Anak Genius: Ayahku Konglomerat!

Anak Genius: Ayahku Konglomerat!
Bab 14 : Si kecil Genius


__ADS_3

Richard menatap Shelia dengan pandangan kagum. Dia terus menatapnya tanpa bisa berpaling, seolah waktu terhenti di hadapannya, suara-suara bagai lenyap begitu saja. Hanya Shelia yang terlihat di mata Richard saat ini.


'Shelia entah mengapa aku mulai menyukaimu. Sikap acuh mu semakin membuat aku tidak bisa menghilangkan rasa ketertarikan ku terhadapmu. Kau terlalu indah untuk aku hilangkan, aku orang yang sulit jatuh cinta selama ini. Namun, entah mengapa sosok mu membuat aku terbuai akan pesona mu. Rasanya bibir ku ingin mengungkapkan segalanya saat ini juga, tapi, aku takut kamu menolakku.' Batin Richard.


"Ehem!" Pekikan Nici membuat Richard segera tersadar. Dia lekas memalingkan wajah ke arah lain, takut Shelia menyadari apa yang baru saja terjadi.


"Om, ngapain liatin Mami sampai segitunya?" Bisik Nici sembari menutupi gerak mulut dengan telapak tangannya.


Richard diam seribu bahasa dia bingung harus menjawab apa pada bocah kecil di hadapannya ini.


Dia pun memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Nici.


"Mami, kenapa Papi udah lama gak ke sini?!" Tanya Nici sengaja mengeraskan suaranya, ujung matanya menilik ekspresi Richard.


"Papi Daren lagi sibuk, dia lagi ngurus pembukaan cabang Restoran baru di luar kota." Jawab Shelia sembari menyantap makanan di hadapannya.


"Oh, kapan baliknya?" Tanya Nici lagi.


"Hem, Mami juga gak tau, nanti deh Mami telpon Papi Daren." Jawab Shelia santai. Dia tidak menyadari ada orang yang tengah terbakar api cemburu di rungan itu.


Richard mengakhiri makan malamnya tanpa menghabiskan makanannya, dia tidak tahan ketika mendengar Shelia memanggil pria lain seperti itu. Dia bangkit, membuat Shelia seketika menatap keheranan.


"Kenapa? Makanannya gak enak?" Tanya Shelia.


"Enak ko, aku hanya merasa sudah cukup kenyang." Jawab Richard kaku.


"Oh!" Jawab Shelia datar, dia kembali acuh dan menghabiskan makanannya.


Richard keluar dari rumah dan naik ke atas roop top apartemen. Dia merasakan angin malam berhembus menampar kulitnya, ia memejamkan mata sekilas, menekan rasa cemburu yang timbul di hatinya.


"Sialan, kenapa aku jadi kaya gini?" Richard mengacak rambutnya frustasi.

__ADS_1


"Aku harus mendapatkan Shelia dan Nici, aku terlanjur menyayangi dia. Tidak peduli Nici anak siapa, aku atau orang lain, aku tidak peduli. Aku akan merawat dan membesarkan dia seperti putra ku sendiri. Terlebih, aku punya firasat. Kalau gadis pada malam itu, adalah benar Shelia." Ucap Richard.


Setelah hatinya cukup tenang, Richard kembali turun dan masuk ke dalam rumah.


Ceklek...!!


Richard memasuki rumah, suara pertama yang ia dengar adalah suara tawa Shelia, yang begitu renyah. Dia tengah menonton acara komedi di televisi, Nici bocah itu nampaknya sudah pergi ke kamar untuk mengerjakan PR.


Richard menutup pintu perlahan agar Shelia tidak menyadari kehadirannya. Richard berdiri sambil memerhatikan punggung Shelia yang terlihat bergetar karena tawanya.


'Shelia, jika benar wanita pada malam itu adalah kamu, apa yang harus aku katakan? Minta maaf dulu, atau aku bilang aku pun juga korban, tapi aku senang orang itu adalah kamu.' Richard bergumam dalam hati.


Suara dering ponselnya, membuat Richard terkejut setengah mati. Dia lekas mengangkat telponnya karena takut Shelia menyadari keberadaannya.


"Halo!?" Ucap Richard pelan setengah berbisik, dia takut Shelia mendengar suaranya.


"Presdir, saya sudah mendapatkan rekaman Cctv di bar itu. Saya sudah mengirimkannya ke alamat Email pribadi Presdir." Ucap Kevin.


