
Pada akhirnya keinginan hatinya mengalahkan ego dalam diri Shelia dia pun melangkah keluar kantornya dengan segera, di tengah perjalanan dia bertemu dengan Daren yang beberapa minggu ini seakan menghindari bertemu Shelia.
"Daren!" Sapa Shelia, Daren pun yang tengah berbicara di meja kasir, lantas menoleh. Dia nampak menghindari tatapan Shelia, dia tersenyum tipis namun masih enggan menatap Shelia.
"Apa kabar?" Tanya Shelia canggung.
Daren menghela nafas lantas menjawab, "aku baik. Nici?" Tanyanya.
"Dia baik, dia kangen Papi katanya." Ucap Shelia menambahkan.
"Dia sudah bertemu dengan Ayah kandungnya sekarang, lama-lama juga akan lupa sama Papi nya." Jawab Daren seraya mengalihkan pandangan.
Shelia menghela nafas berat, "Daren, Nici masih tetap menganggap kamu Ayah pertama bagi dia. Kamu boleh benci sama aku, tapi jangan Nici. Aku permisi dulu." Shelia berlalu pergi meninggalkan Daren yang hanya diam membisu.
'Apa aku terlalu berlebihan? Tapi hatiku masih sakit rasanya. Aku tidak bisa menerima pernikahan Shelia dengan laki-laki itu.' gumam Daren dalam hati.
***
Sesampainya di depan gedung apartemen, Shelia lekas turun dari taksi dan berjalan menaiki undakan tangga menuju kediamannya.
Deg...Deg...!!
Jantungnya berpacu, entah mengapa dia begitu gugup hari ini, padahal dia setiap hari bertemu dengan Richard, tapi hari ini seolah berbeda dari biasanya. Shelia memperlambat langkahnya, dia berhenti di depan pintu yang masih tertutup rapat.
Terdengar suara Nici samar-samar dari dalam, dia entah meributkan apa pada Dady nya. Di tambah gelak tawa Richard yang seolah sengaja mempermainkan bocah kecil itu.
Shelia menjulurkan tangan hendak membuka pintu, namun pintu itu telah lebih dulu terbuka.
Ceklek...!!!
Nampak Richard berdiri di ambang pintu, tangan kirinya menjinjing kantong plastik hitam, dan ia mengenakan celemek pink bergambar Hello Kitty milik Shelia.
Shelia diam terpaku menatap Richard, pikirannya tak tentu arah, hingga Richard melambaikan tangan di depan wajahnya baru Shelia tersadar.
"Shelia, ada apa kenapa kamu melamun di depan pintu?" Tanyanya keheranan.
__ADS_1
"Emh... Gak ada apa-apa ko, aku masuk dulu." Shelia menyeruak hendak masuk namun ia malah menabrak tubuh Richard, karena tubuh tegap Richard menghalangi pintu Shelia hanya berakhir dalam dekapan Richard, karena tubuh kecilnya tak mampu mengalahkan tubuh laki-laki itu.
Deg...Deg...!!
Jantung Shelia kembali berpacu, panas dingin menjalar di sekujur tubuhnya. Wangi maskulin menyeruak di indra penciumannya.
"Kau sangat betah di pelukan ku ya sayang." Bisik Richard di telinga Shelia. Yang refleks membuat Ibu satu anak itu menjauhkan diri dengan wajah memerah seperti tomat.
"Apaan sih, kamu yang halangin jalan aku, awas aku mau masuk!" Shelia mendorong tubuh Richard ke samping, lantas masuk. Richard hanya terkikik geli melihat tingkah Shelia.
Dia pun lantas melanjutkan niat awalnya hendak membuang sampah ke luar.
Malam setelah makan malam yang terasa kaku bagi Shelia, dia kembali ke kamar dia duduk di tepi Ranjang, ketika dia mendengar suara langkah kaki Richard ia pun lekas berbaring dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, hanya bagian rambut yang nampak menyembul keluar.
Terdengar suara pintu tertutup, dan suara langkah pelan Richard, perlahan menjauh. Kemudian suara air menyala di kamar mandi, Shelia merasa sedikit lega. Berada satu ruangan dengan Richard membuat Shelia benar-benar terganggu.
