
Malam ini, Abi serta Anaya sengaja mengundang Agnes dan Denis untuk acara barbeque'an di villa. Tak hanya itu saja, tetapi mereka juga mengundang teman Anaya yang ada berada di desa tersebut. Naya mengenalnya dari sosial media dan mereka janjian untuk bertemu.
Terlihat Agnes dan Denis sudah sampai di villa, ketika berjumpa mereka hanya memasang muka jutek dan dingin bahkan tak sekali menyindir. Lebih tepatnya Agnes yang selalu menyindir Denis.
Anaya sedang menunggu rombongan keluarga yang dia kenal dari media sosial, beberapa menit kemudian keluarga tersebut datang dan Naya menyambutnya dengan sangat ramah.
"Alhamdulillah akhirnya sampai juga ya Jeng." Anaya memeluk serta cipika cipiki dengan teman media sosialnya.
"Iya, ternyata alamat yang kamu kasih tidak begitu jauh dari rumahku." jawab wanita seusia Anaya.
Suami dan anak-anak wanita itu keluar dari mobil, mereka tersenyum dan kedua anak tersebut begitu sopan. Mereka mencium punggung tangan Anaya dengan takzim.
"Wah, sopan sekali. Cantik-cantik juga, ini kedua anak kamu yang sering kami ceritakan itu ya, Jeng?" Anaya mengelus rambut gadis remaja berusia enam belas tahun.
"Iya," jawab wanita itu dengan senyuman. "Ini anak pertama saya, namanya Anjani Sharma. Ini, anak kedua saya namanya Angelina Sharma." ucapnya memperkenalkan kedua Putrinya.
Mereka adalah keluarga campuran, wanita tersebut bernama Silvana Puspitasari sementara suaminya yang bernama Rahul Sharma berasal dari Dubai. Saat itu Silvana menjadi TKI di Dubai dan dia berkenalan dengan Rahul, mereka hanya beberapa kali bertemu lalu setelah itu Rahul memutuskan untuk menikahi Silvana.
Kedua anak mereka sangat cantik, memiliki manik mata berwarna cokelat tajam dan wajah yang sangat cantik. Namun, Anjani lebih mancung dibandingkan Angelina.
Mereka semua bergegas menuju tempat barbeque'an, disana sudah ada Agnes dan Denis.
__ADS_1
"Apa Anda tidak bisa mengambilkannya untuk saya? Dasar, pria susah diatur!" Agnes berkacak pinggang seperti ibu-ibu kos yang memarahi anak kosnya.
Denis hanya diam saja sambil bermain ponsel, dia bahkan tidak peduli dengan ocehan Agnes yang membuat telinganya panas.
Anaya hanya tersenyum sambil menggeleng.
"Ada apa ini?" dirinya langsung bertanya karena tidak sengaja mendengar pertengkaran antara Agnes dan Denis.
Agnes menoleh. "Kak, aku sudah berbicara sopan dan meminta tolong padanya agar mengambilkan sosis di dalam kulkas tetapi dia sama sekali tidak mau bergerak. Sudah seperti anak perawan saja."
"Hei, awas loh ntar kalian jodoh. Kamu jangan galak-galak gitu sama Pak Denis."
Denis hanya tersenyum miring mendengar ucapan Agnes.
"Apa Anda pikir Anda itu level saya? Tipe wanita idaman saya?" ucapnya angkat suara.
Agnes hanya diam saja sambil memalingkan wajah.
"Anda itu bukan wanita, tetapi nenek lampir. Sangat bar-bar, cerewet, dan tdiak lembut dalam berbicara." Denis mengeluarkan unek-uneknya.
"Apa!" Agnes bersiap memukul kepala Denis menggunakan spatula tetapi di hentikan oleh Anaya.
__ADS_1
"Eh, sudah-sudah. Kenapa kalian berdua jadi berdebat? Di belakang ada teman aku, apa kalian tidak malu berdebat di depan banyak orang?'' ucap Naya dengan nada lembut dan sopan agar kedua orang itu tidak tersinggung.
Agnes hanya menunduk malu karena dia tidak menyadari kedatangan para tamu yang sengaja Anaya undang.
Anaya mengedarkan pandangan. "Nes, dimana Al dan Zahra?"
"Ada kok, mereka lagi main di dalam."
Anaya berpamitan untuk memanggil kedua anaknya agar berkenalan dengan kedua putri Silvana.
Al berjalan terlebih dulu di depan sang Mama, sesampainya di tempat berkumpul. Dia mengerutkan dahi karena melihat gadis cantik bak bidadari yang dia temui di kebun teh tadi pagi.
'Itu, bukannya bidadari yang tidak sengaja aku lihat pagi tadi?' batin Al menduga sambil menatap Anjani dengan lekat.
•
•
•
TBC
__ADS_1