
'Ya Tuhan, kenapa anak ini bisa menebak isi pikiran ku dengan begitu tepat.' gumam Richard dalam hati.
"Kenapa Om heran ya? Aku ini anak genius jadi bisa tahu apa yang om pikirkan. Lagi pula, gerak-gerik Om sangat mudah di tebak." Ucap Nici sembari melipat tangan di dada.
Richard tersenyum, lantas berjongkok sambil menggenggam tangan kecil Nici.
"Nici, Om suka sama Mami kamu. Kalau... Om jadi Papah kamu, kamu mau gak?" Tanya Richard mengutarakan niatnya.
"Kalau itu tergantung Mami. Kalau Mami suka sama Om, aku gak akan larang ko. Asalkan Om bisa membuat Mami bahagia, itu tidak masalah!" Nici mengangkat bahu.
"Anak baik." Richard mengacak rambut Nici gemas, dia pun lantas keluar kamar, berjalan menuju balkon. Shelia sudah tidak ada di ruang keluarga sepertinya dia sudah tidur.
Richard menyalakan ponselnya dan menelpon Ken. "Ken, bagaimana? Apa Identitas Wanita itu sudah di ketahui?" Tanya Richard serius.
"Ya Presdir!" Jawabnya.
"Oke, kalau gitu kita bertemu di jalan XXX, kamu datang kesini aku ada satu tugas lagi untuk kamu selesaikan."
"Baik, secepatnya saya akan ke sana!"
Tut...Tut...Tut...
Sambungan telpon pun terputus.
Beberapa saat kemudian, Richard lekas keluar dari apartemen menuruni undakan tangga, karena ini apartemen kecil tidak ada akses lift di sini, hanya ada tangga manual saja.
Dia berjalan keluar, sambil menutupi wajahnya dengan masker takut ada orang yang mengenalinya. Sebuah mobil berhenti di hadapannya, ia pun lantas masuk dan duduk di samping sang pengemudi.
"Ken, katakan!" Perintahnya.
Dia mengeluarkan sebuah map berwarna biru tua, dan menyerahkannya pada Richard. "Ini data-data gadis itu Presdir! Menurut orang-orang dari bar itu, dia di jual oleh pacarnya sendiri, pada seorang pria tua seorang penjual obat-obatan terlarang malam itu." Tutur Ken.
Richard hanya diam dan mendengarkan, dia lantas membuka map tersebut. Matanya membola seketika, ternyata dugaannya benar, wanita itu adalah... Shelia. Sungguh, Richard amat bahagia, ternyata dugaan yang ia punya sesuai dengan fakta yang ada, tapi dia harus tetap memastikan, apakah Nici benar-benar anaknya atau Shelia pernah tidur dengan laki-laki lain sebelum dengannya atau tidak.
Isi dari map tersebut berbunyi.
__ADS_1
Nama: Shelia Jenner
lahir: 1995
Kewarganegaraan: XXXXX
dll.
Sebuah foto berukuran kecil tertempel di samping data dirinya.
"Ken, aku ingin kamu melakukan tes DNA pada rambut ini, aku ingin hasilnya keluar malam ini juga." tegasnya. Sembari menyerahkan dua plastik kecil berisi rambut miliknya dan juga milik Nici.
"Tapi Presdir--," sebelum Ken bisa menyelesaikan ucapannya, tatapan Richard yang ia layangkan seketika membungkam mulut Ken.
"Hah, baiklah." Ucap Ken lemas, bos-nya ini selalu saja seenaknya, dia tidak memikirkan hidup dan mati asisten pribadinya ini yang harus lari kesana-kesini demi menyenangkan hati dan menyelesaikan semua tugas-nya dengan sukses.
"Oh ya, jangan panggil aku Presdir, untuk sementara ini. Panggil Tuan saja." Richard turun dari mobil tanpa mendengar lagi jawaban Ken. Dia membawa serta dokumen data diri Shelia tadi.
Dia kembali masuk ke rumah.
Ceklek...! Dia membuka pintu dengan pelan, takut membangunkan Shelia dan juga Nici. Namun, ternyata Shelia masih terbangun dia berjalan dari arah dapur sembari membawa segelas air putih di tangannya, dia lantas menoleh.
"Emh... Dari luar." Jawab Richard.
