Anak Genius: Ayahku Konglomerat!

Anak Genius: Ayahku Konglomerat!
Pertemuan keluarga


__ADS_3

"Kau yakin orang tua mu tak ingin menemui mu?"


"Aku tidak tahu, hanya saja aku tak berani untuk menemui mereka setelah semua yang terjadi." Shelia mendesah napas dalam.


"Ayo temui mereka," Richard menggenggam jemari Shelia menyalurkan kehangatan di dalamnya.


"A-aku--," ucapnya gugup.


"Tenang ada aku bersamamu." Richard mengecup pucuk kepala Shelia penuh kasih sayang.


Shelia pun mengangguk setuju.


Keesokan harinya, Shelia dan Richard berangkat menuju negara C tempat orang tua Shelia tinggal. Sudah lama rasanya Shelia tak menginjakan kaki di tanah kelahirannya, rindu, tentu saja namun dia tak memiliki keberanian untuk pulang.


Shelia duduk terdiam sembari memandang riak air di sungai tempat Ia dulu selalu singgah terlebih dahulu sebelum pulang. Dia suka duduk di tempat ini sebelum pulang ke rumah, tempat yang tenang dan meneduhkan mata.


Di tempat lain, tak jauh dari tempat Shelia duduk. Seorang pria paruh baya tengah duduk di depan kanvas dan melukis sesuatu. Kerut di wajahnya sudah nampak kentara, rambutnya sedikit beruban namun tak terlalu nampak karena terhalang penutup kepala.


"Tuan apa kau ingin minum?" Richard menyodorkan segelas Kopi panas padanya.


"Tidak, terima kasih aku sudah tidak minum kopi lagi." Tolaknya halus.


"Ah maaf aku tidak tahu," Richard salah tingkah.


"Tidak papa."


"Tuan kau menggambar siapa?" tanya Richard menilik gambar tesebut dengan wajah penasaran. Gambar punggung wanita yang tengah menghadap sungai.


"Dia putri ku." Jawabnya datar.


"Ah putri mu, dia pasti sangat cantik terlihat dari punggungnya yang indah," puji Richard.


"Ya dia lumayan cantik, tapi sayangnya dia tidak di sini." Ujarnya dengan tatapan tak terbaca.


"Dimana pun putri mu berada dia pasti sangat merindukanmu," ucap Richard menenangkan.


"Jika dia merindukan kami, seharusnya dia datang menemui kami disini tapi tidak, dia sudah melupakan kami orang tuanya demi laki-laki brengsek!" Pria itu langsung menyudahi apa yang Ia kerjakan lantas bangkit.


"Ah maaf Tuan Richard aku malah membicarakan masalah pribadiku padamu, aku terbawa suasana tadi." Ucapnya sedikit malu.

__ADS_1


"Ah tidak papa Tuan Jenner saya faham betul apa yang anda rasakan." Jawab Richard disertai senyuman.


Tuan Jenner menepuk bahu Richard sembari tertawa, "terima kasih Tuan Richard, tak heran kau menjadi pengusaha yang sukses kau sangat pengertian."


"Tuan Jenner anda terlalu memuji, saya hanya cukup beruntung itu saja." Jawab Richard merendah.


"Ah anda bilang anda kemari dengan Istri anda, dimana dia?" tanya Tuan Jenner penasaran.


"Dia Istirahat di hotel, katanya dia lelah."


"Ah begitu, datanglah ke rumah kami nanti malam. Kita akan berbincang sambil makan malam."


"Tentu Tuan, dengan senang hati." Ucap Richard, tentu saja itu lah yang Ia inginkan.


Selepas pertemuannya dengan Tuan Jenner Richard kembali pada Shelia yang tengah duduk di tepi sungai.


Grep...


Richard menyergap Shelia dan memeluk pundaknya dari belakang.


"Kenapa kau lama sekali?" keluh Shelia.


"Aku bertemu dengan seorang kenalan tadi, jadi kami berbincang sebentar." Shelia membulatkan mulutnya membentuk hurup O.


"Bukankah kita akan menemui orang tuaku?" tanya Shelia.


"Tentu saja! Mungkin juga kau akan menemui orang tuamu di sana." Shelia tersenyum lemah.


Jujur dia takut, takut orang tuanya tak mau memaafkannya, Shelia menghela napas berat, "baiklah, aku ikut."


