Anak Genius: Ayahku Konglomerat!

Anak Genius: Ayahku Konglomerat!
Bab 11 : Cerita Si Putri bodoh


__ADS_3

Asap hitam mengepul dari arah dapur, terlihat Richard berdiri di depan kompor dengan wajah menghitam. Suasana dapur nampak berantakan, makanan serta perabotan berserakan ada yang di bawah lantai ada juga yang di atas meja.


Uhuk...Uhuk...!!


"Nici sudah pulang?!" Ucapnya sambil menggaruk tengkuk yang tak gatal.


"Apa yang sedang Om lakukan? Apa ingin membakar rumahku?" Ucap Nici kesal.


"Emh... Maaf. Tadinya Om ingin menyiapkan makan siang untuk kamu, tapi...." Richard menghela nafas berat.


"Seharusnya, Om tidak perlu memasak untukku, aku bisa masak sendiri, lagi pula Mami selalu menyimpan makanan di kulkas, aku tinggal menghangatkannya saja." Nici menyimpan tas sekolahnya di sopa dan berjalan ke dapur. Dia pun mulai membersihkan meja, kompor dan menaruh perabotan di bak cuci piring. Nici pun lantas menghangatkan makanan untuknya makan siang bersama Richard.


"Ah begitu, Om gak liat makanan itu tadi. Berapa usiamu, Nici? Om lihat kamu sudah sangat mandiri."


"Bulan depan baru lima tahun." Ucap Nici sembari menuang sup ke mangkuk.


"Hati-hati itu panas! Sini biar Om saja." Richard mengambil alih pekerjaan Nici dan menyuruh nya duduk.


"Lima tahun? Tapi kamu sudah bisa mengerjakan pekerjaan rumah sendiri Nak, kamu hebat!" Richard nampak tak percaya.


"Itu karena aku sudah terbiasa. Ibuku, selalu bekerja tiap hari, aku tidak ingin menjadi bebannya." Jawab Nici.


Richard hanya manggut-manggut, dia sudah tidak punya kata-kata lagi untuk Nici. Dia terlalu pintar bahkan bisa di bilang Genius. Bila mengingat seusianya, mana mungkin anak sekecil ini bisa mengurus diri sendiri dan mengurus rumah.


'Mengapa timbul rasa sayang di hatiku untuk Nici, kepintaran dan keimutan wajahnya, membuat aku ingin mendekapnya. Perkataan yang ia katakan barusan membuat hatiku sakit, Shelia harus berjuang menghidupi Nici seorang diri, dan Nici...dia harus bisa hidup mandiri di usia se-dini ini. Jika saja dia benar-benar Anakku.' batin Richard.

__ADS_1


"Kenapa Om melamun?" Tanya Nici heran.


"Tidak, Om tidak papa. Lanjutkan makanmu, Om ingin ke kamar mandi dulu." Nici hanya mengangguk dan melanjutkan makannya.


'Hem... Apa Om Richard sudah mulai menyadari kemiripan di antara kita. Aku harus terus mencari tahu apa benar dia Ayahku atau bukan.'


Sore harinya, Nici tengah bermain di ruang tamu bersama Richard, dia seperti halnya anak-anak masih menyukai mainan seperti mobil-mobilan, Robot dan sebagainya.


Ceklek...!! Pintu pun terbuka.


"Nici! Mami pulang sayang!" Shelia datang sembari membawa paper bag di tangannya, ia pun lantas menaruhnya di atas meja.


"Mami bawa apa!" Nici mengintip isi dari paper bag itu.


"Emh... Ini, untuk... Dia." Shelia menunjuk Richard, "di rumah kita tidak ada baju laki-laki dewasa. Masa ia, dia harus pake baju Mami lagi." Shelia melipat tangan di dada.


"Wah, Om di beliin baju sama Mami. Kalau aku apa Mami?" Nici memasang wajah penuh semangat.


"Tentu saja Mami juga beliin buat kamu, ini!" Shelia membelikan baju bergambar panda untuk Nici dengan penutup kepala yang bertelinga panda pula, "ayo Mami pakai kan!"


Nici hanya berekspresi datar, dia pikir Maminya membelikan baju yang normal saja, mengapa dia selalu memperlakukannya seperti Bayi.


"Waw, Nici ku sangat lucu dan tampan." Shelia mencubit gemas pipi Nici, hingga Nici mengikuti arah gerakan tangan Shelia, "kalau gitu Mami mandi dulu ya."