"Sayang aku tahu kamu masih belum tidur, sudah jangan berpura-pura lagi!" Ucapan Richard membuat Shelia benar-benar terkejut, bagaimana dia bisa tahu kalau Shelia belum tidur apa dia punya mata tembus pandang.
Shelia membuka selimut lantas duduk, dia melirik Richard yang tengah menggosok kepalanya dengan handuk, dia tengah telanjang dada hanya tubuh bagian bawahnya yang ia tutup dengan handuk.
"Dasar mesum, pake baju sana!" teriak Shelia, sambil menutupi wajah dengan selimut.
"Kau sudah menodai mataku," Rutuk Shelia masih enggan menatap ke arah Richard.
"Benarkah? Apa aku perlu bertanggung jawab karena telah menodai pandanganmu?" tanya Richard dengan nada menggoda.
"Tentu saja!" jawab Shelia refleks.
"Oh... Dengan cara apa aku harus bertanggung jawab?" Richard lantas mendekatkan wajahnya pada Shelia, Cup... dia pun mendaratkan sebuah kecupan singkat di pipi istrinya itu, "apa seperti ini? Atau, kau mau di bagian yang lain?" Richard memandang bibir mungil Shelia yang berwarna merah muda itu.
"Dasar cabul!" Shelia mendorong Richard hingga dia jatuh terlentang di atas tempat tidur, sambil tertawa terbahak-bahak.
Shelia mematutkan wajahnya, karena Richard menertawainya. Sebal rasanya! Itu yang di rasakan Shelia saat ini.
Richard menghentikan tawanya, lantas bangun dan duduk, dia menatap Shelia dengan pandangan serius.
__ADS_1
"Shelia, aku bukannya tidak betah dan nyaman tinggal di rumah mu, tapi, aku sebagai suami dan Ayah punya kewajiban untuk memberikan mu tempat tinggal. Jadi... Mau kah kau tinggal di rumahku?" Tanyanya dengan hati-hati.
Shelia terdiam, ekspresi wajahnya masih datar seperti biasa.
"Hem...Baiklah." Jawabnya, membuat mata Richard membola seketika, dia tidak menyangka jawaban Shelia sesuai dengan harapannya.
"Baguslah, besok kita pindah!" serunya penuh semangat.
"Apa?! Mana bisa! Kita harus membereskan barang-barang dulu, tidak bisa secepat itu." Shelia berucap tak setuju.
"Kamu tidak perlu membereskan apa pun, biarkan Ken yang mengurusnya."
"Baiklah."
Richard beringsut hendak tidur di samping Shelia, namun dia mendapat teguran, "kamu mau apa?" tanya Shelia.
"Tidur." Jawab Richard dengan wajah polos.
"Jangan mencoba mencari kesempatan dalam kesempitan. Kembali ke sopa sana!" Shelia memukul kepala Richard dengan bantal.
"Aduh...Aduh... Ampun, sayang! Jangan pukul lagi, oke-oke aku pindah." Richard lekas turun dan berjalan menuju sopa sambil membawa bantal dan selimut dalam dekapannya.
"Huh, baru saja ingin mencoba tidur bersama dia sudah menyadarinya." gerutu Richard pelan.
Shelia tersenyum tipis, entah mengapa dia suka melihat Richard tak berdaya.
'Aku sudah menyetujui untuk tinggal bersamanya, apa tidak akan ada masalah? Mengapa aku sedikit merasa takut.'
Shelia memandang wajah Richard yang sudah tertidur lelap.
'Benarkah dia suamiku? Orang yang hanya sering aku lihat di berita ternyata adalah Ayah dari putra ku. Apa ini mimpi? Aku masih enggan percaya, aku takut ini hanya mimpi, aku takut mengecewakan Nici.'
Shelia turun perlahan dari ranjang, entah mengapa instingnya membawa dia mendekati Richard, dia berjongkok dengan pandangan tak lepas dari wajah Richard. Dengan tangan gemetar, perlahan dia menyentuh rambut Richard dengan lembut.
Cahaya kamar yang temaram, membuat rambut legam Richard berkilau diterpa cahaya lampu dari luar.
__ADS_1
"Shelia." Ucap Richard dengan suara serak dan pelan.
Deg...Deg...