
Hah?! Richard sedikit terkejut dengan pertanyaan Nici yang tiba-tiba.
"Apa kalian pernah bertemu dan melakukan sesuatu hingga menghasilkan seorang anak?" Tambah Nici.
Uhuk...Uhuk...!!
Richard yang tengah minum langsung tersedak seketika, ketika mendapat pertanyaan mengejutkan dari seorang anak berusia 5 tahun.
"A-apa yang kau katakan, Nak? Darimana kau punya pemikiran seperti itu?" Richard tersenyum canggung.
"Dari wajahmu!" Jawab Nici, seraya melipat tangan di dada.
"Wajahku?!"
"Hem... Wajah kita memiliki kemiripan, tidak kah Om menyadari itu? Aku selama ini tidak tahu siapa Ayahku, tidak menutup kemungkinan kamu adalah Ayahku!" Nici menunjuk Richard dengan jari telunjuknya.
'Astaga, apa yang telah merasuki anak ini. Bagaimana aku bisa punya anak tanpa aku menyadarinya.' Richard memijat pelipisnya pelan.
"Sudahlah, kita bahas lagi lain kali. Ayo aku bantu Om ke kamar ku." Richard mengangguk dan menerima uluran tangan Nici.
'Anak yang pintar, di usia seperti ini dia mampu berpikir seperti orang dewasa. Tapi, ini tidak baik bagi anak seusianya, yang seharusnya hanya berpikir bermain dan belajar saja.' Batin Richard.
Nici dan Richard berbaring berdampingan di atas ranjang, mereka menatap langit-langit kamar tanpa bisa memejamkan mata sama sekali.
"Saat aku seusiamu dulu, aku sudah tidak bisa merasakan yang namanya pelukan Ayah dan Ibu. Aku selalu tidur sendirian, ketika hujan datang dan ada suara petir yang begitu keras, aku ketakutan aku membungkus diriku dengan selimut." Richard berucap, dia menceritakan masalalu nya pada Nici.
"Berarti kita sama, aku juga tidak pernah merasakan kasih sayang Ayahku. Bahkan aku tidak tahu dia di mana dan siapa dia." Nici menatap lekat langit-langit kamar, menjadikan lengan kecilnya sebagai bantal.
"Tentu saja itu tidak sama, kau masih memiliki Ibu yang menyayangimu, Nak. Hanya memiliki Ibu itu bukan hal yang patut membuatmu sedih, lihat aku. Aku sudah tidak memiliki keduanya, kau bisa mengenangnya dalam hatimu jika dia memang sudah tiada." Richard mengelus kepala Nici pelan.
"Aku tidak tahu Ayahku masih hidup atau tidak. Jangankan bisa mengenangnya, Ibu tidak pernah sekali pun bicara tentang Ayah." Nici mendesah nafas pelan.
"Hem... Begitu ya."
Mereka berbicara dengan akrab cukup lama, Nici meminta Richard menceritakan sebuah dongeng, karena dia tidak bisa tidur. Namun, dia selalu tidak merasa puas ketika, apa yang di ceritakan Richard tidak sesuai keinginannya.
__ADS_1
Keesokan paginya, Shelia masuk kedalam kamar Nici dia lupa jika disana ada pria lain yang tinggal.
"Ya Tuhan! A-apa yang sedang kau lakukan?!" Shelia berteriak dan repleks berbalik, ketika melihat Richard tengah berusaha mengancingkan celananya, sepertinya dia kesusahan karena sebelah tangannya terluka. Dia hendak minta tolong pada Nici, namun anak itu masih tertidur pulas.
"Ma-maaf Nona, tadi saya habis dari kamar mandi, saya agak kesulitan mengancingkan nya kembali." Ucap Richard dengan nada canggung.
"Ada apa Mami?" Tanya Nici dengan suara serak, sepertinya dia terbangun karena teriakan Shelia yang cukup kencang tadi.
"Ti-tidak ada Nak, cepat bangun dan mandi! Nanti terlambat ke sekolah." Shelia pergi secepat kilat dari kamar Nici, membuat bocah kecil itu sedikit keheranan.
"Ada apa dengan Mami?" Gumamnya pelan.
"Kau sudah bangun!" Richard mengalihkan perhatian Nici, "Ayo Om bantu kamu mandi." Tawar Richard.