"Apa itu?" Shelia melirik map di tangan Richard dengan wajah penasaran.
"Bukan apa-apa." Richard lekas menyembunyikan map tersebut ke belakang punggungnya.
"Cih, awas saja kalau kamu berniat jahat pada kami." Ancam Shelia.
Richard menghela nafas, sembari tersenyum lembut. "Apa aku di matamu adalah orang seperti itu? Shelia, aku tidak akan pernah mencelakai kalian, sungguh! Percayalah padaku." Richard bingung harus dengan cara apa agar Shelia dapat mempercayainya.
"Hem ya sudah, tapi ingat! Aku akan mengawasi mu." Shelia memasang ekspresi wajah serius. Richard hanya menggeleng pelan, melihat betapa imutnya Shelia di matanya ketika dia sedang berwajah serius seperti itu.
"Ngapain kamu senyam-senyum sendiri? Gila ya?!" Shelia bergidik, lantas berlalu dengan ekspresi wajah aneh.
__ADS_1
"Kenapa sih tuh orang, aneh bgt." gumam Shelia, yang mampu tertangkap di indra pendengaran Richard.
Richard kembali ke kamar Nici. Nici nampak sudah tertidur pulas, Richard beringsut mendekat dan mengelus lembut kepala bocah kecil itu. Perasaan sayang di hatinya, terasa semakin membesar kala melihat wajah polos dan lugu seorang anak laki-laki, bila di lihat baik-baik memang semua yang ada pada diri Nici terlihat mirip dengannya.
"Nak, aku yakn kamu adalah anakku. Meski tanpa tes DNA sekali pun, tapi aku butuh bukti untuk bisa mendekati Ibumu. Tolong bantu Ayah ya Nak." Richard mengecup pelan pucuk kepala Nici.
Keesokan paginya, Richard masih terlelap. Seseorang menusuk-nusuk pipinya dengan jari telunjuk, membuatnya menepis tangan itu sembari bergumam, "jangan ganggu, aku masih ngantuk!" keluhnya parau.
"Om bangun! Lihat ini ada Om berbaju hitam, dengan mata panda datang ke rumah, dia bilang ini untuk Om." Bosan menusuk pipi Richard, Nici menggoyangkan tubuh Richard cukup kencang, hingga dia terpaksa membuka matanya.
"Om mata panda siapa?" tanyanya serak, khas bangun tidur. Matanya, berkedip cepat menyesuaikan dengan cahaya di sekitar.
"Itu loh, Om yang tinggi, tampan, ber-jas hitam. Tapi, dia punya mata panda. Dia memberikan ini pada Mami, Mami bilang ini untuk Om. Kata Om mata pandanya." Jelas Nici.
Richard pun bangun dan duduk di tepi ranjang, rambutnya masih acak-acakan dan wajahnya terlihat kusut. Dia meraih map tersebut, lantas membukanya. Seketika mata Richard langsung terbuka lebar.
"Hasil tes DNA nya, positif! Kita 99% terbukti Ayah dan Anak!" Pekik Richard begitu senang. Dia langsung meraih Nici dalam pelukannya.
"Nak, aku Ayah kandungmu. Sungguh aku sangat, sangat senang!"
Frank...!!!
Sebuah benda terdengar jatuh hingga menghasilkan bunyi yang cukup nyaring. Suaranya seperti pecahan kaca, sontak membuat Richard dan Nici menoleh seketika.
"Mami. Shelia!" Pekik Nici dan Richard bersamaan.
Deg...Deg...!!!
'Richard Ayah kandungnya Nici, tapi bagaimana mungkin? Malam itu jelas-jelas laki-laki tua itu yang membeli ku, bagaimana bisa jadi dia?'
Berbagai pertanyaan berputar di kepala Shelia, tubuhnya mulai lemas, dia lantas berpegangan pada dinding.
Richard bangkit lantas mendekat, "Shelia aku--!"
Shelia mengangkat telapak tangan, memberi isyarat agar Richard jangan mendekatinya.
__ADS_1
Shelia melangkah gontai, menuju kamarnya. Dia menutup pintu dan mengurung diri di kamar, dia menyandarkan punggung di daun pintu, sembari memejamkan mata, menengadahkan kepala ke atas. Menekan rasa yang bercampur aduk dalam dirinya.
"Kenapa bisa dia?"