
Ken mengikuti Richard berjalan ke Roptop, entah sejak kapan Richard mulai merokok, Ken yakin Shelia tak tahu tentang hal itu, dia nampak tegang wajahnya nampak kusut, raut tenang yang biasa ia tunjukan kini nampak samar.
"Dia sudah tahu jika kita mengincarnya, dasar licik," geram Richard dengan nada menahan amarah.
"Anak buahku tidak dapat menemukannya dimana pun, tapi kau tenang saja sepandai-pandainya dia bersembunyi pasti dia akan memberikan kita celah." ujar Ken meyakinkan.
"Kau benar, tidak selamanya dia bisa bersembunyi, dosa yang dia lakukan sudah terlalu banyak, dia tak akan mampu lari kemana pun."
"Terus cari dia, aku ingin dia ditemukan tidak peduli dalam keadaan apa pun, hidup atau mati!" Richard membuang puntung Rokok ke lantai dan menginjaknya.
Selepas itu dia kembali ke ruang rawat Shelia, wanita itu nampak tengah membaca sebuah buku di tangannya, Richard duduk di samping Shelia lantas mengecup sebelah pipinya.
Umh, Shelia memekik sembari menutup hidung dengan punggung tangannya, "kau bau Rokok, apa kau merokok?"
"Hanya sedikit." Jawab Richard.
Shelia menutup buku yang tengah di bacanya lantas menaruhnya di meja kecil samping ranjang, "sejak kapan kamu merokok?"
"Sayang ini hanya kebiasaan saja kalau aku sedang banyak pikiran."
"Jangan biarkan kebiasaan seperti itu terus berlanjut, tidak baik bagi kesehatanmu."
"Oke sayang, aku akan berusaha mengendalikannya." Richard mengecup pucuk kepala Shelia.
"Oh ya Richard, Dokter bilang aku sudah boleh pulang, aku sudah bosan berada di sini. Aku ingin makan masakan rumah," keluh Shelia.
"Kau yakin Dokter bilang begitu? Atau ini hanya akal-akalanmu saja." Richard membawa Shelia dalam dekapannya.
"Tentu saja kata Dokter, kalau kau tidak percaya tanyakan saja sendiri," jawab Shelia dengan wajah mematut.
Ha...Ha...Ha, "baiklah jangan cemberut begitu, kita pulang hari ini, apa yang ingin kamu makan? Biar aku suruh pelayan menyiapkannya."
"Apa saja boleh, asal makanan dari rumah."
__ADS_1
Selepas mengurus beberapa prosedur keluar rumah sakit Shelia dan Richard pun pulang dengan Ken sebagai Driver seperti biasa.
"Kenapa kamu diam saja?" tanya Richard saat dia melihat Shelia tampak melamun sembari melempar pandang keluar jendela.
"Tidak papa aku hanya merindukan Ayah dan Ibuku," Shelia berujar tanpa menoleh.
"Maafkan aku, aku tidak memberitahu mereka kalau kamu kecelakaan aku takut mereka khawatir," Richard mengusap kepala Shelia dengan wajah tampak merasa bersalah.
"Tidak papa, kau melakukan hal yang benar."
Shelia kembali diam hingga mereka sampai di rumah. Kedatangannya di sambut oleh para pelayan dengan sangat gembira, "selamat datang kembali Nyonya! Bagaimana keadaan anda?" tanya kepala pelayan.
"Sudah jauh lebih baik sekarang," ujar Shelia sembari duduk di sopa.
"Syukurlah, kami tak dapat membayangkan jika sesuatu terjadi padamu, bagaimana dengan Tuan," ujarnya sembari mengelap sudut matanya.
"Sudahlah jangan menangis, aku sudah di sini aku baik-baik saja. Lagi pula Tuan kalian ini tampan juga kaya, tidak sulit baginya menemukan wanita lain kalau aku mati."
Semua pelayan langsung terdiam, mereka melirik satu sama lain, "akhirnya kau mengakui kalau aku kaya dan tampan," Richard merangkul pinggang Shelia, "tapi aku tidak ingin wanita lain, aku hanya ingin kamu selamanya hanya kamu, aku tidak akan pernah mengijinkan kamu pergi meski itu kematian sekali pun, jika kau tetap pergi, maka aku akan ikut bersamamu." Jawab Ricard tanpa keraguan sedikit pun.
