Anak Genius: Ayahku Konglomerat!

Anak Genius: Ayahku Konglomerat!
Menjenguk Anna


__ADS_3

"Dasar gak tau di untung, mau di tolongin juga," gumam Nici kesal.


Khanza berbalik dan menatap Nici dengan tatapan kesal, "Aku gak pernah minta kamu tolongin Ko. Sebaiknya kamu pergi jauh-jauh jangan dekati aku lagi," ucap Khanza setengah berteriak.


Hmph... Nici menggerutu kesal sembari berlalu meninggalkan Khanza.


Nici berdiri di luar gerbang dengan wajah memberengut.


"Kenapa si om mata panda lama benget sih," gerutunya.


Tak lama kemudian, Ken pun datang dan Nici pun pergi walau dalam hatinya dia masih saja memikirkan Khanza.


***


Di tempat lain. Shelia tengah berjibaku dengan pekerjaannya yang menumpuk, selain itu pikirannya juga melebar kemana-mana dia memikirkan Anna, sudah beberapa minggu lamanya Anna tak sekali pun menghubunginya setelah kepergian Daren. Shelia pernah mencoba menghubunginya, namun dia tak pernah menjawab.


"Sepertinya aku harus menemuinya," gumam Shelia. Lagi pula dia tidak bisa fokus pada apa yang dia kerjakan lebih baik dia pergi mencari Anna.


Sesampainya di apartemen Anna, Shelia menekan Bel dan menunggu beberapa saat, hingga Bel untuk kedua kalinya ia tekan.


Ceklek...


Sang pemilik rumah pun membuka pintu. Nampak lah wajah Anna yang kurus dan pucat.


"Anna kamu kenapa?" Shelia tampak terkejut.


"Se-Shelia! Ngapain kamu ke sini?" Anna hendak kembali menutup pintu, dia sepertinya begitu enggan untuk di kunjungi. Namun, dengan cepat Shelia menahan pintu yang hendak Anna tutup dengan tangannya.


"Kenapa kamu gak bisa di hubungi? Tubuh kamu sangat kurus, apa kamu sakit Anna?" tanya Shelia penuh ke khawatiran.


"Aku baik-baik saja, sebaiknya kamu pulang." Anna hendak kembali menutup pintu.


"Kau bohong! Lihat dirimu, katakan padaku ada apa? Apa ini karena kepergian Daren?"


"Itu bukan urusan mu." Ucap Anna ketus.


"Apa bukan urusanku? Aku temanmu Anna, apa kau sudah tak menganggap ku lagi? Baik kalau begitu!" Shelia pergi dengan penuh kemarahan.


Anna hanya memandang kepergian Shelia dengan wajah sendu.


'Maaf Shelia, aku hanya belum siap untuk mengatakannya.'

__ADS_1


Shelia berjalan keluar apartemen dengan wajah kesal seraya menggerutu.


"Ada apa dengan Anna, kenapa dia tiba-tiba jadi menyebalkan. Dia bahkan sudah tak menganggap ku temannya lagi." Shelia melipat tangan di dada dengan wajah kesal. Dia turun menggunakan lift.


'Tapi, ini tidak benar! Aku harus kembali dan memaksa Anna mengatakan segalanya."


Shelia kembali menekan tombol menuju lantai atas.


Tring...! pintu lift pun terbuka. Dengan segera Shelia berjalan kembali ke kamar Anna.


Shelia melihat kamar Anna sedikit terbuka dia pun lantas masuk tanpa mengetuk pintu, alangkah terkejutnya Shelia melihat Anna telah terbaring tak sadarkan diri di lantai.


"Anna! Kamu kenapa?" Dengan cepat Shelia menghampiri Anna dan menepuk-nepuk pipi Anna mencoba menyadarkannya.


"Anna bangunlah, ada apa dengan kamu?" Shelia mengambil ponsel dan menghubungi dokter pribadi keluarga Nilsson.


Setelah Anna di periksa dia pun sadar, perlahan matanya mengerjap ia pun memegangi kepalanya, nampaknya ia merasakan pening di kepalanya.


"Kau sudah sadar." Shelia menatap tajam Anna seraya melipat tangan di dada.


"Shelia, kenapa kamu masih di sini?" Anna memalingkan wajah, tak ingin memandang wajah Shelia.


Shelia kembali bertanya, "siapa Ayah nya?"


