Anak Genius: Ayahku Konglomerat!

Anak Genius: Ayahku Konglomerat!
Bab 9 : Tuan Richard


__ADS_3

"Terima kasih Om, baringkan saja di situ!" Ucap Nici pada seorang laki-laki yang membantunya memapah pria dari gang tadi.


"Nak, kenapa paman kamu sampai mendapat luka seperti ini?" Tanya sang laki-laki penasaran.


"Aku juga gak tahu Om." Nici menggeleng pelan sembari mengusap air mata palsu dari pipinya.


"Hem, ya sudah, dia harus di bawa ke dokter luka di tangannya sepertinya cukup dalam." Pria itu pun lantas pergi.


Ceklek...!!


"Nici, kamu ngomong sama siapa Nak?" Shelia keluar dari kamar. Matanya membola, kala melihat seorang pria asing terbaring di sopa miliknya, tangannya bersimbah darah, luka lebam menghiasi wajah tampannya.


"Nici, siapa dia?" Shelia yang panik repleks menjauhkan Nici dari orang tak di kenal itu.


"Aku juga gak tahu Mami, dia terluka di gang dekat mini market, karena kasihan aku menolongnya." Ucap Nici jujur.


"Astaga Nici, bagaimana kalau dia orang jahat? Mami mau dia pergi sekarang juga, kenapa kamu gak bilang dulu sama Mami main bawa orang gitu aja." Shelia memarahi Nici, dia kesal kenapa Anaknya asal membawa orang dari jalanan begitu saja tanpa bertanya dulu.


"Tapi dia terluka Mami. Bukankah Mami yang bilang, kita tidak boleh membiarkan orang kesusahan di depan kita?!" Jleb...! Kata-kata yang selalu ia ucapkan pada anaknya itu, kini berbalik padanya sendiri.


"Tapi Nici, kita gak kenal dia, bagaimana kalau dia seorang buronan, atau penculik? Mami takut terjadi apa-apa padamu Nak."


"Mami tenang saja, aku sudah bukan bayi lagi. Aku sudah besar, aku bisa menjaga diri." Shelia mendesah nafas berat, dia tetap masih belum bisa menang berdebat dengan anak kecil ini, dia selalu punya jawaban untuk setiap perkataannya.


Atas permintaan Nici, Shelia terpaksa memanggil dokter untuk merawat pria itu. Pria itu mendapat luka yang cukup dalam di bagain lengan kanannya, dokter menjahit dan mengobati luka nya. Pria ini pingsan karena terlalu kehabisan banyak darah.


"Nyonya Shelia, siapa pria ini? Saya belum pernah melihatnya?" Tanya dokter wanita itu sedikit penasaran.


"Di--dia kerabat jauh saya!" Jawab Shelia. Dia terpaksa berbohong, karena Nici bilang sebelum Pria itu pingsan dia sempat mengatakan jangan beritahu siapa-pun tentang keberadaannya.


'Sepertinya identitas pria ini tidak biasa. Aku harus lebih berhati-hati.' Gumam Shelia dalam hati.


Selepas dokter pergi, Shelia memasak bubur untuk pria itu makan, jika nanti dia bangun. Terlihat Nici terus saja duduk sambil memandangi wajah pria itu, entah apa yang dia lihat di wajah pria itu.


"Nici, jangan terus menatapnya, itu tidak sopan!" Tegur Shelia pelan, sembari menata makanan di meja.

__ADS_1


"Mami, apa Mami tidak merasa ada yang aneh?" Tanya Nici buka suara.


"Aneh? Aneh apa nya?" Shelia mengernyitkan dahi.


"Tidakkah Mami merasa kami sedikit mirip?" Tanya Nici membuat Shelia tertegun, dia lantas mendekat dan mengusap lembut kepala Nici.


"Nak, banyak orang yang mirip di dunia ini! Jangan terlalu di anggap serius." Shelia tahu maksud dari kata-kata Nici, dan sepertinya inilah alasan terbesar Nici menolong pria ini, dia berpikir bahwa mungkin pria ini adalah Ayahnya.


Shelia kembali ke meja makan, dia berusaha bersikap biasa, Shelia melirik Nici dari sudut matanya. Anak itu masih setia menunggu pria itu sadar.


