
"Shelia?" Seketika mata Shelia membola mendengar suara serak itu. Tangannya lekas ia tarik kembali dari kepala Richard.
Satu kata untuk menggambarkan perasaan Shelia kala ini 'Malu' Ya dia sangat malu, ingin rasanya dia bisa menghilang saat ini juga. Jika saja lampu menyala, Richard pasti akan melihat wajah Shelia yang memerah seperti buah tomat.
"Kenapa kamu belum tidur?" Tanya Richard kembali.
"Ta-tadi aku melihat nyamuk di kepalamu, A-aku ingin memukulnya." Ucap Shelia memberi alasan.
"Nyamuk?!" Richard berucap seolah tak percaya.
"Be-benar, seharusnya kau berterima kasih padaku." Shelia bangkit dan langsung berbalik membelakangi Richard, karena takut Richard menyadari kebohongannya.
"Bagaimana seharusnya aku berterima kasih?" Bisik Richard dengan nada sensual di daun telinga Shelia, entah sejak kapan laki-laki itu bangkit dari berbaringnya.
"Su-sudahlah, aku bukan orang yang suka perhitungan. Tidur lagi sana!" Shelia secepat kilat kembali ke tempat tidur dan lekas menutupi dirinya dengan selimut.
'Sial! Hampir saja ketahuan, bodohnya aku. Kenapa aku mendekatinya.' Rutuk Shelia dalam hati, 'apa dia sudah tidur?' Shelia mengintip Richard dari balik selimutnya. Memastikan apa pria itu kembali tidur atau tidak. Ternyata Richard kembali tidur, Shelia pun menghela nafas lega.
Berada satu ruangan dengan Richard membuatnya sulit bernafas.
Tanpa Shelia sadari senyum tipis tersungging di bibir Richard.
'Sekarang aku tahu sayang, kamu memiliki perasaan terhadapku.' gumam Richard dalam hati.
__ADS_1
***
Keesokan paginya, Shelia, Nici dan juga Richard, tengah duduk untuk sarapan di meja makan. Sejak tadi Shelia berusaha menghindari tatapan Richard, sedangkan Richard malah sengaja memandangi Shelia sambil menopang dagu dengan sebelah tangannya, sedang tangan yang satunya lagi memegang garpu dan sesekali menyuapkan makanan ke mulutnya.
'Cih, menyebalkan! Mengapa dia memandangi ku terus.' keluh Shelia dalam hati.
Sedang Nici bocah itu melirik Ayah dan Ibu nya secara bergantian sambil memakan makanannya.
'Huh dasar Daddy, dia benar-benar sudah tidak tertolong lagi sekarang, dia suka pada Mami sampai sebegitu nya. Benar-benar tidak memandang aku yang menjadi anaknya.' Nici mengerucutkan bibirnya sebal.
"Nici!" Panggil Richard yang seketika membuat Nici menoleh, "kamu mau gak tinggal di rumah Daddy?" Tanya Richard.
Emh... Nici tak langsung menjawab, dia malah melirik pada Ibunya. "Tenang saja, Mami mu sudah setuju." Tambah Richard yang seolah tahu, isi pikiran putranya itu.
"Benarkah?! Mami, Mami beneran setuju kita tinggal di rumah Daddy?!" Tanya Nici memastikan, dia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya itu di wajahnya.
"Yeay! Kapan kita pindah Daddy?!" Tanya Nici antusias.
"Hari ini." Jawab Richard sambil tersenyum.
"Oke, kalau begitu aku mau membereskan barang-barang ku dulu!" Nici hendak turun dari kursi, namun perkataan Richard seketika membuatnya menghentikan niatnya.
"Tidak usah, biar Om Ken saja yang membereskannya. Oh ya, Kakek buyut mu ingin bertemu kamu sayang, nanti sebelum kita ke rumah kita mampir dulu ke tempatnya oke." Richard mengelus kepala Nici dengan lembut penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Oke!" Jawab Nici riang.
"Apa Kakek mu akan suka pada Nici?" Tanya Shelia tiba-tiba, setelah Nici pergi ke kamarnya.
"Apa yang kamu pikirkan? Mengapa Kakek ku tidak akan suka pada Nici, dia darah dagingku Shelia." Ucap Richard menenangkan.
"Bukan begitu, hanya saja...," Shelia menjeda ucapannya, "Nici terlahir karena--," Shelia memalingkan wajah, dia tak sanggup menuntaskan kata-katanya.
"Kau tidak usah khawatir, aku yakin Kakek akan mengerti situasi kita. Tenang saja." Richard tersenyum.
"Baiklah."
***
Siang harinya, sesuai rencana Richard membawa Nici juga Shelia ke rumah sang Kakek untuk di perkenalkan.
Perasaan Shelia benar-benar tak enak, dia takut Kakeknya Richard tidak mau menerima dirinya dan juga Nici, tangan Shelia berkeringat dingin. Namun, Richard lekas menggenggam tangan Shelia dia lantas berucap.
"Tidak usah takut, ada aku bersamamu." Ucapnya sambil tersenyum. Tanpa sadar Shelia pun mengangguk, di hatinya saat ini benar-benar mengandalkan Richard.
Mereka pun melangkah masuk ke dalam rumah sambil berpegangan tangan, sedang Nici duduk patuh di gendongan Richard.
"Bagus! Bagus! Kau benar-benar anak yang berbakti, Richard Nelson!" Ucap suara laki-laki yang terdengar sudah usia lanjut.
__ADS_1
Ketiganya pun langsung menoleh ke asal suara tersebut.
"Ka-kakek."