Anak Genius: Ayahku Konglomerat!

Anak Genius: Ayahku Konglomerat!
Bab 18 : Pertengkaran antara dua Ayah


__ADS_3

Brak...!!


Seseorang mendobrak pintu dengan kasar, hingga pintu yang tak terkunci itu terbuka sempurna. Tampak Daren dengan wajah penuh amarah berdiri di ambang pintu.


"Daren!" Pekik Shelia.


Mendengar nama Daren di sebut, membuat Richard langsung siaga, insting seorang Ayah dan suami langsung bangkit dalam diri Richard dia takut Daren akan mengambil Shelia darinya. Mengingat Shelia belum sepenuhnya menerima dia.


"Shelia siapa ini?" Tanya Daren dengan suara bergetar.


"Dia...dia suami ku." Jawab Shelia sembari memalingkan wajah, tak ingin menatap mata Daren. Daren menghampiri dan berdiri di hadapan Shelia.


"Suami? Kenapa? Dia baru saja datang Shelia, apa kamu percaya begitu saja pada orang baru ini? Kemungkinan dia hanya seorang penipu, kenapa kamu setuju menikah dengan dia? Sedangkan denganku, kamu terus saja menolak." Daren melempar pandang tak percaya. Dia tak terima Shelia menikah dengan orang lain, selama ini dia terus bersabar berharap suatu hari Shelia akan luluh dan mau menerimanya.


"Daren, dia Ayah kandungnya Nici. Aku menikah dengannya hanya untuk Nici." Ucap Shelia masih dalam keadaan tenang.


"Lalu kenapa kalau dia Ayah kandungnya Nici? Aku yang selama ini mendampingi mu, aku yang pertama Nici panggil Papi, aku mencintai kalian berdua, aku sudah menganggap Nici seperti Anak kandungku sendiri Shelia." Daren mengusap wajah gusar.


"Kenapa kamu melakukan ini pada ku?"


Grep...!! Daren mengguncang bahu Shelia, membuat Richard refleks menepis tangan Daren kasar.


"Lepaskan! Sekarang Shelia istriku!" Richard menghunuskan tatapan tajam pada Daren. Daren balas menatap dengan tatapan yang sama, bendera perang tak terlihat berkibar di antara mereka berdua.


"Istri?! Cih, dimana kamu saat Shelia sedang terpuruk? Dia hampir mengakhiri hidup kalau aku tidak datang, saat dia hamil akulah yang selalu mendampingi dia, saat Nici akan lahir aku juga yang berdiri di samping Shelia dan menggenggam tangannya. Dimana kamu hah? Dimana?!" Daren mendorong dada Richard, membuat Richard sedikit mundur ke belakang.


Richard menahan diri untuk tidak marah, yang Daren katakan benar adanya. Dia tidak ada untuk Shelia saat dia kesulitan ketika mengandung Nici. Richard menatap Shelia dengan pandangan sendu penuh penyesalan, mengapa dulu dia begitu bodoh dan tidak memiliki keberanian untuk bertanggung jawab.


"Pengecut! Kamu hanya seorang pengecut, kamu tidak pantas untuk mereka!" Ucap Daren.


Bhuk...!!

__ADS_1


Richard menghantamkan tinju ke pipi sebelah kanan Daren, hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah. Daren pun membalas pukulan itu di tempat yang sama seperti dia mendapatkan pukulannya. Hingga terjadilah perkelahian di antara dua pria dewasa itu


"Cukup!!!" Teriak Shelia. Membuat keduanya menghentikan tinju mereka di udara.


"Apa kalian sudah gila?! Kalian bertengkar di depan anak kecil." Shelia menutup mata Nici yang berdiri di sampingnya, menonton Ayah kandung dan Ayah angkatnya memperebutkan dia dan Ibunya.


"Lihat dia ketakutan, Ayah macam apa kalian?"


"Mami, aku gak takut." Jawab Nici tak terima, tentu saja dia tidak takut, dia malah menikmati pertunjukan yang seru secara live tadi. Shelia mengabaikan perkataan Nici.


"Kalian?! Ayah Nici hanya aku." Jawab Richard masih dalam mode marah.


"Aku juga Ayahnya!" Geram Daren.


"Aku Ayah kandungnya." Ucap Richard tak mau kalah.