Anna menunduk, masih enggan menjawab.


Shelia duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangan Anna.


"Kau ingat, dulu aku juga hamil Nici tanpa Ayah. Bahkan aku tidak tahu siapa yang meninggalkan benihnya di rahimku," Shelia tersenyum lemah, "Anna kau adalah teman ku, orang yang mendampingiku dalam keadaan paling tersulit dalam hidupku." Anna terisak lirih, dan dia pun memeluk Shelia.


"Menangis lah, aku akan ada di sini," Shelia mengusap punggung Anna lembut.


Anna melepas pelukannya, lantas mengusap air mata dari pipinya, "maafkan aku Shelia, aku sudah menyakiti mu dengan perkataan ku tadi. Aku hanya belum siap menceritakannya."


"Tidak apa, kalau kau belum siap. Hanya saja jangan menjauhkan dirimu dari ku." Anna mengangguk sambil tersenyum lemah.


"Kau sangat kurus, apa kau tidak makan secara teratur? Kau mau makan apa, biar aku buatkan?"


"Aku tidak mau, akhir-akhir ini perutku menolak semua makanan yang masuk. Aku selalu mual dan muntah-muntah."


Anna menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.

__ADS_1


"Tapi kalau kau tidak makan, bagaimana keadaan anakmu nanti, dia butuh asupan gizi. Jika kau tidak makan kau akan lemas dan sakit-sakitan, lihat wajahmu bahkan terlihat pucat."


"Ayolah, kau mau apa akan aku buatkan?" Shelia memaksa.


"Kalau begitu, apa saja boleh," ucap Anna pasrah.


Shelia mengangguk lantas pergi ke dapur dia mencari bahan makanan di dalam kulkas, dia hanya menemukan sedikit bahan makanan dan hanya bisa masak seadanya saja.


Dering ponsel mengalihkan atensinya, sejenak ia memandang nama yang tertera di layar gawai tersebut. Ia tersenyum dan mengangkatnya, gawai itu Ia taruh di telinganya dan menjepitnya dengan pundak.


"Halo," ucapnya, tangannya masih saja bermain dengan alat masak.


"Sayang kau dimana? Aku datang ke kantormu, tapi kata pegawai mu kau sudah pulang dari tadi." Ujar suara dari sebrang telpon, Ya dia adalah Richard, dari suaranya dia nampak sedikit khawatir.


"Aku di rumah Anna aku menjenguknya, dia sedang sakit," jawab Shelia. Perkataanya membuat Richard terdengar sedikit lega.


"Baiklah kalau begitu, aku akan menjemputmu."


"Oke!" Jawab Shelia singkat, dan Ia pun mengakhiri sambungan telponnya. Setelah masakan siap dia pun membawanya ke kamar Anna.


"Cobalah, makan sedikit." Shelia menyodorkan nampan berisi semangkuk bubur dan juga segelas air putih.


"Terima kasih Shelia." Anna tersenyum lembut. Shelia balas dengan mengangguk dan tersenyum pula. Anna mulai menyendok bubur tersebut dan menyuapkan ke mulutnya dia makan perlahan karena takut makanan tersebut tidak dapat perutnya terima, namun sepertinya perutnya menerima makanan tersebut hingga dia makan sedikit lahap karena biasanya Anna akan memuntahkan segala macam makanan yang masuk ke perutnya.


"Anna sepertinya aku harus pulang, Richard sudah menungguku di bawah," ujar Shelia setelah ia melihat layar ponselnya.


"Baiklah, kau pulang saja, aku bisa mengurus diriku sendiri." Ucap Anna.


Shelia beranjak dari tempat duduknya dan menyampirkan tas selempang di pundaknya, "kalau begitu aku pulang dulu, jaga diri baik-baik. Oh ya, bubur yang barusan masih ada di panci kau bisa menghangatkannya nanti." Shelia pun hendak berlalu, namun panggilan Anna langsung membuatnya terhenti.


"Shelia!" Shelia menoleh.


"Hem?"


"Ini anaknya..." ucapnya terputus, Shelia diam masih menuntut jawaban.


"Daren!" tambah Anna lagi.


Shelia sedikit terkejut, Ia pun menghembuskan napas kasar untuk menghilangkan rasa keterkejutannya.


"Baiklah, kau istirahat saja dulu kita bicarakan itu besok. Jangan lupa minum obat mu."

__ADS_1


__ADS_2