
"Kenapa bisa dia?"
Kenapa...Kenapa...Kenapa
Kata ini yang terus berputar di kepala Shelia. Haruskah dia senang karena dia tidak hamil anak laki-laki tua itu? Tapi, bagaimana bisa jadi Richard? Shelia bahkan tidak melihat Richard malam itu.
Tok...Tok...!!
"Shelia, apa kita bisa bicara sebentar? Aku ingin menjelaskan sesuatu padamu." Ucap Richard dari luar kamar.
Shelia, menghela nafas dalam, lantas memutuskan untuk membuka pintu. "Hem, masuklah! Kita bicara di dalam, tidak baik jika Nici mendengar apa yang akan kita bicarakan." Ucap Shelia tanpa memandang lawan bicaranya, dia langsung saja pergi lebih dulu dan duduk di sopa di dekat jendela kamarnya. Richard mengikutinya masuk ke dalam kamar Shelia, dia lantas menutup pintu dan beranjak duduk di tepi ranjang.
Hening...Richard tak berani memulai pembicaraan mereka, begitu pun Shelia, dia diam saja sembari memandang ke luar jendela.
"Shelia...." Ucap Richard sembari menunduk, "maaf, malam itu aku."
"Kenapa bisa kamu? Jelas-jelas malam itu aku tidak melihat kamu ada di tempat itu."
flash back.
Suasana di kantor tampak ramai, seperti biasa Richard mengurus dokumen di meja kerja nya. Dia baru saja menjabat sebagai Presdir baru di angkat oleh Kakeknya sendiri.
Tok...Tok...!!
Suara ketukan pintu membuat Richard seketika menoleh, ternyata pamannya lah yang datang.
"Paman, mari masuk!" Ucap Richard ramah. Dia adalah Martin Nilsson, Adik kandung dari Ayah Richard yang sudah tiada.
"Wah selamat untuk kamu Richard, akhirnya kamu bisa mendapatkan kepercayaan Kakek. Proyek sebesar ini kamu bisa meyelesaikannya dengan baik walau banyak rintangan." Richard hanya tersenyum sebagai jawaban.
"Malam ini ayo kita rayakan di club!" Ajaknya.
"Tapi paman, aku masih banyak kerjaan yang menumpuk. Aku gak mungkin bisa pergi." jawab Richard tak enak hati.
"Sudahlah, serahkan pekerjaan ini pada Kevin. Ayo pergi!" Martin menggandeng Richard dengan paksa. Tak-ada kecurigaan sedikit pun di hati Richard pada Martin, karena dia paman kandungnya sendiri. Dia sudah seperti pengganti Ayah baginya, namun tidak begitu bagi Martin, kecemburuan dalam hatinya sudah berakar dalam.
__ADS_1
Sesampainya di club, Martin dan Richard pergi ke ruangan VIP, Richard di suguhi minuman, walau enggan dia pun tetap meminumnya, untuk menghargai niat baik pamannya.
Martin tersenyum licik. Beberapa saat kemudian Richard mulai merasakan tidak nyaman di tubuhnya, dia merasa kepanasan di seluruh tubuhnya, keringat mengucur deras, matanya mulai tak fokus pikirannya melayang jauh.
"Richard, kamu tidak papa?" Martin memastikan.
"A-aku, ti-tidak papa Paman, a-aku hanya. Hosh...Hosh...." Napas Richard semakin cepat, dia mulai merasa gelisah, dia mengipas-ngipas diri dengan telapak tangannya.
"Pa-paman, aku akan keluar sebentar mencari udara segar!" Richard bangkit dan berjalan keluar dengan langkah sempoyongan.
"Sebenarnya ada apa dalam minuman itu? Aku bukan orang yang lemah dan tidak kuat minum. Martin pasti sudah memasukan sesuatu dalam minuman itu. Aku harus membasuh diri di toilet." Richard berjalan sambil berpegangan pada dinding, karena matanya terasa buram, dia tidak bisa melihat dengan jelas.
Dia menemukan sebuah kamar yang sedikit terbuka, dia pikir itu adalah toilet.
Krietttt...!! Ia pun masuk ke dalam dan menguncinya.
Deg...Deg...!!
Jantungnya berdegup cepat kala melihat seorang gadis tergeletak di atas ranjang.