"Oke! Aku akan cek sekarang!" Richard langsung mematikan sambungan telpon secara sepihak. Dia tidak sabar ingin melihat siapa sebenarnya wanita pada malam itu.


"Nici, Om boleh pinjem komputer kamu gak?"


Tanya Richard pada Nici yang tengah mngerjakan PR di meja belajar.


"Boleh Om, pake aja." Jawab Nici.


"Makasih Nici." Richard lekas menyalakan komputer tersebut dan memasukan alamat Email-nya. Benar saja, sebuah Email telah masuk, dia lekas mengarahkan mouse dan mulai memutar video tersebut.


Deg...Deg...!! Perasaan Richard tak karuan, kala Video tersebut mulai bermain. Dia tak ingin melewatkan sedikitpun tayangan di Video tersebut.


Seorang gadis berbaju merah merah muda nampak terkulai lemas di bopong oleh dua orang pria di samping kiri dan kanan wanita itu, dia di bawa ke dalam kamar nomor 301. Taklama setelah mereka memasukan gadis itu ke kamar tersebut mereka pun lantas pergi.

__ADS_1


"Ini dia!" Richard menyipitkan mata menilik tajam ke arah layar komputer. Tampak seorang Pria ber jas hitam dengan sempoyongan masuk ke dalam kamar tempat gadis itu di masukan tadi, "itu benar aku, tapi wajah gadis itu tidak nampak, siapa dia sebenarnya?" gumam Richard pelan.


"Siapa lagi kalau bukan Mami!" Nici tiba-tiba menyahut.


Richard menoleh ke samping, ternyata Nici pun ikut menonton sedari tadi.


"Kamu ngapain? Jangan liat!" Richard menghalangi mata Nici dengan telapak tangannya. Namun, Nici menyingkirkan tangan Richard, dia tak menghiraukan kata-kata pria itu.


"Apa Om tidak lihat, dari bentuk tubuh dan punggungnya jelas-jelas itu Mami. Dan lihat, gaya rambutnya, sama dengan Mami bukan!" Tunjuk Nici.


"Nak, bentuk tubuh dan gaya rambut tidak bisa membuktikan secara spesifik dia orang yang kamu curigai atau bukan." Terang Richard.


"Memangnya kenapa Om curiga sama Mami?" Nici melayangkan tatapan penuh tanya.


"Gak ko, Om hanya berpikir mungkin Mami mu orang yang Om kenal dulu." Richard berdalih.


"Katanya gak pernah ketemu, tapi sekarang bilang pernah kenal." Cibir Nici sembari mendoerkan bibirnya.


"Om kan cuma bilang, mungkin. Bukannya pernah." Richard membela diri. Nici menjulurkan lidah meledek Richad sembari berlalu.


"Kamu ngeledek aku ya, hah. Sini kamu!" Richard bangkit dan menangkap Nici, membaringkannya di atas ranjang dan menggelitiknya.


Haha...Haha...Haha...Haha...!!!!


"Geli Om, geli haha!" Rengek Nici sambil tak henti-hentinya tertawa, sambil berguling-guling. Dia berusaha melepaskan diri dari cengkraman Richard.


"Haha rasakan ini, berani-beraninya kamu ngeledekin Om." Richard semakin terus menggelitiki Nici di bagian perut juga kakinya.


"Ampun Om! Ampun!" Teriak Nici, sambil mengatur napas yang sudah ngos-ngosan akibat kelelahan. Richard terkekeh sambil melepaskan tangannya dari tubuh Nici. Dia mengusap kepala Nici lembut.


Aww...!!! Pekik Nici, "Om kalau mau minta rambut untuk tes DNA bilang dong, sakit tau!" Keluh Nici sambil cemberut.

__ADS_1


"Eh darimana kamu tahu, Om mau melakukan tes DNA?" Tanya Richard bingung, padahal dia tidak mengatakan apapun.


"Tau lah! Karena laki-laki yang terakhir masuk itu Om, jadi kemungkinan besar telah terjadi sesuatu antara Om dan wanita itu. Om curiga gadis yang ada di video itu adalah Mami, kan? Dan Om curiga kalau aku adalah anak Om, benar begitu? Jadi Om memutuskan untuk melakukan tes DNA terhadap, aku!" Nici menunjuk dirinya sendiri degan jari jempolnya, lalu melipat tangan di dada.


__ADS_2