
Hamil... Hamil... Hamil...!!
Kata itu seolah menggema di telinga Shelia, membuat gadis bernetra coklat dan berkulit putih itu terdiam seketika.
'Aku hamil? Apa karena malam itu? Bagaimana bisa? Aku kira karena hanya melakukan itu sekali, aku tidak akan hamil.'
Shelia memejamkan mata, menekan segala perasaan yang bercampur aduk dalam dirinya.
"Shelia?!" Daren mengguncang bahu Shelia, pelan. Menyadarkan dia dari lamunannya.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" Tanya Daren terlihat prihatin.
Shelia menghela nafas berat, "apa lagi yang bisa aku lakukan Daren, aku hanya bisa membiarkan Anak ini tumbuh di rahimku, meski aku tidak tahu siapa yang meninggalkan benihnya padaku." Shelia tersenyum paksa.
"Aku tidak ingin membunuh Anak yang tidak bersalah ini." Tambah Shelia.
"Keputusanmu sudah benar, Shelia. Aku mendukungmu!" Daren tersenyum tulus.
Beberapa bulan berlalu, perut Shelia sudah mulai terlihat menonjol. Tuan Charlie dan Anna sudah tahu bahwa Shelia tengah hamil. Namun, mereka menghargai dan menghormati Shelia, mereka tidak bertanya apa pun, hanya Daren seorang yang tahu kisah hidup Shelia. Kini Shelia sengaja di pindahkan ke bagian pembayaran di cafe tersebut, dia menjadi seorang kasir agar dia tidak terlalu lelah. Melihat kondisi perutnya yang perlahan semakin membesar.
"Hey Nona cantik!" Ucap seorang Pria yang tiba-tiba datang dan bicara pada Shelia.
Shelia begitu enggan menoleh dia hanya menjawab dengan ketus, "apa kau tidak lihat aku sedang hamil, apa masih ingin menggodaku?" Shelia tetap fokus mengetik di keyboard komputernya.
"Tidak masalah, meskipun kau sedang hamil kau tetap wanita yang sangat cantik!" Pria itu semakin menggoda Shelia, membuat dia semakin jengah.
__ADS_1
"Dasar laki-laki--," ucap Shelia terputus kala dia melihat siapa yang datang dan menggodanya kali ini.
"Laki-laki apa?" Pria itu mengangkat sebelah alisnya.
"Daren!" Pekik Shelia dengan wajah sumbringah, "kenapa kamu bisa disini?"
"Sekarang aku pemilik Cafe ini!" Ucapnya dengan nada sombong, sembari melipat tangan di dada.
"Oh ya?!" Shelia memasang wajah tak percaya.
"Ekspresi wajah apa itu? Apa kau meremehkan ku?" Daren berwajah masam.
"Tidak..." Shelia menggeleng pelan, "hanya saja, ini bukan karena aku kan, Daren?" Shelia sudah dapat menebak, mengapa Daren mengambil alih usaha keluarganya di bidang kuliner, padahal Shelia tahu betul jika Daren tidak memiliki minat di bidang ini.
"Hey bodoh! Aku yang ingin memulainya, lagi pula aku sudah cukup lama berdiam diri dan menikmati kebebasan. Sekarang saatnya bekerja!" Dia meregangkan otot-ototnya sembari tersenyum.
Shelia, tak ingin ambil pusing. Dia mulai kerja kembali, begitu pun Daren, dia mulai menerapkan kinerja baru untuk para pekerja dan berbagai peraturan di terapkan sesuai visi dan misinya. Terkecuali, untuk Shelia. Daren seolah memberi Shelia pengecualian, itu menimbulkan rasa iri di hati para karyawan di Cafe ini.
"Kau lihat si Shelia itu, dia kerjanya gak enak cuma duduk seharian di sana, tapi mendapatkan gaji yang sama. Sedangkan kita, apa!?" Desas desus dan cibiran dari para karyawan lain mulai terdengar, membuat Shelia mulai tak nyaman mendengarnya, ada yang bilang bahwa dia ingin menjebak Daren dan membuatnya menikahi dan menerima anak dalam kandungannya. Ada pula yang bilang, jika Daren dan Shelia punya hubungan dan dia tengah hamil Anak Daren, hanya saja hubungan mereka ditentang oleh keluarga Daren. Banyak sekali gosip-gosip yang beredar di kalangan para pekerja.