Shelia menghela nafas dalam, dia bukannya tidak kasihan pada Nici, tapi apa yang bisa dia lakukan? Apa dia harus menikah dengan Daren? Tapi, bagaimana dengan Anna?


"Mami, dia sadar! Dia sadar!" Nada suara Nici yang cukup tinggi membuat Shelia sadar dar lamunannya.


Uh...!! Pria itu melenguh pelan, dia tampak memegangi kepalanya, sembari meringis. Dia lantas membuka mata dan menelaah sekitar.


"Kamu." Gumamnya parau, perkataannya ia tunjukan pada Nici.


"Anakku yang telah menolong kamu Tuan! Luka mu cukup dalam jangan terlalu banyak bergerak." Shelia mengingatkan, tanpa berpindah dari posisinya.


"Terima kasih, Nak. Siapa nama mu?" Tanyanya dengan suara serak.


'Hah ada apa dengan anak ini? Tidak biasanya dia ingin di panggil dengan nama itu oleh orang lain. Tapi pada pria ini.' Shelia menggeleng pelan.


Shelia membawa semangkuk bubur di atas nampan, dan menyodorkannya pada pria itu.


"Ini makanlah."


Pria itu berusaha meraih nampan tersebut, namun perkataan Nici membuat ia menghentikan niatnya, "Mami, bagaimana Om ini bisa makan sendiri? Lihat tangannya tidak bisa bergerak."


Haish... Shelia menghela nafas berat, dia lantas menggeret kursi dan duduk di samping sopa tempat pria itu berbaring.


"Nona, biar saya makan sendiri saja." Tolaknya canggung.


"Tidak papa Anakku benar, kamu masih sakit biar aku menyuapi mu." Shelia menyendok bubur dan menyodorkannya ke mulut pria itu.

__ADS_1


"Terima kasih banyak, Nona dan Anak Nona sudah mau menyelamatkan dan menampung saya di rumah ini. Oh-ya, saya Richard, kalau Nona?" Tanyanya.


"Saya Shelia dan ini anak saya Nicholas!" Nici tersenyum manis.


"Hay anak manis, makasih ya kamu dah tolong Om. Kalau kamu gak ada, Om pasti sudah...." Richard menghela nafas berat.


"Habiskan dulu makanannya nanti bisa ceritakan pelan-pelan." Ucap Shelia sembari menyendok kembali bubur dari mangkuk dan menyodorkannya pada Richard.


Richard menatap wajah Shelia, dia merasa pernah melihat Shelia tapi entah dimana.


"Nona, apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


"Tidak!" Jawab Shelia datar.


"Oh, mungkin saya salah orang." Ucapnya sembari menunduk.


Setelah selesai menyuapi bubur pada Richard, Shelia memberinya obat, yang telah dokter berikan tadi.


"Tuan Richard, disini hanya ada dua kamar. Tuan tidak keberatan kan, kalau tidur di sopa?" Shelia bertanya dengan nada canggung.


"Mami, biarkan Om Richard tidur denganku saja. Lagi pula tempat tidurku cukup luas, untuk dua orang." Nici mengajukan diri.


"Tapi--," Shelia memberi isyarat dengan tatapan mata pada Nici, namun anak itu tak menghiraukannya.


"Nici, biar Om tidur di sini saja!" Ujar Richard merasa tak enak hati.


"Tidak, Om sedang sakit! Kalau Om tidur di ruang tamu nanti Om masuk angin lagi." Jawab Nici. Shelia terdiam, apa yang Nici katakan memang ada benarnya juga.


"Ya sudah! Tapi, kalau ada apa-apa kamu langsung teriak." Shelia mengingatkan, setengah memberi peringatan pada Richard.


"Tenang saja Nona, aku bukan orang jahat. Aku tidak akan mencelakai atau sampai menyakiti orang yang telah menolong ku." Ucapnya berusaha meyakinkan.


"Baguslah!" Shelia beranjak ke kamarnya sendiri.


Tinggallah Nici dan Richard berdua di ruangan itu.

__ADS_1


"Kenapa kau menatapku begitu Nak?" tanyanya penasaran melihat tatapan aneh yang Nici layangkan.


"Apa kau pernah bertemu Ibu ku? Apa kau mengenalnya?" Nici memberondong Richard dengan pertanyaan yang sedari awal ingin dia tanyakan.


__ADS_2