Anak Genius: Ayahku Konglomerat!

Anak Genius: Ayahku Konglomerat!
Masalah Khanza


__ADS_3

Ken mengalihkan pandangan ke jalanan dan mulai melajukan mobil, tak ingin menghiraukan suara-suara yang timbul dari arah belakang.


"Anggap saja mereka tak ada Ken." gumamnya pelan. Tapi tetap saja meski Ken berusaha tak menghiraukan pencemaran udara tersebut, nyatanya Indra pendengarannya menangkap jelas segalanya.


Ken memutar musik untuk mengalihkan pendengarannya, jika terus mendengar hal tersebut jiwa jomblo nya meronta keras.


Ya, Ken tak pernah berhubungan dengan perempuan mana pun, ada desas-desus yang tersebar di antara para bawahannya jika dia seorang gay. Nyatanya tentu saja tidak! dia hanya tidak ingin mengalami sakit hati, baginya sendiri lebih baik. Dan Ken menganggap Richard dan keluarganya sebagai kehidupannya.


Mobil pun masuk pelataran Rumah megah yang bergaya moderen itu. Ken senang dia bisa bernapas lega.


"Ken!" panggilan dari Nyonya mudanya itu membuatnya sontak menoleh.


"Apa kau punya pacar?" tanya Shelia yang sengaja belum turun dari mobil, Richard pun yang semula telah membuka pintu mobil mengurungkan niatnya hendak turun.


"Tidak punya, Nyonya." Jawab Ken jujur.


"Kenapa? Kau tampan! Kau mapan! Dewasa." ucap Shelia.


Ken diam, dia hanya membalas Shelia dengan senyum tipis di bibirnya, "Shelia Ayuk turun," ajak Richard, dia menatap mata Ken yang meredam kesedihan di balik senyumannya. Hanya Richard yang mengetahui masa lalu Ken selama ini, tapi dia menyimpannya dengan baik biarlah semua masalalu berlalu seiring berjalannya waktu.


"Shelia ayo, Nici pasti sudah menunggu kita." Richard mengulangi kata-katanya yang tak di hiraukan Shelia sebelumnya, dia tetap menunggu jawaban Ken.


Shelia mengalihkan tatapannya pada Richard dan meng-ia kan nya, dia tahu pasti ada sebuah rahasia yang sengaja Ken dan Richard tutupi. Tapi ya sudahlah, mungkin itu bukan urusan dia. Shelia mengangguk dan meraih uluran tangan Richard, Richard merangkul pinggang Shelia dan melangkah masuk ke dalam rumah.


"Richard, sebenarnya ada apa?" Richard diam tampak tak ingin menjawab pertanyaan yang Shelia layangkan padanya.


Richard mengecup pucuk kepala Shelia lantas berkata, "nanti kita bicarakan lagi, ayo makan malam dulu." Richard menggenggam telapak tangan Shelia dan menuntunnya ke dalam.


Hari pun berlalu. Namun Shelia tetap tak mampu menghilangkan pertanyaan di benaknya tentang masalah Ken. Shelia hendak kembali bertanya pada pada Richard, ia melirik suaminya itu yang tengah mengenakan kemeja putih di ruang ganti.


"Kenapa sayang?" Richard nampaknya menyadari jika Shelia tengah memperhatikannya.

__ADS_1


"Tentang Ken, aku masih penasaran."


Richard pun menghampiri Shelia yang tengah duduk di depan meja rias, "sayang, aku bukannya tak ingin menjawab pertanyaan mu. Pada dasarnya semua orang punya rahasia pribadi masing-masing, begitu pun aku atau pun dirimu. Ken adalah bawahanku juga teman terdekatku, aku harus menjaga rahasia yang dimiliki sahabatku, jika dia ingin mengatakannya maka dia yang akan mengatakannya sendiri pada mu." Ucap Richard sembari mengecup kepala Shelia.


Shelia mengangguk dan terpaksa harus meredam rasa penasaran di benaknya.


***


Nici berjalan santai memasuki gerbang sekolah, dia anak yang mandiri tak seperti anak yang lain yang tak hentinya merengek minta di temani Ibu atau pengasuhnya selama di sekolah. Sedari kecil dia sudah terbiasa mandiri, bahkan dia sering kali membantu mengerjakan pekerjaan rumah untuk Shelia.


