Anak Genius: Ayahku Konglomerat!

Anak Genius: Ayahku Konglomerat!
Kembali bersatu


__ADS_3

Richard merangkul pinggang Shelia, lantas berkata, "Tuan dialah Istri yang aku ceritakan padamu," ucap Richard sembari mengecup kepala Shelia.


"Istri? Kalian sudah menikah? Tapi bukankah kau bersama laki-laki brengsek itu, bagaimana kau bisa menikah dengan Tuan Richard?" berbagai pertanyaan seketika terlontar keluar dari mulut Tuan Jenner.


"Ceritanya panjang nanti kami akan ceritakan segalanya," Richard tersenyum.


"Jadi kau tidak bersama dia, syukurlah." Tuan Jenner menghela napas lega.


"Pah Maafkan aku, Aku sungguh menyesal tidak mendengarkan perkataan mu dulu dan malah pergi demi dia," ucap Shelia dengan suara bergetar, "sungguh aku sangat menyesal," Shelia terisak lirih, air matanya tak mampu Ia bendung. Dengan instingnya Richard langsung menyandarkan Shelia dalam dekapannya.


"Kami sudah memaafkan mu sejak lama Nak, kami selalu menantikan mu pulang." Tuan Jenner merentangkan tangan menanti orang terkasihnya lari kedalam pelukannya.


Tanpa bas-basi lagi Shelia berlari dan menghambur dalam pelukan sang Ayah, rasa rindu yang lama tertahan kini tumpah sudah. Mereka saling melepas rindu dalam dekapan satu sama lain hingga cukup lama. Namun suara anak kecil yang tiba-tiba hadir di tengah-tengah mereka membuat mereka teralihkan.


"Mami, Daddy!" sapanya.


Semua orang seketika menoleh padanya, anak itu menghampiri Richard dan Richard langsung mengangkat dan menggendongnya,

__ADS_1


"perkenalkan dia putra kami, Nicholas." Nici tersenyum dan melambaikan tangan.


"Nici katakan halo pada Kakek dan Nenek mu." Perintah Richard dan Nici pun melakukan apa yang mereka katakan.


"Dia cucu kami?!" tanya Nyonya Jenner tak percaya.


"Iya Mah, dia Nici anak aku dan Richard." Shelia mengiakan.


"Ya Tuhan, kau sudah besar. Kau sangat lucu dan tampan." Nyonya Jenner memasang wajah kagum.


"Astaga suamiku kita punya cucu." Nyonya Jenner berjongkok di hadapan Nici, dan bocah kecil itu langsung mendaratkan kecupan kecil di pipi sang Nenek.


"Ah kau sangat menggemaskan!" Pekik Nyonya Jenner.


"Ayo cium Kakek juga." Tuan Jenner pun menyodorkan pipinya pada Nici, yang langsung mendapatkan kecupan pula. Mereka tampak antusias bertemu dengan Nici, suasana rumah yang semula sepi sepeninggalan Shelia, kini rumah itu kembali menghangat setelah kedatangan keluarga kecilnya.


"Kau lihat sayang, mereka tampak begitu bahagia." Richard memeluk Shelia dari belakang.

__ADS_1


"Iya, ini semua berkat kamu dan juga Nici, terima kasih suamiku."


"Sama-sama istriku," jawab Richard disertai kecupan lembut.


Mereka berbincang-bincang hingga hampir tengah malam, Shelia dan Richard di suruh menginap beberapa hari, mereka melarangnya kembali terutama Nici, bocah kecil itu telah memikat semua orang di rumah itu.


****


Beberapa hari kemudian, Shelia berpamitan untuk pulang, meski pada awalnya mereka tak mengijinkannya pergi. Namun, pada akhirnya mereka mengalah karena pekerjaan Richard dan juga Shelia.


"Shelia sering-seringlah berkunjung kemari, jujur saja Mamah masih tak rela kalian pergi." Mata Nyonya Jenner menganak sungai.


Shelia merangkul sang Mamah, "Mah jangan sedih, jika kami ada waktu kami akan kembali kemari secepat mungkin." Shelia mengusap punggung sang Mamah.


"Shelia, tidak kah kau ingin mengambil alih perusahaan kita, Papah sudah terlalu tua untuk menjalankan perusahaan." bujuk sang Ayah.


"Shelia pikirkan dulu ya Pah, untuk sekarang Shelia masih bekerja di tempat lain jadi masih belum bisa memutuskan, dan lagi Shelia harus membicarakannya dengan Richard." Bukan apa Shelia tak langsung menerima tawaran sang Ayah, jika dia menerimanya otomatis Shelia harus tinggal beda negara dengan Richard dan itulah yang paling sulit untuk di jalankan.

__ADS_1


__ADS_2