Anak Genius: Ayahku Konglomerat!

Anak Genius: Ayahku Konglomerat!
Bab 23 : Selangkah lebih maju


__ADS_3

"Bagaimana rasanya, Mami?!" Tanya Nici penasaran, dia nampak tak sabar ingin segera mencicipi masakan buatan Daddy nya itu.


Satu kata yang keluar dari bibir Shelia, "enak!" Ucapnya lantas menaruh garpu dan sendok yang ia gunakan untuk makan barusan. Dengan semangat Nici mengambil makanan tersebut cukup banyak hingga memenuhi piringnya yang semula kosong.


"Makanlah." Shelia bangkit dan mengusap kepala Nici lembut.


"Shelia, kenapa kamu gak makan? Apa kamu gak suka dengan makanan yang ku buat? Apa mau aku buatkan yang lain?" Tanya Richard bertubi-tubi.


"Tidak usah, aku hanya sedang tidak lapar saja," Shelia hendak berlalu, namun dia menghentikan langkahnya, "oh ya, makanan yang kamu buat sangat enak, tapi tidak perlu melakukannya lagi, kamu pria terhormat. Panci dan penggorengan tidak cocok untukmu." Ujarnya.


Richard mencekal tangan Shelia, "kenapa kamu selalu bersikap dingin? Kita keluarga Shelia, jika kamu punya masalah atau keluhan tentangku katakan saja, aku tidak masalah mendapat kritikan darimu." Ucap Richard mengutarakan isi hatinya.


"Keluhan?! Keluhan apa?" Shelia tertawa kecil, namun Richard tau tawa itu tidak tulus dari hatinya, Shelia melirik Nici yang tengah asik menikmati makanannya dia tidak menghiraukan pembicaraan Ayah dan Ibunya, namun lebih tepatnya, dia berpura-pura tak menghiraukannya.


"Aku ingin bicara denganmu." Richard menuntun Shelia masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.

__ADS_1


"Kamu sudah tahu perasaanku untuk mu kan?" Ucap Richard sembari menatap tajam mata Shelia. Shelia hanya membuang muka ke arah lain.


"Shelia, aku tahu kamu menikah denganku hanya demi Nici, tapi tidak kah kamu berpikir jika sikap kamu yang dingin ini terlalu terang-terangan, bagaimana kalau ini mempengaruhi pertumbuhan Nici?"


"Maksudnya?!" Shelia belum bisa mencerna sepenuhnya perkataan Richard.


"Maksudku adalah, hubungan keluarga yang sehat di mulai dari orang tua terlebih dahulu. Bukankah kamu ingin memberikan kebahagiaan keluarga untuk Nici." Tambah Richard lagi. Shelia nampak berpikir, apa yang Richard katakan memang benar, Shelia tak dapat memungkiri.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Shelia bingung.


"Berpura-pura menjadi pasangan yang harmonis, apa kamu bisa?" tanya Richard.


"Baik, aku setuju!"


"Di kamar ini hanya ada satu ranjang, jadi...kamu tidur di sopa." ujar Shelia.

__ADS_1


"Baik tidak masalah."


'Selama aku bisa semakin dekat denganmu, semuanya tidak masalah bagiku.' batin Richard.


"Baik kita mulai dari bergandengan tangan." Ujar Richard sambil hendak meraih tangan Shelia.


"Apa itu harus?" Shelia nampak enggan.


"Sebenarnya tidak harus sih, tapi--," Richard menjeda ucapannya.


Grep...!! Shelia menggenggam tangan Richard lebih dulu, "semua ini aku lakukan demi Nici." Gumamnya.


Richard mengulum senyum, dia melirik tangannya yang ada di genggaman Shelia.


"Mari kita keluar dan makan bersama." Ucap Richard, dia tak dapat menyembunyikan raut bahagia di wajahnya. Satu langkah lagi untuk mendapatkan Shelia telah dilaluinya, tinggal ke langkah berikutnya. Semua ini tak luput dari ide briliant Nici, untuk memakai namanya sebagai alasan mendekati Shelia.

__ADS_1


Shelia dan Richard keluar dari kamar dengan tangan saling terpaut satu sama lain, jemari mereka menyatu seiring langkah mereka yang canggung. Nici menatap Ayah beserta Ibunya yang datang ke ruangan itu, seulas senyuman lembut ia sunggingkan di bibirnya, membuat Shelia memalingkan wajah ke arah lain.


Richard berucap lewat kedipan sebelah matanya. Semua ini berkat kamu Nak, kamulah yang terbaik. Nici menoel hidungnya sambil berlagak tanpa kata.


__ADS_2