
Daren duduk di samping Anna, dia lantas menenggak sisa air yang diminum Anna tadi, membuat gadis itu melebarkan matanya.
"Anna, mengapa sikap Shelia berubah? Dia bahkan mengembalikan barang yang aku berikan untuk Nici, aku tak bermaksud apapun aku hanya ingin memberikan sesuatu sebagai Papi angkat nya Nici," keluh Daren. Anna bingung harus berkata apa, tapi mungkin Shelia berbuat begitu karena ada Anak Daren dalam rahimnya.
"Daren aku tahu maksud kamu baik, tapi aku juga tidak tahu mengapa Shelia bersikap begitu," jawab Anna.
Daren memalingkan wajah sembari menghela napas, "Aku hanya ingin memberikannya kenang-kenangan agar Nici selalu mengingatku sebagai Ayah pertamanya."
Anna meraih tangan Daren dan menempelkan ke perutnya, "jangan bersedih, kini ada dia. Dia akan segera hadir dan memanggilmu dengan sebutan Papah!"
Seketika Daren menoleh, dia menatap tangannya yang berada di perut rata tersebut, seketika itu pula hatinya menghangat, amarah dan kekesalan yang semula membuncah kini perlahan memudar.
"Dia memang belum dapat di rasakan, tapi dia memang ada."
__ADS_1
Daren terdiam, matanya berkaca-kaca. Entah perasaan asing apa yang muncul saat dia menatap Anna, menyentuh Bayi kecil mereka yang tumbuh di rahim Anna. Daren tersenyum lembut, "terima kasih!" Kata itu muncul secara tiba-tiba dari bibirnya.
"Sama-sama, sudah jangan marah lagi, mungkin Shelia punya alasan tersendiri mengapa dia melakukan itu."
Dari lantai atas Shelia menatap Anna dan juga Daren, dia sangat bahagia melihat Daren sudah mulai membuka diri untuk Anna, kehamilan Anna membawa cinta Daren untuknya.
Shelia mengambil ponsel dan menelpon Richard, "halo sayang!" ujar Richard dari sebrang telpon, "tumben kamu nelpon duluan, kangen ya?" goda Richard.
"Hari ini kamu mau makan apa? Aku akan memasak?" tanya Shelia tak menghiraukan candaan dari suaminya.
"Sudah katakan saja apa yang kau inginkan?"
"Apa saja boleh, tapi kamu belum menjawab pertanyaan ku ada acara apa hari ini?" Richard terus saja penasaran.
__ADS_1
"Tidak ada, aku hanya pulang lebih cepat hari ini, sudah ya baye!" Shelia mengakhiri sambungan telponnya karena malas menjawab pertanyaan Richard, dia tak ingin mengatakannya di telpon tentang apa yang terjadi.
Shelia membereskan barang-barangnya, sudah saatnya dia sedikit menjauh dari kehidupan Anna dan Daren. Jika dia tak melakukan hal itu, Anna tak akan memiliki kesempatan untuk membangun hubungannya dengan Daren. Shelia pun membawa sekotak kecil barang-barang yang memang miliknya sendiri, dia tersenyum mengingat semua kenangan saat dia bekerja di cafe ini dulu.
"Nona Shelia, anda mau pergi kemana?" tanya seorang pegawai yang bertemu dengannya, membuat semua pegawai yang lain seketika melihat lantas mendekat.
"Benar Nona, kenapa anda membawa semua barang anda? Apa anda menjual cafe ini?" Raut khawatir nampak jelas di semua wajah pegawainya.
Shelia tersenyum, "Aku tidak menjualnya, sedari awal cafe ini hanya di titipkan padaku, aku hanya mengembalikan kepada pemilik yang sebenarnya." Ujar Shelia.
Semua pegawai seketika berbisik satu sama lain, "semuanya!" Shelia meminta perhatian semuanya lagi.
"Dengarkan aku! meski yang memimpin kalian tak sama lagi, tetaplah melakukan semua yang terbaik." Semua orang mengatakan "Baik!" Dan Shelia pun pergi.
__ADS_1
Mereka melepas kepergian Shelia dengan perasaan sedih.