Anak Genius: Ayahku Konglomerat!

Anak Genius: Ayahku Konglomerat!
Bab 32 : Apa aku jatuh cinta?


__ADS_3

Khanza menunduk malu tak berani mengangkat kepalanya, "Khanza! Dimana rumah mu?" tanya Ken yang seketika membuat Khanza mengangkat kepala dengan pandangan mata menatap pantulan wajah Ken di kaca spion.


"Rumah aku udah gak jauh dari sini ko Om, tinggal masuk gerbang itu." Khanza menunjuk sebuah gerbang perumahan elit yang ada di sebelah kanan jalanan.


'Dia sepertinya anak orang kaya, tapi kenapa sikap orang tadi begitu kasar? Wanita itu siapanya gadis ini? Apa Ibunya? Tapi dia membiarkan anaknya pulang seorang diri, bagaimana jika ada orang jahat yang menangkap gadis ini, sungguh keterlaluan!' Ken menggertakkan giginya, dia merasa kesal pada orang tua Khanza yang lalai dalam tanggung jawabnya mengurusi anak.


"Wanita tadi apa Ibu kamu?" Tanya Ken melontarkan pertanyaan yang sedari tadi mengganjal di hatinya.


"Emh, I-iya Om." Jawab Khanza ragu-ragu. Ken hanya mengangguk-anggukan kepalanya, tanda memahami apa yang Khanza ucapkan.


"Tapi Ibu kamu jahat! Dia sepertinya gak sayang sama kamu." Celetuk Nici mengutarakan pendapatnya. Khanza hanya diam sambil membuang muka menatap keluar jendela.


Benar, apa yang Nici katakan. Ibunya tak pernah menyayangi dia, baginya Khanza hanya sebuah benalu yang selalu ingin ia singkirkan. Keberadaannya yang tak di inginkan membuatnya selalu mendapat perlakuan kasar dari sang Ibu Tiri. Ya, Khanza hanya seorang anak hasil dari perselingkuhan Ayahnya, dengan wanita lain, yakni Ibu Khanza yang kini telah tiada, beliau meninggal saat melahirkan Khanza. Hingga Khanza tak pernah sekali pun merasakan kasih sayang dari Ibunya.

__ADS_1


Air mata meleleh membasahi pipi tirus Khanza, Dia mengusapnya pelan. Kehidupan yang keras membuatnya bersikap Dewasa sebelum waktunya. Dia bisa menyembunyikan rasa sakit dan sedihnya dengan sikapnya yang ceria.


"Haha! Apa yang kamu katakan? Ibu ku hanya sedang kesal saja, karena aku sering nakal." Ucap Khanza sembari menggaruk kepala bagian samping, pura-pura malu. Namun Nici nampak tak percaya, tapi dia memilih untuk tak membalas ucapan Khanza.


***


Selepas mengantar Khanza hingga depan gerbang rumahnya, Ken dan Nici pun melaju menuju kantor Richard.


'Ya ampun! Kenapa aku gak bisa fokus kerja?' Shelia menyandarkan punggung di sandaran kursi putarnya, kepalanya menengadah, matanya menatap langit-langit kantornya. Namun, yang terlihat tetap wajah Richard yang tengah tersenyum manis padanya.


Huh... Shelia menghela nafas kasar, sembari menepuk-nepuk pipinya pelan, berharap apa yang ia lakukan bisa menyingkirkan bayangan Richard di matanya. Namun, semuanya itu hanya sia-sia tidak ada pengaruhnya sama sekali, bayangan Richard terus saja mengganggunya, membuatnya kehilangan fokus.


'*Ada apa ini? Apa aku telah?' Shelia memberi pertanyaan pada dirinya sendiri, dan ia pun menjawabnya sendiri pula.

__ADS_1


'Tidak! Itu tidak mungkin! Bagaimana mungkin, aku jatuh cinta padanya.' gumam Shelia dalam hati*.


Di tengah lamunan panjangnya, ponselnya berdering singkat, tanda pesan masuk.


'*Shelia, cepat pulang! Aku dan Nici memasak makanan spesial untukmu!' Isi pesan tersebut, yang ternyata adalah dari Richard.


Deg...! Deg...! Deg*...!


Jantung Shelia, memompa darah begitu cepat hatinya berdesir tak karuan. Ingin rasanya dia segera pulang dan menemui Richard saat ini juga. Dia pun lantas bangkit dan meraih tas selempang di atas meja, namun akal sehatnya seketika kembali.


"A-apa yang aku lakukan?" Gumamnya, "bagaimana aku bisa pulang hanya karena satu pesan darinya? Tidak! Ini bukan aku, bukan." Shelia duduk kembali mengurungkan niat awalnya yang hendak pulang, dia pun lantas kembali menyalakan komputernya, berusaha bekerja kembali, namun sialnya fokusnya tak dapat bekerja seperti sebelumnya, pikirannya selalu berada di tempat lain.


"Sial! Aku harus bagaimana?" Shelia bicara sendiri sembari menggigit bibir bawahnya.

__ADS_1


__ADS_2