Richard menelan salivanya, pikirannya mulai tak karuan, hasratnya bangkit dengan cepat. Tubuh bagian bawahnya merespon keinginan dalam hatinya. Richard berjalan mendekat, matanya tidak bisa melihat dengan jelas seperti apa raut wajah gadis itu, hanya aroma parfum yang lembut yang dapat ia cium.
Tanpa pikir panjang, ia menanggalkan seluruh pakaian nya, dan naik ke atas ranjang. Ia pun melancarkan aksinya, hingga merasa puas.
Keesokan paginya, Richard tersadar. Dia melhat tubuhnya telanjang bulat dan seorang gadis tidur di sampingnya dengan keadaan sama sepertinya, punggung gadis itu penuh dengan tanda merah.
'Ya Tuhan, apa yang telah aku lakukan?'
Richard mengacak rambut frustasi, dia bangkit dan memakai pakaiannya kembali. Dia takut, kalau gadis ini meminta pertanggung jawabannya. Apa yang akan di pikirkan Kakek nya nanti.
Setelah selesai berpakaian Richard pun segera pergi dari kamar itu, meninggalkan Shelia yang masih dalam keadaan tak sadarkan diri.
flash back of.
Richard mengakhiri ceritanya, "Shelia, terserah kamu mau menghukum ku dengan cara apa, aku tahu aku salah. Tapi aku juga korban, aku tidak sadar telah melakukan itu padamu, aku bukannya tidak merasa bersalah. Selama ini aku selalu dihantui perasan bersalah, tapi sekarang aku ingin bertanggung jawab padamu dan Nici."
__ADS_1
Shelia menghela nafas berat, "sudahlah kamu tidak perlu bertanggung jawab, aku tahu itu hanya kecelakaan jadi kamu juga gak salah. Lagi pula, jika tidak ada malam itu, Nici juga tidak akan lahir ke dunia ini. Atau mungkin aku sudah berhasil di jual pada laki-laki tua itu." Shelia tersenyum paksa.
Richard tersenyum, hatinya merasa lega. Ternyata Shelia tidak marah sama sekali. "Shelia aku tetap ingin bertanggung jawab, Nici adalah darah dagingku. Biarkan aku menebus kesalahanku dulu." Richard berucap penuh permohonan.
Shelia diam... Dia berpikir sejenak, selama ini Nici selalu bertanya siapa dan dimana Ayahnya, dan sekarang Ayahnya berada di sini. Shelia tidak ingin merampas kebahagiaan Nici.
"Baiklah." Jawab Shelia singkat.
Richard tersenyum senang, "hari ini biar aku yang masak, kamu cukup duduk sambil tersenyum." Richard hendak berlalu, namun perkataan Shelia menghentikan langkahnya sejenak.
"Richard, kamu tidak perlu mengurusku. Kamu hanyalah Ayahnya Nici." Tegas Shelia.
Richard tersenyum, "aku tahu, tapi kamu adalah Ibunya Nici, aku harus bertanggung jawab juga padamu, kan."
"Tidak perlu, kamu cukup perhatikan Nici saja." Shelia bangkit dan berlalu lebih dulu.
"Haish... Sepertinya ini tidak akan mudah." Richard menghela nafas berat. Richard mengikuti langkah Shelia ke luar kamar.
"Mami, Om!" Nici berlari dan memeluk Richard dan Shelia.
"Panggil aku Daddy mulai sekarang." Richard mengangkat Nici dan menggendongnya.
Nici melirik Shelia, seolah meminta ijin lewat tatapan matanya, Shelia mengangguk sambil tersenyum. Nici langsung merangkul leher Richard dan memeluknya dengan erat, tanpa berucap sepatah kata pun.
Richard mengusap lembut punggung Nici.
'Ternyata begini rasanya memiliki keluarga.' Richard tersenyum.
"Daddy, sekarang apa rencana mu untuk mendapatkan Mami?" Bisik Nici.
"Kamu lihat saja nanti, Mami kamu pasti mau nerima Daddy." balas Richard dengan percaya diri, "ayo kita masak." Richard membawa Nici ke dapur dan mendudukkan nya di meja.
"Emangnya Daddy bisa masak? Waktu itu juga--mph." Seketika Richard membungkam mulut Nici dengan telapak tangannya. Karena takut Shelia mengetahuinya, mau di taruh dimana muka Richard kalau Shelia sampai tahu dia hampir membakar rumahnya waktu itu.
"Waktu itu kenapa?" tanya Shelia.
__ADS_1