
Seorang Pria tua berdiri menghadap kaca jendela, entah apa yang tengah ia lihat dan pandangi di luar sana. Hembusan angin nampak menggoyangkan pepohonan, menerbangkan daun-daun kering yang nampak berguguran di tanah, namun Pria tua itu tetap setia berdiri dengan tongkat kayu di tangannya.
Tuk...Tuk...Tuk...
Suara sepatu yang beradu pelan dengan lantai terdengar halus, itu mengartikan bahwa sang pemilik langkah tersebut sengaja mengatur langkahnya sedemikian pelan hingga hampir tak menimbulkan suara.
"Tutup pintunya! Jangan biarkan orang yang tidak berkepentingan menguping pembicaraan kita." Gumam si Pria tua, yang seolah tahu ada dua orang lagi di luar ruangan tersebut hendak menguping.
"Ba-baik Kek." Shelia menggigit bibir bawahnya dengan wajah tegang ia pun menutup pintu perlahan. Wajahnya pucat pasi, tatapan matanya setengah memohon pertolongan pada Richard, namun dia hanya bisa mengangkat bahu sembari mengepalkan tangan di udara untuk menyemangati Shelia, Nici pun melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Ayahnya itu.
"Semangat Mami! Mami pasti bisa!" Bisik Nici sembari menutupi gerak mulutnya dari samping, seolah berusaha meredam suaranya yang ia keluarkan dari bibir mungilnya.
Shelia membalas dua orang kesayangannya itu dengan senyuman meyakinkan! Entah mengapa dia begitu tegang, padahal hanya menghadapi Kakek mertua loh bukan hendak pergi ke medan perang. Haish... Sejujurnya dia sendiri tidak tahu, pasalnya baru ini kali pertama dia mendatangi Rumah mertua. Dulu saat dia tengah menjalin hubungan dengan Shawn dia tak pernah sekali pun di pertemukan dengan orang tua Shawn.
Selepas menutup pintu Shelia kembali menghadap Kakek Nelson memandang punggung yang setengah bungkuk itu.
"Kapan kau dan Richard bertemu?" tanya Kakek masih enggan berbalik.
__ADS_1
"Beberapa bulan yang lalu." Jawab Shelia.
"Bukan itu maksudku. Kapan kau dan Richard...Ehem... Membuat cucu untukku?" Kakek memperjelas ucapannya.
"Eh...Itu, saat itu aku bahkan tidak tahu kalau Richard yang bersamaku malam itu." Shelia berucap dengan nada canggung.
"Kenapa?!" Kakek berbalik dan melayangkan tatapan tajam pada Shelia.
"Aku di jebak oleh temanku dan berakhir tidur bersama Richard." Shelia sedikit berbohong tentang siapa Shawn, tapi itu semua demi kebaikan, pikir Shelia. Lagi pula untuk apa mengingat orang yang paling dia benci dan paling ingin Shelia lupakan seumur hidupnya.
"Apa kau mencintai Richard?" Pertanyaan ini seketika membuat bibir Shelia terkatup rapat. Kakek menaikan sebelah alisnya, lantas lanjut bertanya, "kenapa? Apa setelah berbulan-bulan menikah, kamu bahkan tidak memiliki perasaan apa pun terhadap cucu ku?" Kakek Nelson menekankan nada bicaranya.
"Bu-bukan begitu Kek, a-aku...aku--," Shelia berucap dengan tergagap-gagap.
"Aku apa hah? Aku tidak bisa membiarkan sebuah hubungan yang menurutku tidak memiliki masa depan, cucu ku masih muda, dia tampan, kaya. Meski dia sudah memiliki satu anak, dia masih bisa menikahi gadis muda di kota ini." Kakek mengangkat bahunya dengan enteng.
"Tidak! Tidak boleh, di-dia suamiku! Lagi pula dia mencintaiku, kami pun sudah memiliki satu anak." Ucap Shelia dengan bibir bergetar, sebenarnya apa yang di inginkan Kakek Nelson, mengapa dia terus mencecar Shelia dengan pertanyaan mengenai hatinya, apa dia bermaksud membuat Shelia pergi meninggalkan Nici bersama Richard.
__ADS_1
"Jika aku memiliki perasaan terhadap Richard, apa Kakek akan membiarkan kami tetap bersama?" Shelia memberanikan diri bertanya, seraya mengepalkan tangannya.
"Itu tergantung sikapmu kedepannya! Jika kau tulus terhadap cucu ku, aku tidak akan mengusik kehidupan kalian. Tapi, jika kau tidak benar-benar mencintainya lebih baik, kau tinggalkan saja dia, masih banyak wanita di luar sana yang menginginkan cucu ku. Dia sudah terlalu banyak menderita, jadi aku harap kau mengerti apa yang aku maksud."
"Aku mengerti Kek." Shelia menunduk dalam.
"Baiklah, kau boleh pergi."
Shelia berjalan keluar sembari menutup pintu, kehadirannya langsung di sambut antusias oleh Richard.
"Shelia apa yang Kakek katakan padamu? Apa dia menakutimu? Apa dia menyuruhmu meninggalkanku? Apa dia mengancamu? Katakan padaku, jangan diam saja?!" Richard memberondong Shelia dengan setumpuk pertanyaan yang satu pun bahkan belum ia jawab.
Shelia membalas pertanyaan Richard yang begitu banyak hanya dengan senyuman, dia meletakan jari telunjuknya di bibir Richard, "apa kau selalu cerewet seperti ini, suamiku?" Ucap Shelia dengan nada sedikit menggoda disertai senyuman paling cantik yang pernah Richard lihat.
Hah?! Richard nampak terkesiap, dia berdiri di tempat dengan wajah bengong. "Apa yang terjadi Shelia, kenapa kau?" Richard menghentikan pertanyaannya, karena Shelia sudah berlalu bersama Nici.
"Sayang tunggu! Katakan padaku dulu, apa yang Kakek bicarakan denganmu?!" Teriaknya, yang tak di gubris oleh Shelia.
__ADS_1