"Tidak perlu Om, aku bisa melakukannya sendiri." Tolak Nici sembari mengibaskan tangannya, "Mami bilang tidak baik bertelanjang di depan orang lain, itu sangat memalukan." Tambahnya seraya berlalu.
"Anak ini seperti orang dewasa saja." Richard menggeleng pelan.
Setelah selesai mandi dan bersiap-siap, Nici dan Richard datang ke meja makan untuk sarapan. Shelia sudah menyiapkan sandwich untuk sarapan, dia mengisi piring Nici dan Richard. Richard nampak terkejut, tak pernah sekali-pun dia mendapat perhatian seperti ini dari seorang wanita selama ini, bahakan para pelayan di rumahnya pun, hampir semuanya laki-laki. Dia hanya diam menatap makanan di atas piringnya tanpa menyentuhnya sedikit pun.
"Iya kenapa Om? Apa Om tidak suka sandwich? Sebenarnya aku juga tidak suka kuning telurnya, tapi Mami selalu memaksaku memakannya." Keluh Nici pelan.
"Nici." Shelia memberi tatapan ramah palsu, membuat bocah kecil itu seketika terdiam dan memakan kembali sarapannya.
"Tidak, aku suka." Richard tersenyum dan mulai makan.
"Baguslah! Lagi pula, aku bukan pelayanmu yang tahu apa yang kau sukai dan tidak kau sukai." Ucap Shelia ketus. Richard hanya tersenyum canggung.
'Astaga mulut wanita ini pedas sekali. Jika bukan karena di luar sana masih berbahaya, rasanya aku ingin segera pergi dari rumah ini.'
Siang harinya, Nici tengah berada di sekolah, saat ini tengah jam makan siang, seperti biasa Nici membawa bekal dari rumah. Dia mengedarkan pandangan mencari sosok Cherry di ruangan itu, namun gadis kecil yang selalu bawel itu kini tidak ada. Dari kemarin Nici belum sempat bicara dengannya dia bahkan belum sempat berterima kasih pada Cherry karena membelanya kemarin.
"Kemana dia?" gumam Nici pelan, tadi pagi pun saat mereka berangkat ke sekolah Cherry seperti sengaja menghindar dan berjalan lebih dulu di depan, dia setengah berlari karena menghindar dari Nici.
Nici berjalan keluar kelas sembari mencari keberadaan Cherry di semua tempat, hingga pandangannya berakhir ke sebuah kursi yang ada di taman bermain. Terlihat Cherry tengah duduk sendirian di tempat itu. Tanpa ragu Nici berjalan dan menghampiri Cherry, lantas duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Maaf." Satu kata itu yang keluar dari mulut Nici. Dia menyodorkan kotak bekalnya pada Cherry sebagai permintaan maaf.
"Tidak perlu, aku juga punya." Tolak Cherry, sembari mendorong kotak bekal Nici dengan sebelah tangannya yang kosong.
"Kalau begitu kita tukar!" Nici mengambil kotak bekal Cherry dan menjejalkan kotak bekalnya ke tangan Cherry.
"Hey!"
"Maaf." Nici mengulang kembali perkataannya, dia tidak pandai mengatakan perkataan lain selain satu kata itu.
Cherry melipat tangan di dada, "baik, aku akan memaafkan kamu. Tapi, dengan satu syarat."
"Apa syaratnya?"
"Kamu tidak akan marah padaku sampai kapan pun, dan kita akan menjadi teman selamanya." Ucap Cherry.
"Oke!"
"Janji?!" Cherry mengangkat jari kelingkingnya dan Nici pun mengangkat jari kelingkingnya ia pun lantas menautkan nya.
"Janji!"
Mereka tertawa dan bercanda bersama, hubungan pertemanan mereka pun menjadi lebih akrab.
***
Nici pulang ke-rumah di antar oleh Bibi Marry dia meminta pulang karena di rumah ada pamannya yang sedang sakit, ucapnya memberi alasan pada Bibi Marry.
Ceklek...!!
"Aku pulang!" Ucap Nici.
"Oh Nici sudah pulang." Ucap seseorang dari arah dalam.
Nici berjalan menghampiri asal suara tersebut, mulutnya seketika menganga melihat penampakan dari dalam sana, "Apa yang Om lakukan?!"
__ADS_1