"Kau masih bisa bercanda soal kematian, kau baru saja aku tarik dari sana." Richard beranjak dari tempat duduk dengan wajah datar.
"Astaga dia marah."
"Nyonya, tentu saja Tuan akan marah, anda tidak tahu betapa khawatirnya beliau saat anda terbaring di ranjang rumah sakit dalam keadaan tak sadarkan diri. Dia sangat mencintai anda, saya belum pernah melihat Tuan dalam keadaan seperti itu, terakhir aku melihatnya saat orang tua Tuan meninggal."
Deg..., 'jadi itu yang membuatnya marah, aku dengan seenaknya membuat kematian sebagai lelucon, mungkin kematian orang tuanya masih membekas dalam ingatannya.'
Shelia memeluk Richard dari belakang, pria itu tengah berdiri menghadap jendela dengan asap mengepul di sekitarnya.
"Kau merokok lagi," tegur Shelia.
"Kau keberatan?" Richard balik bertanya.
__ADS_1
"Sebetulnya aku keberatan, tapi kau bisa merokok untuk hari ini saja," jawab Shelia, "maafkan aku, perkataanku telah membuat hatimu terluka."
"Aku hanya bercanda tadi, jangan terlalu di anggap serius. Aku tahu orang tuamu meninggal karena kecelakaan juga, aku faham perasaanmu, aku minta maaf." Shelia berucap dengan sungguh-sungguh.
"Sudahlah tidak papa, mari kita makan," ajak Richard sembari melepaskan tangan Shelia yang melingkar di pinggangnya.
***
Minggu berlalu, Bulan pun berganti Richard masih terus mencari keberadaan Martin yang hilang bak di telan bumi.
Syut...Dor!.
Suara tembakan menggema di sebuah gang sempit di pinggiran kota.
Kecipak...Kecipak...!
Suara langkah kaki menginjak air hujan yang tergenang terdengar jelas di tempat gelap nan sepi itu.
Seorang Pria menggeret tubuhnya mundur hingga punggungnya menyentuh dinding gang buntu tersebut, napasnya memburu perlahan tubuhnya merosot hingga ia duduk di lantai basah tersebut, wajahnya nampak samar terlihat karena pantulan cahaya lampu jalanan sekitar.
"Akhirnya aku menemukanmu, Martin Nelson." Suaranya setengah berbisik namun tetap jelas karena tempat itu amat sepi.
"A-apa begitu caramu memanggil paman mu sendiri Richard," suaranya mendesis pelan, karena merasai kakinya yang terluka akibat peluru yang menembus betisnya.
"Hmph... Paman? Siapa? Kamu?" Richard tertawa jahat.
"Setelah semua yang kau lakukan, kita tidak punya hubungan apa pun lagi. Kini kau hanya Martin saja, namamu sudah di hapus dari daftar keluarga Nelson!" Bhug... Richard mendaratkan satu pukulan tepat di pipi sebelah kiri Martin.
"Pukulan itu untuk Ayahku yang telah kau habisi," Bugh... Pukulan kedua Ia layangkan ke pipi sebelah kanan Martin, "yang ini untuk Ibuku, aku ingi kau membayar semua yang telah kau lakukan padanya, dia menganggapmu seperti adiknya sendiri, tapi serigala licik sepertimu hanya tahu mengigit saja." Richard terus melayangkan pukulan-pukulan membabi buta pada wajah Martin, hingga wajahnya penuh luka lebam bercampur darah.
Richard melayangkan tatapan penuh amarah, api berkobar di matanya tangannya terus mengepal erat, ingin sekali Ia menghajar Martin lagi hingga menemui ajalnya namun suara dalam pikirannya menghentikan niat Richard, namun tatapannya seolah akan menelan Martin hidup-hidup
Cih... Martin meludah, dia tak ingin berpura-pura lagi sekarang, Hahaha, Martin tertawa mengejek, "dasar anak tak tau diri! Kau lihat saja suatu hari kau akan menyesal telah melakukan ini terhadapku." ujarnya sembari mengelap sudut bibirnya yang berdarah.
__ADS_1
Richard menginjak dada Martin yang masih terkapar penuh luka. Napasnya memburu menahan amarah, dia terus berjuang agar tak sampai membunuh pamannya itu. Jika dia sampai membunuhnya, Richard tak ada bedanya dengan Iblis berwujud manusia.