
Nyonya! Pekik Ken. Namun sebelum ia menghubungi Shelia lebih baik dia menyuruh Nici dulu yang mencoba menenangkan Richard.
"Tuan Muda, tolong tenangkan Presdir. Kalau tidak--," Ken tak sanggup melanjutkan perkataannya. Tatapannya penuh permohonan.
Nici mendongak menatap Ken, "Kenapa harus di hentikan Om? Biarin aja, lagian toko Ice cream ini udah punya Daddy, kan?!" Nici mengangkat bahu tak peduli, dia malah berjalan mengajak Cherry mencari tempat duduk yang sekiranya enak untuk menonton.
"Astaga!" Ken kebingungan sendiri, dia menghampiri Richard kembali.
"Tuan, tolong tenang! Kalau paman Tuan tau, Tuan ada di sini akan sangat bahaya bagi Tuan kecil dan Nyonya." Ken mencoba mengingatkan Richard akan kelemahannya.
Richard diam sambil mengangkat tangan, mengisyaratkan agar bawahannya menghentikan penghancuran itu untuk sementara waktu.
"Nici." Gumamnya pelan, dia hampir melupakan putranya itu karena dia fokus akan melampiaskan kekesalannya.
Ken menghela nafas lega, dia buru-buru mengalihkan perhatian Richard dengan membahas Tuan kecilnya, "Ya Tuan, tuan kecil sedari tadi menunggu Tuan di meja sudut sana." Ken menunjuk keberadaan Nici dan juga Cherry, serta Bibi Marry yang nampak berdiri tak jauh dari mereka.
Ehem...Ehem... "Ken, apa...Nici melihat semua yang terjadi?" Richard bertanya dengan wajah antara takut dan malu.
"Emh... Ya bisa di bilang hampir semua sih, Tuan." Ken berucap dengan jujur.
__ADS_1
"Kenapa kamu bawa dia kesini?" Richard menarik kerah jas bagian depan Ken.
"Tu-tuan sa-saya takut melihat anda marah, jadi saya pikir--," Richard melepaskan renggutannya dari baju Ken lantas berdiri.
"Ken bereskan sisanya!" Ucapnya berbisik di telinga Ken, sambil menepuk pundak laki-laki itu, "ingat jangan sampai Shelia tahu tentang kejadian ini." Richard merapikan kemeja sederhana yang ia kenakan lantas menghampiri Nici dan juga Cherry.
"Hay anak-anak." Ucapnya canggung.
"Hay juga Om!" Balas Cherry dengan wajah sumbringah, "tadi Om keren banget!" Cherry mengangkat dua jempol tangannya.
Hehe... Richard tersenyum canggung, "makasih, tapi jangan bilang-bilang sama Tante Shelia ya." Richard tak ingin Shelia tahu dan dia mendapat kesan buruk di mata sang istri, yang akan membuat hubungannya dengan Shelia kembali renggang.
"Nici?!" Panggil Richard yang juga ingin mendapatkan kata-kata yang sama dari bibir mungilnya.
"Daddy tenang aja, aku gak akan bilang sama Mami ko." Nici melipat tangan di dada sembari menyandarkan punggungnya.
"Baguslah!" Richard menghela nafas lega, "kalau begitu ayo kita pulang dan masak bersama, kita makan malam di rumah. Cherry kamu udah ijin sama Mama belum?" Tanya Richard lembut.
"Udah ko Om." Jawab Cherry, Richard melirik Bibi Marry, dan Bibi Marry pun menjawab dengan anggukan.
__ADS_1
Mereka pun pulang bersama ke rumah Nici, karena sekolah dan rumah jaraknya tidak terlalu jauh mereka cukup berjalan kaki saja.
Mereka pun asik membuat berbagai masakan bersama di bantu Bibi Marry. Hingga Shelia datang.
"Hay sayang Mami pulang!" Ujar Shelia.
"Tante!" Pekik Cherry.
"Hay cantik, lama gak ketemu. Kamu makin cantik aja." Shelia mencubit pipi Cherry gemas.
"Tente juga makin cantik, pantes Om ganteng suka." celotehnya, membuat Shelia tersenyum dengan ekspresi wajah aneh.
Richard hanya mengulum senyum di bibirnya sembari mengaduk masakan di atas wajan.
Shelia menghampiri Richard setelah mengenakan celemek biru muda yang ia simpan sebelumnya di dalam laci.
"Sini biar aku aja yang masak." Shelia mencoba mengambil alih.
"Udah gak papa aku aja, kamu kan capek baru pulang kerja." Ricahad tersenyum manis.
__ADS_1
Deg...Deg...!!