
"Waktu itu kenapa?" Tanya Shelia menyahuti.
"Hah, tidak ada apa-apa ko, Ibu anakku." Richard tersenyum manis.
"Kamu panggil aku apa barusan?" Shelia meninggikan nada suaranya.
"Ibu Anakku! Apa ada yang salah?"
Shelia terdiam, sebenarnya memang tidak salah sih dia memang Ibu dari anaknya Richard, tapi kenapa panggilan ini terasa aneh bagi Shelia.
"Sebenarnya gak salah sih, tapi--," Shelia masih merasa janggal pada panggilan 'Ibu Anakku' ini, tapi dia tidak menemukan kesalahan dari kata itu.
"Mami, ayo kita masak bareng!" Seru Nici dengan riang.
"Emh... Ya boleh." Shelia menyanggupi.
'Gak papa lah, toh ini hari minggu. Aku libur, gak ada salahnya masak bersama, asalkan Nici bahagia.' batin Shelia.
Dengan hati berbunga-bunga, Richard mulai menyiapkan semua bahan. Dia mengambil semua bahan yang ada di dalam kulkas dan menaruhnya di atas meja.
Shelia mengernyitkan dahi, "kamu mau masak semua ini?"
"Emh iya." Richard menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Oh." Shelia melipat tangan di dada, sambil mengangkat sebelah alisnya. "Kalau begitu aku menjadi penonton saja, aku akan duduk di sini sambil tersenyum." Shelia beranjak duduk di kursi yang ada di dapur, bertumpang kaki dan menopang dagu dengan sebelah tangannya.
Posisi ini sungguh membuat hati Richard berdesir, Shelia begitu cantik dan **** di mata Richard. Membuat dia enggan berpaling, tapi panggilan Nici membuat Richard seketika tersadar.
"Daddy! Ayo buruan masaknya."
"Ah ia, maaf." Richard salah tingkah.
"Cih, mesum." gumam Nici pelan, yang hanya dapat dia sendiri yang mendengarnya.
__ADS_1
"Daddy mau masak apa aja?" Tanya Nici. Shelia menilik aksi mereka berdua.
Hati Shelia menghangat, dia masih tidak percaya Richard adalah Ayah kandungnya Nici, dia takut kalau Richard hanyalah seorang penipu yang hendak berniat buruk pada keluarga kecilnya.
Walau Richard sudah menunjukan bukti tes DNA, tetap saja hati Shelia masih ragu. Tapi, melihat kebahagiaan Nici, membuat Shelia mengesampingkan rasa tidak percayanya itu. Richard terlanjur mengakui Nici sebagai putra kandungnya, membuat Nici yang rindu akan kasih sayang seorang Ayah terlihat begitu bahagia dan menikmati kebersamaannya dengan Richard.
"Daddy mau masak sayur bayam dan kol, lalu sawi dan telur." Richard mengangkat tinggi-tinggi bahan makanan yang dia sebutkan tadi.
"Hah, emang enak?!" Nici mengernyitkan dahi. Menatap aneh pada bahan makanan yang Richard pegang.
"Masakan Daddy pasti enak!" Ucap Richard dengan percaya diri, sambil melirik pada Shelia yang tengah duduk dengan anggunnya.
Nici berceloteh riang, sembari terus mengomentari masakan Richard. Tak butuh waktu lama masakan pun jadi, Richard menghidangkan makanan di hadapan Shelia. Shelia menilik penampilan makanan di hadapannya, walau tampak aneh, namun dia tak keberatan untuk mencobanya. Shelia menyendok sedikit dan menaruh di piringnya, kemudian memakannya. Shelia mengernyitkan dahi, lidahnya mengecap rasa makanan yang terasa asing di indra perasanya.
Richard memandang penuh harap, berharap Shelia Shelia berkomentar tentang makanan yang baru di buatnya, "bagaimana rasanya?" Tanya Richard tak sabar.
Emh... Shelia diam, dia bingung harus berkata apa, "Masakan Daddy, gak enak." Tukas Nici.
"Hah, gak enak?!" Richard lekas mencoba maha karya nya sendiri, yang sama sekali tidak menggugah slera itu.
Shelia bangkit, lantas mengambil sayuran yang tersisa dan mulai memasak dengan bahan seadanya.
