Anak Genius: Ayahku Konglomerat!

Anak Genius: Ayahku Konglomerat!
Mendapatkan dan kehilangan


__ADS_3

"Oke! Mulai hari ini kita adalah teman!" Khanza tersenyum cerah, begitu pun Nici entah ada angin apa dia bisa tersenyum lucu dan menggemaskan seperti itu, sangat jarang terjadi.


Shelia ikut tersenyum pula melihat kedua bocah itu, Khanza menatap Shelia lantas bertanya, "Nyonya ini siapa?" Tanyanya sembari menutupi gerak mulut dengan telapak tangannya.


"Ini Mami ku." Ujar Nici memperkenalkan.


"Ah halo, saya Khanza. Maaf jika tadi saya tidak sopan!" Ujarnya sambil menunduk memberi hormat.


"Haha, sudah-sudah tidak papa. Oh ya, Khanza Aku sudah memberitahu keluargamu bahwa kamu masuk rumah sakit, tapi sampai sekarang mereka belum juga datang." Keluh Shelia.


"Mami," tegur Nici, dia melihat wajah Khanza yang nampak sedih.


Shelia menuntut jawaban dia penasaran mengapa Anaknya memberinya Isyarat dengan tatapannya. Ia pun memutuskan untuk pergi terlebih dahulu dari sana.


"Khanza, kamu istirahat dulu saja, Tante akan mengantar Nici istirahat juga di kamar sebelah." Ujar Shelia, Ia pergi sambil mendorong kursi roda yang Nici pakai.


"Ada apa sayang? Kenapa dengan keluarga Khanza?" Tanya Shelia keheranan, setelah mereka berada di ruang rawat Nici.


"Mamahnya Khanza tidak sayang dia, Kakaknya juga." Jawab Nici.


"Hah? Kenapa bisa begitu?" Tanya Shelia keheranan. Nici hanya mengedikkan bahunya tanda tak tahu.


"Tapi dia pernah bilang, kalau Mamahnya bukan Mamahnya." Ujar Nici.


"Mamahnya bukan Mamahnya, apa maksudnya?"


"Mungkin maksudnya, Mamahnya itu bukan Ibu kandungnya. Jadi dia tidak menyayanginya," celetuk Richard yang baru saja tiba.


"Hem, mungkin memang begitu, kasian dia," gumam Shelia.


"Shelia, penculikan ini tidak sesederhana yang kita duga," ujar Richard tiba-tiba. Membuat Shelia seketika menoleh pada Nici, anak itu nampak asik memakan buah di atas ranjangnya.

__ADS_1


"Ayo keluar," ajak Shelia.


"Ini perbuatannya," Shelia mengerutkan dahi tanda tak mengerti, "Martin Nelson, dia adalah pamanku, selama ini aku selalu membiarkan dia melakukan apa yang dia inginkan karena aku masih menganggapnya sebagai Pamanku. Tapi kali ini tidak, dia sudah berani menculik anakku." Richard mengepalkan tangannya dengan raut wajah penuh amarah.


"Aku mengerti apa yang kau rasakan, tapi jangan bertindak gegabah, aku tidak ingin terjadi apa pun padamu." Shelia menyentuh dada Richard berusaha menenangkannya. Baru kali ini Shelia melihat amarah yang yang begitu besar di mata Richard.


Selang beberapa hari, Nici dan Khanza sudah bisa pulang ke rumah, namun mereka belum bisa berangkat ke sekolah.


Shelia tengah berada di dapur dia memasak makan siang untuk putranya dan juga suaminya.


Huek...!! Tiba-tiba Shelia merasa mual karena mencium bau masakannya sendiri.


"Kenapa? Aku merasa mual?" Huek...!! Shelia kembali muntah di atas bak cuci piring, dia pun lekas mematikan api kompor dan menyuruh pelayan untuk melanjutkan memasak masakannya.


Shelia berbaring dengan posisi terlentang menatap langit-langit kamar sembari mengingat-ingat kapan terakhir dia mendapat tamu bulanannya. Seketika Shelia bangkit, dia menghampiri kalender kecil yang ada di meja rias, dia menghitung kapan terakhir kali Ia haid. Dia melebarkan matanya, sudah hampir bulan ke tiga dia tidak mendapat haid, sungguh dia tak menyadarinya sama sekali.


