Anak Genius: Ayahku Konglomerat!

Anak Genius: Ayahku Konglomerat!
Bab 6 : Daren Wilson


__ADS_3

Masih segar di ingatan, dan sangat sulit untuk di lupakan oleh Shelia. Jika dia tidak bertemu Daren kala itu mungkin saat ini dia sudah menjadi gelandangan, bahkan lebih buruknya lagi, mungkin dia telah mengakhiri hidupnya sendiri kala itu.


Uh...!!


Shelia melenguh, merasakan tubuhnya bak remuk redam, dia menggeliat perlahan mencoba untuk bangun. Dia lantas membuka mata dan mendapati dirinya terbaring dalam ruangan bernuansa rose gold. Dia pun duduk perlahan, namun dia merasa aneh pada tubuh bagian bawahnya yang terasa perih. Shelia menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, dia terperangah kala melihat tubuhnya tak tertutup sehelai kain-pun. Di bawah seprai yang ia tiduri terdapat bercak darah.


"Jadi semalam itu bukan mimpi? A--aku sudah kehilangan harta yang paling berharga dalam hidupku." Shelia memejamkan mata, masih terlihat jelas dalam bayangannya senyum dan tawa jahat Shawn tadi malam.


"Siapa yang telah meniduri ku? Apa laki-laki tua itu? Atau orang lain, sungguh aku tidak bisa mengingatnya." Shelia memukul-mukul kepalanya pelan.


Siapa dan Siapa? Kata itu yang terus berputar di kepalanya.


"Shawn, sialan, bajingan, berengsek! Aku ingin membunuhmu, aku sudah mencintai dan mempercayai kamu dengan setulus hati, tapi apa yang kau lakukan?!" Shelia menggertakkan gigi sembari mengepalkan tangan. Air mata mulai meleleh dari kedua sudut matanya, bagaimana dia akan menghadapi orang tuanya? Bagaimana jika orang tuanya tahu, kalau Shawn adalah Pria berengsek yang telah menipu dan memperdayai nya, akan kah mereka memaafkan kesalahan yang Shelia buat, atau mereka justru merasa puas akan apa yang dia dapatkan karena kebodohan nya sendiri.


"Ibu, Ayah. hiks...!" Shelia terisak lirih


Rasa sakit dan penyesalan, berbaur menjadi satu dalam hati Shelia. Dadanya terasa sesak, pun dengan nafasnya yang tak beraturan. Shelia beranjak ke kamar mandi, dia menyalakan shower dan mengguyur dirinya di sana, berharap segala rasa sakit dan penderitaan yang di alaminya mengalir pergi bersama air itu. Tapi nyatanya semua itu tidak lah mungkin terjadi.


Selepas membersihkan diri, Shelia keluar dari tempat itu dengan langkah gontai. Dia tidak peduli, dengan pandangan orang-orang yang terlihat berbisik-bisik tentang dirinya.


Shelia berjalan menyusuri jalanan, dia berjalan tak tentu arah, dia hanya mengikuti arah kakinya melangkah. Hingga dia berhenti di sebuah jembatan layang, dia berdiri di sana sembari menatap mobil-mobil besar mau-pun kecil berlalu lalang di bawah jembatan tersebut.


Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup. 'Shelia, akhiri saja hidupmu. Tidak ada gunanya lagi kau hidup, Shawn laki-laki yang paling kau cintai tega menjual mu pada laki-laki Tua itu, orang tua mu juga pasti tak menginginkan kamu lagi, karena kamu sudah mengecewakan mereka.' Ucap suara dalam kepalanya.


Shelia memejamkan mata sembari berpegangan pada pembatas pagar jembatan.


Tiba-tiba seseorang menarik tangannya, hingga membuat Shelia hampir hilang keseimbangan dan terjatuh dalam pelukan laki-laki itu.


"Hey Nona, apa kau bodoh! Apa kau pikir mati itu enak, bayangkan jika tubuhmu jatuh kebawah dan menghantam jalanan beraspal, lalu terlindas truk. Mending kalau mati, kalau cacat bagaimana?" Shelia hanya melongo, mendengar cerocosan laki-laki itu.


"Nona, dengar ya. Meski di dunia ini kamu mengalami penderitaan besar, hadapi dengan keberanian dan kesabaran. Jangan sekali-kali putus harapan dan berakhir bunuh diri, karena itu hanya akan membuat orang yang membuat kamu menderita tertawa puas! Pikirkan orang yang menyayangi kamu." Tambahnya lagi.

