Anak Genius: Ayahku Konglomerat!

Anak Genius: Ayahku Konglomerat!
Bab 35 : Kakek Nelson!


__ADS_3

"Bagus! Bagus sekali, dasar anak sialan!" Ucap Kakek dari ujung tangga, ia turun dengan perlahan sambil memakai tongkat.


"Ka-ke bagaimana kabarmu?" Tanya Richard dengan senyum canggung.


"Apa kabar kepalamu hah?!" Dhuk...!! Kakek memukul betis Richard dengan tongkat yang ia pakai untuk membantunya berjalan.


Shelia meringis pun dengan Nici, dia nampak mengkerut takut di pelukan Richard.


"Richard sebaiknya aku dan Nici kembali pulang." Gumam Shelia dengan wajah sedikit takut, melihat betapa marahnya Kakek nya Richard.


"Tidak!" Tegas Richard. "Kakek perkenalkan ini Shelia istriku dan ini Nicholas Anakku." Ucap Richard mengabaikan betisnya yang sedikit berdenyut karena pukulan sang Kakek.


Kakek Nelson berbalik membelakangi Richard seraya bergumam, "Anak sialan! Kau sudah tidak memandang aku sebagai orang tua mu kah? Bagaimana bisa kau menikah tanpa sepengetahuan ku."


"Maaf Kakek, aku tidak bermaksud begitu, aku--," perkataan Richard seketika di potong oleh Kakek Nelson.


"Dan kau punya anak sebesar ini," Kakek menepuk dahinya.


"Emh... Itu karena sebuah kesalahan." Jawab Richard.


Kakek Nelson kembali berbalik menatap Richard, "tapi apa kau yakin dia anak mu?" Tanyanya masih dengan nada tak percaya.


"Aku yakin dia putra ku, apa Kakek tidak lihat wajah kami benar-benar mirip, iya kan Nici." Richard meminta pendapat putranya, Nici hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Hem...Jika di lihat baik-baik memang terlihat mirip denganmu. Tapi... Tetap saja aku tidak terima!" Kakek Nelson meninggikan intonasi suaranya. Ia menghentakkan tongkat yang ia bawa, ke lantai hinga menimbulkan suara. Dhukkk...!!!

__ADS_1


"Kakek! Meski kau tak setuju dengan hubungan kami, aku tetap akan bersama mereka. Tidak peduli Kakek menerima atau tidak." Richard mengeratkan pelukannya pada Nici sambil menggenggam tangan Shelia.


Shelia hanya bisa diam, sungguh Pria yang menikahinya ini sangat bertanggung jawab dia rela bertengkar dengan Kakek yang ibaratnya Ayah bagi dia. Rasa kagum Shelia terhadap Richard kian membesar, Richard telah membuat satu tempat di hati Shelia.


"Richard jangan bertengkar dengan Kakek," ucap Shelia pelan, seraya menenangkan Richard yang nampak tegang.


"Hari ini aku datang ke sini, untuk memperkenalkan istri dan anakku padamu Kek, bukan untuk meminta persetujuan mu, terserah kau mau menerima mereka atau tidak, tapi... jangan pernah usik mereka, atau aku tidak akan diam saja!" Ucap Richard penuh penekanan.


"Hey anak bodoh! Kau mengancam ku?! Siapa juga yang ingin mengusik mereka. Aku hanya tidak terima kau menikah secara diam-diam, dan mengapa kau baru membawa mereka sekarang." Kakek menghela nafas berat seraya mendudukkan bokongnya di sopa.


"Eh... Jadi Kakek tidak marah karena aku menikahi Shelia, tapi marah karena aku menikah diam-diam." Tanya Richard memastikan.


"Tentu saja! Kau pikir apa? Aku bukan orang yang tanpa perasaan! Hey Nak! Kemari lah." Kakek melambaikan tangan pada Nici.


Richard menurunkan Nici dari pangkuannya, "pergilah Nak, dia Kakek mu." Richard mengusap kepala Nici lembut. Nici mengangguk lantas berjalan menghampiri Kakek buyutnya, dia pun masuk ke pelukan sang Kakek.


"Enam tahun Kek!" Jawab Nici.


"Enam tahun Ya, bagus-bagus! Apa kau ingin tinggal dengan Kakek? Kakek akan memberikan mainan yang banyak untukmu, mainan apa yang kau suka?"


Belum sempat Nici menjawab Richard sudah berucap lebih dulu, "tidak bisa Kek, dia anakku dia akan tinggal bersama ku dan Shelia."


"Kau punya istri kan? Buat saja anak lagi." Ucapnya dengan wajah datar.


Shelia membulat kan matanya, bagaimana bisa Kakek Nelson berkata begitu, apa lagi di depan anak kecil sungguh tidak bisa di percaya.

__ADS_1


"Tidak se-mudah itu membuat anak, aku saja belum bisa menyentuhnya walau kami sudah menikah." Gumam Richard pelan yang terlihat hanya gerak mulutnya saja.


Aww...Richard mengaduh ketika Shelia mencubit pinggangnya, "kenapa sayang?" Richard tersenyum canggung.


"Jangan ngomong sembarangan di depan Kakek." Ancam Shelia, dia malu sekali gus takut entah apa yang akan terjadi jika Kakek nya Richard tahu mereka belum pernah tidur bersama walau telah beberapa bulan menikah.


"Hey kalian jangan bisik-bisik begitu! Boleh tidak kalau Nici tinggal dengan Kakek?!" tanyanya lagi, karena dia belum mendapat jawaban yang ia inginkan.


"Maaf Kakek, di sini tidak cukup aman. Aku tidak ingin mengambil resiko, aku takut Martin mencelakai mereka. Jadi Nici dan Shelia akan tinggal di rumah ku!" Jawab Richard tegas.


"Hiks... Kau benar-benar kejam pada Kakek tua ini. Bahkan untuk bermain dengan cucu pun tidak bisa, haish...." Kakek Nelson menghela nafas berat.


"Kakek! Jangan sedih, aku pasti akan sering datang untuk menemui Kakek, benarkan Daddy?!" ucap Nici.


"Tentu saja sayang!" Jawab Richard seraya tersenyum.


"Hah...baiklah, aku tidak bisa berbuat apa-apa." ucapnya disertai helaan nafas berat.


"Shelia! Aku ingin bicara empat mata denganmu!" Kakek Nelson bangkit dan berjalan lebih dulu.


Shelia hanya bisa mengangguk, tanpa bisa menolak.


"Tenang saja, aku ada di sini untukmu!" Richard tersenyum lembut.


Dengan langkah gugup dan jantung tak henti-hentinya berdegup cepat, Shelia berjalan mengikuti jejak sang Kakek.

__ADS_1


'Apa sebenarnya yang ingin Kakek katakan?'


__ADS_2