
Siang berganti malam, Richard membawa Shelia beserta Nici ke rumah yang telah ia beli untuk mereka.
"Bagaimana! Rumahnya bagus tidak?" Tanya Richard meminta pendapat.
"Tentu saja bagus." Jawab Shelia biasa saja. Namun tidak dengan putranya Nici, bocah itu sibuk berlarian kesana-kemari di temani Ken.
"Om mata panda yang mana kamar ku?" Tanya Nici dengan tak sabar.
"Ada di sebelah sana, ayo Om temani! Oh ya Tuan sudah menyiapkan banyak mainan di kamar Tuan kecil." Suara Ken dan Nici terdengar samar, seiring langkah mereka yang perlahan menjauh.
"Ada apa? Apa kau tidak puas dengan rumahku? Apa kau ingin pindah ke tempat lain? Biar aku suruh Ken mencari rumah yang lain yang lebih bagus dan besar dari ini." Ucap Richard yang tak di gubris oleh Shelia.
"Mana kamar kita?" tanya Shelia seraya berjalan.
"Kamar kita?" Richard nampak terkejut, namun dia tetap menunjukan jalan pada Shelia. Shelia pun melangkah lebih dulu, di ikuti Richard di belakang dengan wajah bingung.
__ADS_1
Shelia berhenti di depan sebuah pintu kamar berwarna putih dengan ukiran unik yang tergambar menghiasinya.
"Ini kamarnya?" Tanya Shelia lagi.
Richard hanya mengangguk tanpa berkata. Shelia lantas membuka pintu dan memasuki ruangan tersebut, nuansa abu-abu putih nampak mendominasi ruangan ini. Terdapat satu Ranjang King Size dan sopa panjang berukuran sedang, serta barang-barang pelengkap lainnya. Kamar ini nampak begitu bersih terawat.
"Tutup pintunya aku ingin istirahat." Ucap Shelia.
"Jadi istriku ingin tidur bersamaku?" Richard mengangkat sebelah alisnya.
"Kenapa? Apa tidak boleh? Ya sudah kalau begitu, aku pindah ke kamar tamu saja."
Richard pun menutup pintu sesuai permintaan Shelia. Namun, sesuatu yang hangat tiba-tiba menyentuh punggungnya, tangan halus dan lembut melingkar di pinggangnya. Ternyata Shelia! Dia tiba-tiba memeluk Richard dari belakang. Untuk beberapa saat mereka terdiam, hanya debaran jantung yang tak beraturan yang mereka rasakan satu sama lain.
"Apa yang Kakek katakan padamu?" Richard tahu Shelia tidak mungkin berinisiatif seperti ini sendiri, jika tida ada dorongan yang mungkin membuat dia tiba-tiba berubah.
__ADS_1
"Aku menyukaimu Richard!" gumam Shelia dari balik punggung Richard.
Deg...Deg... Richard terdiam sambil tersenyum senang, seakan ada kembang api yang tengah meledak dalam dirinya, namun dia berusaha tetap tenang, dia tidak ingin merusak suasana sakral seperti ini.
"Apa kau yakin dengan perasaanmu padaku?" Richard melepaskan rangkulan Shelia lantas berbalik agar bisa leluasa memandang wajah cantik istrinya itu.
"Apa kau tidak percaya padaku?" Shelia balas menatap netra coklat gelap tersebut. Dia melingkarkan lengan di pundak Richard dan sedikit berjinjit untuk mensejajarkan tingginya dengan Richard, sebuah kecupan lembut mendarat di bibir Richard.
"Apa itu cukup membuktikan ketulusan hatiku?" Tanya Shelia setelah melakukan kecupan singkat tersebut.
"Tidak, itu tidak cukup!" Sergah Richard, yang langsung menautkan kembali bibirnya dengan bibir Shelia, tangannya kirinya merangkul pinggang wanita itu, dan tangan kanan menahan tengkuk Shelia.
Rasa panas menjalar di tubuh Shelia, bibir lembut Richard menaut dengan bibirnya terasa panas dan sedikit pusing, walau ciumannya terasa kaku namun tak dapat di pungkiri Shelia tetap mabuk olehnya.
Hah...Hah...
__ADS_1
Shelia menghembuskan nafas kasar, setelah Richard melepaskan panggutan nya. Dia tersenyum dan memeluk Shelia, menciumi pundak serta leher wanita itu.
"Sayang aku menginginkanmu!"