
Waktu berlalu, musim pun berganti. Daun-daun nampak berguguran, angin membelai lembut pipi Shelia, menerbangkan helaian rambutnya yang terurai.
"Richard!" Panggilnya, pada Richard yang baru saja keluar dari kamar mandi sambil menggosok rambutnya yang basah.
"Hem?!" Jawabnya sedikit keheranan.
Shelia lantas berbalik, dengan wajah gugup. "Ma-mari kita perbaiki hubungan kita." Ujarnya sembari memalingkan wajah ke arah lain, dia bingung harus berucap bagaimana pada Richard.
"Maksudnya?!" Richard lantas mendekat, menghampiri ke arah Shelia.
"Ya, ya seperti itu lah, masa kamu gak ngerti." Shelia berbalik membelakangi Richard dengan wajah sedikit memerah.
Richard terkikik geli, lantas merangkul pinggang Shelia dan memeluknya dari belakang. Shelia seketika membatu, jantungnya berdegup kencang, namun dia tetap membiarkan Richard memeluknya.
"Terima kasih!" Ucapnya pelan.
"Terima kasih untuk apa?" Tanya Shelia.
__ADS_1
"Terima kasih sudah menjadi Ibu yang baik, dan terima kasih sudah mau membuka hati untukku. Aku bersumpah akan selalu menjaga dan melindungi kamu dan juga putra kita dengan nyawa ku." ujarnya penuh keyakinan.
Shelia hanya diam, dalam hati ia bergumam.
'Dapatkah aku benar-benar menggantungkan rasa percayaku pada Richard? Aku masih takut.'
"Shelia, bisakah--," perkataan Richard seketika di potong oleh Shelia.
"A-aku harus memasak untuk sarapan, aku permisi dulu." Ucap Shelia sembari melepaskan diri dari pelukan Richard. Dia sudah dapat menebak apa yang akan di pinta Richard, melihat dari gerak-geriknya Shelia dapat menyimpulkan permintaan semacam apa yang akan Richard utarakan padanya.
"Cek... Sungguh manis." Richard tersenyum senang sembari menatap bayangan Shelia yang telah berlalu.
"Coba kamu tebak!" Richard memainkan sebelah alisnya sembari mengenakan Jas miliknya. Richard sudah mulai mengurusi urusan kantor kembali, namun mereka masih tinggal di apartemen kecil milik Shelia.
"Hem, melihat dari sikap Daddy, pasti ini soal Mami, kan?!" Nici mengutarakan tebakannya.
"Betul sekali!" Richard duduk di samping Nici, lantas kembali berucap dengan nada penuh semangat, "dan kamu tahu, Mami kamu bilang dia mau mencoba memperbaiki hubungan dengan Daddy." Ujarnya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Woah!" Nici berucap penuh rasa bahagia, "Hore!!" Nici melompat-lompat di atas kasur sembari meneriakkan kata Hore berulang kali. Richard yang juga merasa senang ikut naik dan melompat bersama Nici, membuat ranjang tersebut menghasilkan bunyi berdecit akibat dua orang berbeda usia ini yang melompat-lompat di atasnya.
"Daddy bahagia sekali!" Ucap Richard sambil tersenyum lebar.
"Aku juga Daddy!" Balas Nici tak kalah senang.
"Ehem!" Suara deheman seseorang yang mereka kenali, seketika membuat kesenangan mereka berhenti detik itu juga.
Nici dan Richard mengehentikan aksi mereka dan turun dari atas ranjang dengan wajah menunduk, tubuhnya mengkerut takut.
"Kalian ini benar-benar!" Shelia berkecak pinggang dengan wajah kesal.
"Kalian tahu betapa lelahnya membereskan rumah, lihat sekarang kamar ini sudah berantakan akibat ulah kalian." Keluh Shelia sembari menepuk dahinya.
"Maafkan aku Mami, aku akan membereskannya kembali." Ujar Nici masih tetap menunduk.
"Shelia ini bukan hanya salah Nici," ucapan Richard seketika di potong oleh Shelia.
__ADS_1
"Benar ini bukan hanya salah Nici, kamu sebagai Ayah seharusnya menjadi contoh yang baik, bukannya emph--," Richard membekap mulut Shelia dengan telapak tangannya, membuat dia menghentikan ucapannya, pandangan mereka saling bertemu satu sama lain.
Deg...Deg..!!!