__ADS_1


'Benar yang dia katakan, menyerah dengan keadaan hanya akan membuat laki-laki berengsek itu tertawa bahagia.' Batin Selia membenarkan.


Selia tersenyum, "Kamu benar Tuan, terima kasih sudah membuat aku sadar. Bahwa hidup itu bukan hanya satu jalan, masih ada jalan lain yang bisa di pilih, jika kita punya keberanian."


"Syukurlah!" Laki-laki itu bernafas lega, "oh ya Nona mau pergi kemana? Biar saya antar." ucap Pria itu bertanya sekaligus menawarkan bantuan.


"Tidak usah, aku akan pulang sendiri saja. Lagi pula saat ini aku sedang ingin jalan-jalan dulu." Tolak Shelia sembari menunduk.


"Kebetulan kalau begitu, mari aku temani kamu jalan-jalan!" Ucapnya penuh semangat.


"Eh...!" Pria itu menarik tangan Shelia dan menyuruhnya masuk ke dalam mobilnya. Shelia pun menurutinya dan duduk di kursi depan.


Shelia melirik Pria itu yang mulai melajukan mobilnya, 'Shelia apa lagi yang kamu takutkan? Kamu sudah berbeda sekarang, lagi pula pria ini terlihat baik.'


"Nona siapa namamu?" Ujarnya buka suara.


"Shelia Jenner!" jawabnya singkat.


"Oh aku Daren Wilson! Kamu panggil saja aku Daren." Ucapnya sembari tersenyum.


***


Pukul 20:00 PM. Daren mengantarkan Shelia ke rumah tempat Shelia dan Shawn tinggal.


Shelia menghela nafas berat, dia menaiki undakan tangga menuju apertemen kecil tempanya tinggal. Lama Shelia berdiri di depan pintu, sungguh dia tidak siap jika harus bertemu laki-laki berengsek itu untuk sekarang. Shelia mengepalkan tangan, mengumpulkan keberanian dalam dirinya.


Ceklek...!!


Dia membuka pintu, suara pertama yang dia dengar adalah. Suara dua orang yang tengah bercinta.


"Sialan!" geramnya.

__ADS_1


Suara yang sangat mengganggu Indra pendengaran, ingin rasanya Shelia menyiram kedua orang laknat itu dengan seember air selokan, agar mereka tau betapa kotornya mereka. Satu kata untuk mereka, menjijikan!


Shelia lekas mengemas barang di kamarnya, dan pergi dari rumah orang terkutuk itu. Ia menuruni undakan tangga dengan langkah gontai, sembari menggeret koper berisi pakaian dan barang-barang pribadinya.


Hupt...!! Shelia mengehela nafas dalam. Dia berjalan tanpa melihat kanan kiri.


"Ehem...! Seperti dugaanku kamu akan keluar dengan keadaan seperti ini." Suara seseorang yang familiar membuat Shelia seketika menoleh ke asal suara itu.


"Daren! Kamu masih ada disini?"


Ternyata itu adalah Daren, yang masih berada di tempat yang sama saat Shelia masuk ke dalam rumah.


"Masuk!" perintahnya.


Shelia mengikuti perintah Daren tanpa ada penolakan. Dia duduk kembali di posisi semula, dengan wajah frustasi.


"Menangislah, kalau kamu ingin menangis!" Daren menepuk pundaknya memberikan sandaran untuk Shelia.


Mendengar kata-kata Daren, membuat air mata Shelia seketika berhamburan ke wajahnya. Dia menyandarkan kepala ke pundak Daren. Lama Shelia menangis, hingga dia merasa sedikit lega, rasa sesak yang menumpuk dalam dada kini terasa sedikit lega.


"Ma--maaf." Ucap Shelia dengan suara serak. Dia duduk kembali ke posisinya semula.


"Gak papa, santai saja! Sekarang kita kemana?" Tanyanya.


Shelia menggeleng pelan, "Aku gak tau, aku gak punya rumah juga gak punya pekerjaan." Shelia menunduk dalam.


Menyesal sudah, dia pergi dari rumah demi laki-laki berengsek itu.


"Ya sudah, kamu tinggal di rumah ku saja. Lagi pula aku tinggal sendiri."


Shelia melempar pandang curiga pada pria di hadapannya itu.

__ADS_1


"Tenang saja, aku bukan pria berengsek seperti yang di atas sana." Tunjuk Daren ke apartemen tempat tinggal Shelia dulu. "Tapi, terserah kamu kalau mau percaya, bagus. Kalau tidak ya, sudah." Dia mengangkat bahu seperti tak peduli.


"Baiklah, aku percaya! Terima kasih, Daren!"


__ADS_2