menyerahkan buku menu kepada Al.


Al melongo mendengar pesanan Anjani, dia tidak menyangka jika istrinya ternyata doyan makan.


"Sayang, kamu yakin mau pesan semua itu?"


Jani mengangguk. "Memangnya kenapa? Kamu takut aku gemuk, terus malu punya istri gemuk?"


"Eh, bukan! Aku pikir kamu tidak doyan ngemil, soalnya selama kita kenal dulu kamu pasti selalu menjaga pola makanmu."


"Ya itu 'kan dulu, sekarang sudah ada kamu dan kenapa aku harus menjaga pola makanku? Tapi, setidaknya aku itu bisa menjaga keindahan tubuhku." Jani mengedipkan mata kepada Al.


Al menggeleng dengan senyum dibibir, dia memberikan buku menu lalu sang pelayan mengambil pesanan mereka.


Dua jam kemudian.


Selesai makan, mereka berdua pulang ke tempat penginapan.


"Huft, aku lelah sekali hari ini." Jani merebahkan tubuh sambil memejamkan mata. Namun, saat dia membuka mata dirinya terkejut karena Al sudah berdiri dan bertelanjang dada.


Anjani berteriak, dia terkejut melihat roti sobek yang ada pada Al. Dirinya memalingkan wajah sambil menutup mata.


"Al! Apa-apaan kamu? Pakai kembali bajumu," Jani menutup wajah menggunakan telapak tangan.


Al sengaja menggoda Anjani, hari sudah malam dan jam menunjukkan pukul sembilan malam.


"Ini sudah malam, kita pergi dari pukul tujuh dan aku sudah menahannya sedari tadi."


Perlahan Anjani membuka telapak tangan yang menutupi wajahnya, dia dapat melihat tubuh bersih, gagah, berbentuk, dan memiliki banyak roti sobek disana. Dirinya menelan ludah dengan kasar mengingat mereka belum pernah melakukan hubungan badan satu kali pun.


"Al, akuβ€”" ucapan Jani terpotong karena Al mendekatkan wajahnya.


"Aku apa? Kita sudah resmi menjadi pasangan suami-istri dan inilah saat yang tepat untuk kita melakukan kewajiban masing-masing." Al berbicara dengan nada berat.


"Tapiβ€”" Jani bingung harus beralasan apa.


Cup!


Al mengecup bibir sensual milik Jani d dengan perlahan, mata keduanya saling bersitubruk dan Al tersenyum tipis.

__ADS_1


"Aku menginginkan lebih," ujar Al.


"Tapi kita harus membersihkan diri terlebih dahulu," ucap Jani.


Al menghela napas, padahal sesuatu dibawah sana sudah minta di puaskan.


"Baiklah, kita akan mandi bersama." Al memiliki ide licik, dia menaik turunkan alisnya sambil tersenyum.


"Mandi bersama? Tidak! Kamu saja duluan baru setelah itu aku," Jani tersenyum gemas.


"Tidak sayang, ayo!" Al menegakkan tubuh lalu menggendong Anjani menuju kamar mandi.


Anjani memberontak tetapi Al tidak peduli.


Selesai mandi, Al sengaja mempercepat mandi mereka karena dia ingin segera menelusuri sesuatu yang membuat otaknya traveling. Jani sangat malu karena Al melihatnya tanpa sehelai benangpun.


Al langsung merebahkan tubuh Anjani di ranjang, dia tersenyum lalu mengecup bibir Jani dengan lembut. Kecupan tersebut perlahan menjadi lu*matan yang sangat menggairahkan dan menginginkan lebih. Jani sangat sulit mengimbangi Al dalam kemampuan itu.


Al menarik handuk yang melilit di tubuh Jani.


"Ada apa?" dirinya melepaskan tautan bibir dan menatap wajah Jani yang bersemu merah.


"Aku, aku malu." Jani menyembunyikan wajah di bawah ketiak Al.


Al pun tertawa. "Kenapa harus malu? Aku tadi sudah melihat semuanya dan sekarang giliran aku merasakannya."


Jani hanya bisa pasrah, dia terdiam saat penutup tubuhnya terlepas begitu saja. Al pun menelan ludah melihat tubuh indah nan bersinar milik Anjani, dia langsung memulai aktivitasnya agar si 'joni' terpuaskan.


Setelah melakukan pemanasan, Al langsung mengarahkan Kris keramat itu ke kolam ikan milik Jani. Dia harus bisa menahan sensasi yang akan datang karena baru pertama kali merasakannya.


Anjani hanya mengangguk dengan napas terengah.


Saat Kris keramat itu mulai memasukkan ujungnya ke kolam, Jani meringis sambil mengigit bibir bawahnya. Dia ingin sekali berteriak tetapi takut Al marah dan ada yang mendengarnya.


"Al, sβ€”sakit," rintih Anjani disaat setengah Kris itu sudah masuk.


"Sayang, ini baru setengah." ujar Al menatap wajah Jani yang terlihat menahan sakit.