"Aku orang pertama yang dia panggil Papi. Benarkan Nici?" Suara Daren melunak, Nici hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Kalian duduklah, aku ingin bicara!" Perintah Shelia telak, membuat kedua pria dewasa itu menuruti perintahnya.


"Untuk yang pertama, Daren! Kamu sungguh sangat berjasa dalam hidupku, tanpa kamu aku dan Nici tak akan hidup seperti sekarang. Aku sungguh berterima kasih padamu, Daren, sampai kapan-pun kamu akan tetap menjadi Ayah angkatnya Nici, tidak akan ada orang yang berani merenggutnya darimu." Shelia melempar pandang memperingatkan pada Richard, bahwa keputusan yang ia buat adalah telak.


"Dan untuk kamu Richard, Nici memanglah anak kandungmu dan aku...Istrimu," Shelia menjeda ucapannya saat dia mengatakan kata 'Istri' "tapi, yang dikatakan Daren tidaklah salah, kamu tidak ada untuk aku dan Nici selama ini, dialah yang selalu mendampingiku dan mendukungku. Jadi aku harap kamu bisa mengerti dan bersikap baik pada Daren, walau bagaimana pun dia Ayah pertama bagi Nici."


Deg...Deg...!!


Kata Ayah pertama itu terasa menyayat ulu hati Richard, tapi dia tidak bisa membantah, jika dia ingin mendapatkan hati Shelia sepenuhnya dia harus mengalah dan menuruti perkataan Shelia.


"Hem." Richard mengangguk patuh. Pun dengan Daren.


"Aku harap kedepannya, tidak akan lagi ada pertentangan dan perdebatan mengenai siapa Ayahnya Nici. Masalah kali ini aku anggap selesai!" Shelia hendak beranjak dari tempat duduknya, namun perkataan Daren menghentikan niatnya.

__ADS_1


"Lalu kamu sendiri? Apa aku sudah tidak punya hak padamu?" Shelia terdiam, dia memberi isyarat agar Nici masuk kedalam kamar. Nici dengan enggan turun dari sopa dan berjalan pergi, tapi bukannya pergi ke kamar dia malah menguping di balik dinding.


"Dia adalah istriku, hak apa yang kau inginkan darinya." Richard mulai tersulut emosi lagi.


"Cukup Kalian berdua!!" Shelia meninggikan suaranya.


"Daren, sudah sejak awal aku katakan padamu, aku hanya menganggap mu sebagai teman tidak lebih. Aku menolak perasaanmu, agar kau menyerah dan melihat ada orang yang sangat mencintaimu selama ini."


"Maksudmu, Anna?!" Daren mengernyitkan dahi.


"Benar Anna, dia sudah mencintaimu sejak lama Daren. Beri dia kesempatan." Ucap Shelia.


"Jadi karena dia kamu tidak mau menerima aku? Karena kalian bersahabat kamu takut menyakiti perasaan Anna, benar begitu?" tanya Daren.


Shelia menggeleng, "tidak, aku memang tidak pernah punya perasaan lebih padamu." Tegas Shelia, membuat Daren menghela nafas berat.


"Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu sampaikan pada Nici, lain kali aku akan datang lagi untuk menemuinya. Maaf aku tidak membawa oleh-oleh untuk dia, aku pamit dulu." Daren pergi dengan langkah gontai meninggalkan rumah Shelia. Sebenarnya Shelia tidak tega, namun jika dia tidak tegas dalam mengambil keputusan, Daren akan semakin menderita.


Shelia menutup pintu, sembari menghela nafas berat, lantas berbalik. Bruk...!! Shelia menabrak tubuh Richard, yang entah sejak kapan berdiri di belakangnya.


Richard tersenyum lembut, "terima kasih." Ucapnya.


"Untuk apa?" Tanya Shelia bingung.


"Untuk memanggilku, suami mu di hadapan Daren."


"Tidak perlu berterima kasih, lagi pula itu kenyataan." Shelia memalingkan wajah.


Richard tersenyum kembali, ingin rasanya ia memeluk Shelia detik ini, namun ia tahan.


'Sabar Richard, ini bukan waktu yang tepat. Berikan Shelia waktu, aku yakin lambat laun Shelia akan menerima kamu dengan sepenuh hati.' Gumam Richard dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2