Sebenarnya Shelia tidak masalah dengan reputasi buruk yang di dapatnya, dia bahkan tidak peduli sama sekali. Hanya saja, ini menyangkut nama baik Daren, dia harus memikirkan baik-baik cara membersihkan nama Daren dari segala permasalahan yang menyangkut dirinya, dia tidak ingin Daren mendapat masalah.
"Tapi kan dia memang sedang hamil, jadi gak boleh kerja terlalu berat." Ucap Karyawan wanita yang satunya lagi.
"Cih, hanya Anak haram yang tidak tahu asal-usulnya saja, kenapa mesti mendapat perlakuan istimewa." Ucapnya sembari memberi pandangan sinis. Shelia bukannya tak ingin menjawab, atau melawan perkataan mereka, tapi apa yang mereka katakan tidak sepenuhnya salah. Anak ini memang tidak tahu siapa Ayahnya, Shelia hanya bisa menangis dalam hati.
__ADS_1
"Kalian! Kurang kerjaan ya, kerjanya bergosip saja. Kalian mau saya laporkan ke Tuan Daren? Biar di pecat sekalian!" Bentak Anna yang tiba-tiba hadir di tengah-tengah mereka.
Membuat, kedua wanita penggosip itu berlalu sembari menggerutu.
"Cih, apa yang Tuan Daren sukai dari wanita penggoda seperti dia." Mendengar kata-kata dari salah satu wanita itu, membuat emosi Anna tersulut, dia sudah mengangkat tangan hendak memukul wanita itu, namun dengan segera Shelia menghentikannya.
"Anna jangan!" Shelia menggeleng pelan, "Sudahlah, biarkan mereka."
"Tapi, mulut mereka itu harus di ajari sopan santun Shelia, kalau tidak, mereka akan terus-terusan berbicara buruk tentang kamu." Ucap Anna dengan nada tinggi.
"Ucapan mereka tidak sepenuhnya salah, Anna. Sudah biarkan saja." Shelia melambaikan tangan tak perduli, Anna hanya berdecak kesal. Dia tidak suka dengan sikap Shelia yang selalu melarangnya menghajar mulut biang gosip para karyawan itu, Shelia juga melarang Anna untuk melaporkan semua kejadian itu pada Daren. Padahal bisa saja, Shelia mengadu dan membiarkan Daren menghukum bahkan memecat mereka tanpa gaji sedikit pun.
"Cih, kau terlalu baik. Antara baik dan bodoh itu harus lihat perbedaannya, Shelia. Kita harus membungkam mulut orang-orang tidak tau diri itu." Anna melipat tangan di dada dengan wajah memberengut kesal.
Shelia hanya tersenyum lembut, dia sangat senang memiliki teman seperti Anna yang menyayanginya dengan tulus. Bahkan dia menghormati Shelia, dengan tidak bertanya mengapa Shelia hamil dan siapa Ayah si bayi dalam kandungannya.
"Terima kasih Anna, cukup kamu yang peduli padaku. Bagiku, itu sudah lebih dari cukup." Shelia memluk Anna dari samping, menyandarkan kepala di pundak Ana.
Anna, menghela nafas berat, "sama-sama." Ucapnya masih dengan wajah cemberut.
"Sudah jangan marah, nanti cantiknya berkurang! Dan Daren gak mau lirik kamu." Goda Shelia, dia tahu jika Anna menaruh perasan khusus pada Daren.
"Apa yang kamu katakan, jelas-jelas Tuan Daren sukanya sama kamu." Ana menghindari tatapan Shelia, dengan melempar pandang ke arah lain.
"Kami hanya berteman, kamu tahu itu, dan akan selamanya seperti itu." Ucap Shelia menjelaskan.
__ADS_1
"Sudahlah!" Anna melambaikan tangan tak peduli.
"Aku yakin suatu hari nanti Daren akan melihat cintamu untuknya. Anna...." Gumam Shelia dalam hati sembari menatap punggung Anna yang perlahan menghilang.