Dia menghentikan aktivitasnya dan membiarkan Anjani rileks terlebih dahulu. Beberapa saat kemudian, dia mulai menenggelamkan Krisnya di kolam milik Jani. Keduanya pun menghabiskan malam pertama di pulau labuan bajo, terdengar suara de*sahan ni*kmat dari bibir keduanya.


🌺🌺🌺🌺🌺


Keesokan harinya.


Hari ini adalah hari yang paling melelahkan bagi Jani, tadi malam dia harus melayani Al yang tidak kenal lelah. Meraka bercinta mulai dari pukul sembilan sampai dua malam dan hari ini mereka harus berkeliling karena waktu liburan hanya tiga hari.


Jani sudah membeli sesuatu untuk dijadikan oleh-oleh, dia bahkan membeli cemilan untuk dibawa pulang ke rumah.


"Aku akan membeli makanan ini dan sepertinya mulai sekarang aku juga harus rajin menyetok berbagai macam camilan ataupun roti." ujar Jani.


"Memangnya kenapa?"


"Kenapa kamu harus bertanya? Melayanimu membuat aku Kehabisan tenaga, Al. Kamu sangat, emβ€”" Jani tidak meneruskan ucapannya karena merasa malu.


"Sangat apa, hayo? Jika kamu tidak mengatakannya maka aku akan menghukummu malam ini," Al tersenyum licik.


"Baiklah, kamu sangat kuat dan gagah. Aku rasa, kamu memiliki stamina yang tinggi."

__ADS_1


"Hei, tentu saja! Aku ini masih muda, Sayang." Al pun menyombongkan diri.


Meraka tertawa bersamaan.


Pukul enam sore, pasangan suami-istri itu sudah berada di bukit Sylvia. Mereka menunggu sunset yang akan terjadi hari ini.


''Al, terima kasih karena kamu sudah berada di sisiku. Aku tidak menyangka pertemuan pertama kita saat kecil dulu mampu membawa kebahagiaan tersendiri seperti ini."


"Meskipun kamu terlalu banyak gengsi, iya 'kan?"


"Aku seperti itu karena memikirkan perasaan Angel, kamu tahu 'kan jika dia menyukaimu.''


"Lalu kamu mengorbankan cinta kita?" Al menyela dengan cepat.


"Maafkan aku." Anjani menunduk.


"Sudahlah, mengapa kamu harus memasang raut wajah sedih seperti ini? Semuanya sudah takdir, yang penting sekarang kita telah bersama dan berjanji tidak akan pernah berpisah kecuali maut yang memisahkan." Al memeluk tubuh Jani.


Dia tersenyum dan menunjuk ke langit. "Lihat, sunsetnya sudah terlihat.''


Anjani pun mengikuti arah jari telunjuk Al, dia mengambil ponsel dan mengabadikan momen itu di galeri serta media sosialnya.


"Tetaplah bersamaku," Jani memeluk melingkarkan kedua tangannya di pinggang Al.


"Aku akan selalu ada di sampingmu dan kita akan menua bersama," balas Al dari lubuk hatinya yang terdalam, cintanya kepada Anjani tidak bisa diukur oleh apa pun.


Mereka duduk di tanah dan setia menatap sunset yang hampir menghilang.


β€’


β€’


**TBC


❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️


β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€” TAMAT β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”


ASSALAMUALAIKUM


SELAMAT SIANG/SORE/MALAM SEMUANYA, πŸ₯°


ALHAMDULILLAH TAK TERASA SATU BULAN SUDAH ANAYA MENEMANI KALIAN DENGAN SEGALA KONFLIK DAN AKHIRNYA KEBAHAGIAAN MENYAPA NAYA πŸ€—


SEBENARNYA OTHOR SEDIH KARENA HARUS BERPISAH DENGAN ANAYA DAN BABANG AL πŸ₯Ί TAPI, DARIPADA KALIAN BOSAN KARENA ALURNYA MUTER-MUTER KEK ODONG-ODONG JADI LEBIH BAIK OTHOR TAMATKAN SAJA 🀭


TERIMA KASIH ATAS DUKUNGAN KALIAN UNTUK YANG MENJADI SILENT READER (PEMBACA TANPA MENINGGALKAN JEJAK) DAN TERIMA KASIH JUGA UNTUK KALIAN YANG SUDAH MENDUKUNG DENGAN CARA MEMBERIKAN LIKE, VOTE, KOMEN, HADIAH, RATE, DAN LAIN-LAIN πŸ™ TANPA KALIAN OTHOR BUKAN APA-APA πŸ₯Ί**


**OTHOR MAU PANTUN DULU BIAR GAK SEDIH, JANGAN LUPA BILANG CAKEP YA πŸ˜‚


BURUNG IRIAN


BURUNG CENDERAWASIH


CUKUP SEKIAN DAN **TERIMA GAJIH (EHZ TERIMA KASIH πŸ˜‚πŸ™)


SAMPAI KETEMU DI NOVEL SELANJUTNYA 😘 SEMOGA KITA SEMUA SEHAT SELALU DAN DIBERIKAN UMUR PANJANG AGAR BISA BERSILATURAHMI LEWAT KOMENTAR ATAU PUN PRIVASI CHAT πŸ˜πŸ™**

__ADS_1


__ADS_2