Shelia hendak berlalu, namun perkataan Richard membuat langkahnya terjeda seketika, "Shelia terima kasih." Shelia hanya mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


Malam harinya, Shelia, Nici dan Richard tengah duduk di meja makan untuk menikmati makan malam mereka. Mereka terlihat seperti keluarga kecil, membuat hati Nici menghangat suasana seperti inilah yang selalu di-ingininya selama ini.


"Mami!" Panggil Nici, Shelia hanya menjawab dengan sedikit mengangkat dagu.


"Apa berpegangan tangan bisa menghasilkan anak?"


Brushhh... Uhuk...Uhuk...!! Shelia menyemburkan makanan di mulutnya, sedangkan Richard dia terbatuk-batuk karena tersedak makanan yang meluncur bebas di tenggorokannya.


"Apa yang kau katakan Nici? Jangan memikirkan hal yang diluar pemahaman mu. Kamu masih kecil." Shelia meninggikan suaranya.


Nici menunduk, "aku hanya ingin tahu, bagaimana Mami bisa punya aku, tanpa adanya Papi."


Deg...Deg...Deg...!!


Shelia terdiam seketika, pertanyaan Nici kali ini telah membuka luka lamanya. Shelia bangkit, tanpa menyelesaikan makan malamnya.


"Mami!" Panggil Nici, dia merasa bersalah dengan perkataan yang dia lontarkan. Nici tidak menyangka Maminya akan sangat tersinggung karena perkataannya.


Shelia duduk termenung di depan jendela kamarnya, matanya menatap kosong ke jalanan yang sepi. Ingatan yang berusaha ia lupakan dan kenangan pahit yang berusaha ia kubur dalam-dalam kini kembali menorehkan luka dalam hatinya. Shelia tahu, Nici tidak bermaksud menyakiti dan mengungkit masalalu nya yang sensitif, Nici bahkan tidak tahu apa saja yang Shelia alami hingga mendapatkan Nici dalam hidupnya.


Ceklek...!!


Nici masuk ke dalam kamar Shelia dengan langkah pelan, kepalanya menunduk ke bawah menatap lantai, "Mami." Lirihnya pelan, "maaf." gumamnya sembari menunduk.


Shelia menghela nafas berat, dia lantas meraih tangan Nici dan menciumnya, "kamu gak salah Nak, kamu gak perlu minta maaf. Nici benar, bagaimana Mami bisa punya Nici tanpa seorang Papi. Apa Nici ingin dengar cerita?" Nici mengangguk. Shelia mendudukkan Nici di pangkuannya lantas mulai bercerita.

__ADS_1


"Pada suatu hari, ada seorang putri yang bodoh! Dia begitu bodoh hingga meninggalkan Istana demi orang yang dia sayangi, dia bahkan tega menyakiti Raja dan Ratu yang begitu menyayanginya. Mereka kabur melalui jalanan di hutan, di tengah perjalanan mereka bertemu dengan srigala, temannya bilang jangan lari nanti dia mengejar dan kita akan tertangkap. Lebih baik, kamu tunggu disini aku akan mencari kayu untuk memukulnya, ingat kamu jangan lari. Si Putri pun diam dan menurutinya meski dia ketakutan. Taklama kemudian temannya itu pun datang dengan membawa sebatang kayu dan mengusir Srigala itu, sang Putri sangat senang dan amat berterima kasih pada temannya karena dia telah di lindungi. Mereka pun pergi menuju sebuah goa untuk bermalam, goa yang di temukan teman sang Putri saat mencari kayu pemukul untuk Srigala tadi. Putri pun masuk, lebih dulu, Dia bertanya, mengapa temannya tidak ikut masuk? Dia hanya bilang percayalah padaku. Putri mengangguk sambil tersenyum. Dia percaya saja pada perkataan temannya itu. Hingga dia melihat dengan mata nya sendiri ternyata, orang yang dia sayangi itu bukan orang baik, dia yang menyuruh Srigala itu memakannya dan sekarang Srigala itu kembali dengan satu Srigala lainnya, dan goa yang ia datangi saat ini adalah rumah srigala itu. Putri hanya bisa menangis ketika Srigala mulai menggigitnya, teman yang ia percaya malah tersenyum melihat sang putri menderita." Shelia mengakhiri ceritanya.


__ADS_2