"Sebenarnya rasanya gak buruk ko. Tapi, memang masih butuh belajar lagi." Shelia sedikit menghibur Richard, agar dia tidak terlalu kecewa dan malu karena masakan yang ia buat, tidak layak makan.
"Terima kasih! Tapi... Emang sih masakan yang aku buat emang gak enak." ucap Richard.
Richard mendekat dan mulai mengutarakan niatnya, "Shelia, apa kau ingin memberikan keluarga yang lengkap untuk Nici?"
Shelia balik menatap Richard dengan pandangan penuh tanya, "apa maksudmu?"
"Menikahlah denganku!" Ucap Richard tanpa ragu, wajahnya tampak serius, matanya menyiratkan ketulusan di hatinya.
"Hah?!" Shelia masih belum bisa mencerna perkataan Richard barusan.
__ADS_1
"Apa kau mau menikah denganku?" Tanya Richard sekali lagi. Shelia masih terdiam, dia begitu enggan menjawab pertanyaan menyangkut hidup dan matinya kedepannya nanti.
"Mami!" Nici menghampiri dan memeluk kaki Shelia. Deg...! Shelia tahu betul apa yang di inginkan Nici, yaitu jawaban 'Ya' Tapi, ini bukan perkara mudah untuk dapat Shelia pastikan dalam hitungan detik, namun melihat mata polos dan berkaca-kaca Nici, membuat hati Shelia terenyuh, tanpa sadar ia pun mengangguk.
"Hah, Mami setuju menikah dengan Daddy?!" Tanya Nici memastikan apa yang ia dengar itu benar adanya.
"Ya, Mami setuju!" Shelia mengiakan sembari tersenyum dan mengusap kepala Nici lembut.
"Terima kasih Mami, Yeay!" Nici mengedipkan sebelah matanya pada Richard. Richard membalasnya dengan senyuman penuh arti.
***
Beberapa hari berlalu, Shelia dan Richard sudah mendaftarkan diri untuk pernikahan mereka, di kantor pengacara dan setelahnya menjalani upacara pemberkatan pernikahan di greja terdekat. Hanya acara sederhana yang hanya di hadiri oleh beberapa orang, seperti Anna dan Tuan Charli, sedangkan dari pihak Richard tak seorang pun datang menghadiri pernikahan mereka. Nici sebagai pengiring pengantin, membawa buket bunga berwarna putih, dia mengenakan Jas kecil berwarna cream, senada dengan sang Ayah. Dan Shelia, gadis itu nampak cantik mengenakan gaun pengantin berwarna putih, yang nampak berkilau diterpa cahaya lampu, serta tataan rambut yang di sanggul manis, di hiasi dengan hiasan rambut di bagian belakang kepalanya. Shelia juga mengenakan penutup kepala seperti jaring yang menutupi hingga ke wajahnya.
'Apa keputusanku menikah ini tidak terlalu terburu-buru? Aku menikah dengan Ayah anakku yang baru aku kenal. Tapi, melihat kebahagiaan di wajah Nici, membuat aku juga merasa bahagia.'
Shelia tersenyum, melihat Nici tertawa bahagia di pangkuan Richard.
Selepas acara, Shelia, Richard dan juga Nici kembali ke kediaman mereka. Nici nampak bersemangat dia sibuk berceloteh ria, membuat Shelia hanya bisa geleng-geleng kepala. Shelia menatap cincin putih yang tersemat di jari manisnya, lambang ikatan pernikahan antara dia dan Richard.
"Richard, aku ingin bicara sebentar." Shelia buka suara, setelah cukup lama dia terdiam.
"Katakan!" Ucap Richard.
"Ingatlah, kita menikah hanya demi Nici. Aku harap kamu faham maksudku." Richard hanya tersenyum sambil mengangguk sebagai jawaban.
"Bagus kalau kamu faham." Shelia bangkit dan hendak berlalu pergi ke kamarnya. Richard pun ikut bangkit, hendak mengikuti langkah Shelia.
"Kamu mau kemana?" tanya Shelia, karena melihat Richard berjalan mengikutinya.
"Ke kamar." Jawab Richard.
"Ke kamar!? Bukankah aku sudah bilang, kita hanya menikah demi Nici, bukan menikah beneran." Tegas Shelia.
__ADS_1
Belum sempat Richard menjawab.
Brak...!!