Shelia langsung menyambar tas dan berjalan pergi dengan langkah terburu-buru.


Tak berapa lam pun akhirnya namanya terpanggil juga, Shelia menghembuskan napas untuk mengurangi rasa tegang dalam hatinya. Dia pun duduk dan mengatakan apa yang Ia rasakan.


"Oh jadi begitu, kapan anda terakhir mendapatkan haid?" tanya Dokter wanita tersebut.


"Sekitar dua setengah bulan lalu," jawab Shelia, Dokter itu hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti. Lantas Dokter pun mulai memeriksa Shelia dari mulai denyut nadi dan lain sebagainya. Dokter pun menyuruhnya untuk menggunakan tes kehamilan, dan hasilnya positif.


"Selamat Nyonya! Anda sudah mengandung dua bulan," ucap Dokter tersebut.


"Terima kasih Dokter!" Shelia amat senang, dia berjalan keluar dengan senyum tak henti-hentinya mengembang di wajahnya, dia ingin memberi kejutan pada Richard saat dia pulang nanti malam.


'Aku hamil lagi, tapi kali ini rasanya berbeda. Aku sangat bahagia.'


Shelia duduk di depan kemudinya dengan wajah cerah. Tanpa dia sadari, sebuah mobil sedan berwarna hitam, telah mengintainya sejak dia keluar dari rumah sakit, dia sedikit pun tak menyadari karena dia terlalu bahagia dan tak menyadari keadaan sekitar.

__ADS_1


Shelia melajukan mobilnya jalanan tampak ramai, tak ada kemacetan karena ini jam kerja. Mobilnya berhenti sejenak karena lampu merah, Bruk...! Sebuah mobil menubruk bagian belakang mobil Shelia.


Tet...!! Shelia menekan klakson cukup lama dan panjang karena kesal. Dia pun melajukan kembali mobilnya, jalanan ke rumah nampak lenggang, Shelia berkendara sembari bersenandung riang. Namun, tiba-tiba dia sadar jika mobil hitam di belakangnya sedari tadi selalu mengikutinya di belakang.


"Apa mereka suruhan Richard? Tapi sepertinya bukan," gumam Shelia sembari sesekali memerhatikan mobil di belakangnya.


Deg...Deg...! Jantung Shelia berpacu dengan cepat tiba-tiba, seketika di menancap gas melajukan mobilnya sedikit lebih cepat. Mereka bukan orang suruhan Richard, jika Ya, Richard pasti mengatakan sebelumnya.


Shelia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia menikung dan berbelok seperti pembalap yang terlatih, namun mobil di belakang lebih cepat dari mobil Shelia.


Brak...!! Mobilnya oleng karena tertabrak dari belakang saat mobilnya dalam kecepatan tinggi. Mobil Shelia berputar, Shelia tak mampu mengendalikan mobilnya.


Brak...!! Prank...!! Suara benturan saat mobil menghantam pembatas jalan.


Hah...Hah...Hah...


Shelia mengatur napasnya, dadanya terasa sesak. Seketika darah mengucur dari pelipisnya. Perutnya terasa sakit dan keram.


Ouch!! Pekik Shelia, "to--long," ucapnya dengan suara lambat tangannya yang penuh dengan darah mengetuk-ngetuk jendela mobil. Dia melihat banyak orang yang mengelilingi mobilnya namun, telinganya terasa tuli, dia tak bisa mendengar apa yang mereka katakan.


"Richard...," gumam Shelia sebelum dia kehilangan kesadarannya.


Derap langkah kaki menggema di lorong rumah sakit, wajah Richard penuh dengan hawa membunuh sekaligus kecemasan yang berbaur menjadi satu. Tampak dia tengah bicara dengan Dokter meminta ijin untuk dapat melihat kondisi Shelia, namun Dokter tak mengijinkan karena Shelia masih dalam penanganan.


"Tuan, tolong tenanglah. Percayalah pada kami, kami akan melakukan yang terbaik." Richard mengangguk pasrah.


"Tolong, selamat kan Istriku bagaimana pun caranya. Apa pun yang kalian butuhkan aku akan memenuhinya," ujar Richard memelas.


"Tentu kami akan berusaha sangat keras. Tapi Tuan, mohon maaf anak dalam kandungan istri anda, tidak bisa di selamatkan." Deg... Mata Richard melebar.


Anak?

__ADS_1


__ADS_2