Di ujung koridor nampak Khanza tengah berdiri mematung, dengan tatapan mata sulit di arti kan.


Nici sedikit penasaran dengan apa yang Khanza perhatikan, iya menatap ke arah sejurus. Tampak seorang gadis berseragam berbeda dengan mereka tengah merengek pada seorang Ibu paruh baya yang Nici yakini adalah Ibu nya. Ibu itu tampak sangat menyayangi putri manja nya itu.


"Apa dia Ibu mu?" tanya Nici, yang membuat Khanza sedikit terkejut. Dia tak menyadari kehadiran Nici sejak awal.


Khanza menunduk sedih, "dia Ibu ku. Tapi aku bukan anaknya."


"Jika aku anaknya dia pasti menyayangi ku kan? Tapi dia hanya menyayangi Kakak saja," keluhnya dengan wajah sendu.


Nici menatap Khanza dan dua orang tersebut silih berganti. Nici hanya bisa diam, dia tak punya kata untuk menghibur Khanza sama sekali.


"Ayo masuk." ucapnya, agar Khanza mengalihkan perhatiannya.


Khanza pun mengikuti Nici masuk kelas, namun wajahnya masih nampak murung.


Nici melirik Khanza yang mejanya tak jauh dari tempatnya duduk.


"Kenapa aku harus peduli, itu bukan urusan ku," gumam Nici, namun tetap saja ia sedikit penasaran pada masalah yang di alami Khanza.


Siang hari, selepas sekolah selesai. Nici tengah berdiri menyandar ke tembok sembari menunggu Ken menjemputnya, sebuah Lollipop ia kulum di mulutnya.

__ADS_1


"Lepas! Sudah ku bilang kau bukan putri ku! Apa kau tuli?! Aku benci padamu! Kau membuat ku merasa jijik!" Ucapnya dengan nada antara kesal, marah, dan benci menjadi satu.


"A-apa aku benar bukan putri mu, Bu?" tanya seorang gadis, sambil terisak.


"Harus berapa kali aku bilang, hah?! Kau ingin tahu yang sebenarnya, bukan? Dengar ini baik-baik. Kau hanya seorang anak yang lahir dari seorang perempuan ******, yang telah merebut suami ku!"


Bruk...!!


Gadis itu jatuh terduduk di lantai.


"Cih, apa pantas orang dewasa sepertimu bicara seperti itu pada seorang anak kecil!?" Ucap Nici dengan nada kesal, akhirnya dia tak tahan dengan rundungan yang Ibu Khanza layangkan pada Khanza.


"Siapa kamu? Jangan ikut campur urusanku!" bentaknya dengan mata melotot tajam, "ternyata hanya seorang bocah kecil yang sok ingin jadi pahlawan," kekehnya geli, dia melayangkan tatapan mengejek, begitu pun putrinya yang berada di sampingnya.


"Sepertinya kamu menemukan teman baru Khanza!" ucap gadis kecil itu disertai seringai. Seketika tubuh Khanza mengejang dia bangkit dari duduknya dan berbalik menatap Nici.


"A-apa yang kau lakukan di sini? Pergi dari sini! Jangan ikut campur!" Ucap Khanza setengah berteriak.


"Aku tidak suka melihat apa yang mereka lakukan padamu. Kenapa kau diam saja?"


"Itu bukan urusanmu! Berhenti ikut campur, dan jangan memedulikan ku!" Khanza menunduk dan berjalan meninggalkan Nici, ia menghampiri Ibunya yang merundungnya tadi.


"Ibu, apa aku boleh ikut pulang denganmu?" nadanya penuh permohonan.


"Jangan harap!" bentaknya, seraya berlalu.


Khanza menunduk menatap lantai semen, air mata meleleh dari kedua sudut matanya. Apakah ini salahnya? Bukan inginnya terlahir dari Ibu yang berbeda.


Khanza mengusap air mata yang membanjir di pipinya.


Nici menarik tangan Khanza agar ia mengikuti langkah kakinya, "ayo ku antar kamu pulang."

__ADS_1


"Tidak usah," ucap Khanza lemah, ia menepis tangan Nici dari tangannya, "Aku bisa pulang sendiri, sebaiknya kamu jauhi aku. Aku tidak ingin membuatmu dalam masalah."


__ADS_2