Anak Genius: Ayahku Konglomerat!

Anak Genius: Ayahku Konglomerat!
Bab 20 : Kepergian Cherry


__ADS_3

Cherry menoleh dengan wajah sembab, dia menatap Richard kemudian Nici, "Cherry kenapa?" Tanya Richard lembut, sedang Nici bocah kecil itu hanya diam dan menatap datar pada Cherry.


"A-aku, harus pergi." Lirihnya sambil sesenggukan.


"Pergi, atau hanya pergi?" Richard tersenyum lembut.


"Maksud om?!" Cherry bertanya dengan wajah bingung.


"Om tahu, kalian sudah berteman dan berjanji untuk selalu bersama benarkan?" Cherry mengangguk sebagai jawaban, sedangkan Nici hanya memalingkan wajah ke arah lain.


"Persahabatan, tidak harus selalu bertemu tiap hari. Kalian bisa saling menghubungi lewat telpon, atau panggilan video." Ujar Richard memberi ide. Wajah Cherry terlihat cerah seketika, mengapa dia tidak ingat hal ini sebelumnya.


"Ya sudah, kalian bicaralah." Richard bangkit dan mengusap lembut kepala Nici lantas berlalu.


"Nici!" Panggil Cherry pelan. Nici menyodorkan secarik kertas pada Cherry.


"Apa ini?" Tanya Cherry bingung.


"Alamat email ku."


"Hah, buat apa?" Cherry yang hanya seorang anak kecil biasa tidak mengerti apa itu Email.

__ADS_1


"Sudahlah, berikan saja pada pengasuh mu nanti dia juga faham. Dan simpan nomor ku." Ucap Nici.


"Tapi aku tidak punya ponsel." Ucap Cherry lagi. Namun, Nici tak peduli dia tetap menuliskan nomor telponnya di kertas dan memberikannya pada Cherry.


"Jangan lupa, masih ada aku di tempat ini." Nici bangkit dan berjalan sambil menaruh tangan di saku celananya.


"Nici tunggu!" Cherry berlari mengejar Nici kedalam kelas.


Angin berhembus menerpa pepohonan, daun-daun kering nampak beterbangan. Gumpalan awan putih nampak menghiasi langit biru, Richard membaringkan tubuh di atas rumput hijau. Beginilah rasanya jadi pengangguran, berbaring dan menikmati alam. Sedangkan istrinya banting tulang untuk menghidupinya dan juga anak mereka.


"Cih, aku merasa jadi laki-laki gak berguna." Keluh Richard.


"Aku sepertinya harus cari kerja untuk sementara, aku tidak ingin memiliki kesan buruk di mata Shelia." Gumam Richard pada diri sendiri.


'Daren, aku mohon maafkan aku. Meski aku punya sedikit perasaan untukmu, tapi aku tidak mungkin bisa menerima kamu.' gumam Shelia dalam hati.


"Nyonya Shelia, ini daftar bahan makanan yang baru saja datang, mohon Nyonya cek ulang kembali, takutnya ada kekurangan." Ucap seorang karyawan wanita yang datang sambil membawa buku.


Shelia mengangguk lantas memeriksa catatan tersebut.


"Nyonya, apa benar Nyonya sudah menikah? Bagaimana dengan tuan Daren? Bukankah beliau sudah lama suka sama Nyonya? Dia juga Ayah angkatnya anak Nyonya kan?" Tanya pelayan itu dengan rasa ingin tahu yang tinggi.

__ADS_1


"Ini saya sudah cek semua barang yang datang, semuanya lengkap tanpa kekurangan." Jawab Shelia, dia tak menghiraukan pertanyaan tentang masalah pribadinya.


"Ba-baik Nyonya, saya permisi dulu." Ucapnya gugup. Shelia hanya mengangguk sebagai jawaban. Dia malas untuk bicara masalah pribadi dengan manusia-manusia penggosip yang selalu menggunjingnya di belakang.


Sore hari, setelah Shelia selesai bekerja seperti biasa dia pulang menggunakan bis untuk pulang pergi bekerja, kakinya terasa pegal dia lekas melepaskan sepatu hak sedang yang ia kenakan setelah ia sampai di rumah.


"Nici, Mami pulang!" Ucap Shelia setengah berteriak. Yang datang bukannya Nici, melainkan Richard yang tengah mengenakan celemek berwarna merah muda bergambar Hello Kitty milik Shelia.


fpt..!! Shelia menutup mulut, ingin rasanya dia tertawa melihat penampilan Richard, namun dia tahan karena tidak enak hati.


'Tertawalah Shelia, aku tidak keberatan menjadi badut di hadapanmu. Senyumanmu sangat aku nantikan.'


Tok...Tok...!!


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Shelia, dia lantas berjalan kembali ke pintu dan membukanya.


Ceklek...!!


Suara pintu terbuka, alangkah terkejutnya Shelia, melihat belasan pria berjas hitam dengan logo berbentuk sayap kecil keemasan di saku jas mereka berbaris rapi di depan pintu.


"Siapa kalian?" Tanya Shelia kebingungan.

__ADS_1


"Presdir!" Mereka menunduk hormat secara bersamaan pada Richard, membuat Shelia menoleh seketika.


"Presdir?!" Shelia bertanya dengan wajah bingung.


__ADS_2