Malam pun tiba, Shelia sudah nampak cantik mengenakan gaun panjang berwarna biru gelap dengan permata-permata yang nampak bersinar diterpa cahaya lampu.


Shelia dan Richard pun berangkat menggunakan mobil, di tengah perjalanan Shelia menatap ke sana kemari, dia tahu jalanan ini, ini menuju ke rumah kedua orang tuanya.


"Richard, keman kau akan membawaku?" tanya Shelia memastikan apa tebakannya tepat sasaran.


"Kau akan tahu jawabannya setelah kita sampai." jawabnya sembari tersenyum.


"Aku sudah tahu, bagaimana mungkin aku lupa tempat aku dilahirkan." Shelia tersenyum lembut namun sarat akan kesedihan.

__ADS_1


"Richard, apa mereka akan memaafkan ku?" tanya Shelia dia sudah merasa pesimis di hatinya.


"Sayang, semarah-marahnya orang tua dia akan tetap memaafkan anaknya jika dia memohon maaf dan menyesali kesalahan mereka. Mungkin saja orang tua mu sudah lama memaafkan mu dan berharap kau akan kembali."


"Aku berharap semua sesuai yang kau katakan. Tapi, jika mereka tak mau memaafkan ku bagaimana?" rasa takut dan juga gugup hinggap di hati Shelia, membuat dia merasakan mual di perutnya.


"Jangan berpikiran buruk dulu, ayo kita coba." Richard meyakinkan.


Mobil pun berhenti di sebuah pelataran rumah cukup mewah dengan campuran antara klasik dan modern.


"Kau siap?!" tanya Richard, Shelia mengangguk sebagai jawaban dan mereka pun turun. Untuk yang pertama kalinya Shelia kembali menjejakkan kakinya di halaman rumahnya kembali, setelah sekian lama Ia memutuskan untuk pergi.


Richard menautkan jemarinya dengan milik Shelia, dia tahu jika Istrinya saat ini sedang gugup dan ketakutan. Mereka berjalan berdampingan dan memasuki rumah setelah salah seorang maid membuka kan pintu.


Tak banyak berubah, semuanya masih nampak sama seperti saat Shelia pergi dulu.


"Selamat datang Tuan Richard, mari kita--," ucapan Tuan Jenner seketika terhenti kala melihat siapa yang datang bersama Richard.


Deg...Deg...Deg...


Jantung Shelia berdegup kencang, darahnya terasa mengalir deras, keringat dingin membanjir di telapak tangan kala matanya bertemu dengan mata sang Ayah. Seketika Shelia mencengkram tangan Richard dan Richard pun menggenggam nya pula.


"Pah siapa yang datang?" Suara seorang wanita yang juga tiba-tiba hadir di ruangan itu. Pandangan wanita itu menangkap wajah yang Ia kenali, Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan matanya membola seketika.


"Mamah," ucap Shelia dengan was-was.


"Shelia! Astaga ini kamu Nak?!" Nyonya Jenner datang dan berhambur memeluk Shelia sekilas, dan menyentuh pipi Shelia, menatap wajah yang paling Ia rindu kan.


"Iya, ini aku mah," ujar Shelia penuh haru.


"Kamu kemana saja? Mamah sangat merindukanmu, Papah juga." Nyonya Jenner menatap suaminya yang sedari tadi diam mematung.


"Mah, maafkan Shelia Mah. Shelia sudah membuat kesalahan yang begitu besar," Shelia terisak dalam dekapan sang Ibu.


"Sudah-sudah, Mamah sudah memaafkan kamu Nak." Mamah mengusap punggung Shelia lembut.


Shelia melepas rangkulannya, dan beranjak menghampiri sang Ayah.


"Pah, maaf." Hanya dua kata itu yang mampu keluar dari mulut Shelia di sela Isak tangisnya, Ia menunduk dalam tampak jelas raut penyesalan di wajahnya.

__ADS_1


Tuan Jenner menghela napas berat, "sudahlah, yang berlalu biarlah berlalu. Sekarang apa kau sudah menyesal? Apa dia meninggalkan mu?"


Shelia mengangguk sebagai jawaban masih dalam keadaan menunduk seperti seorang terdakwa yang tengah di adili, "mengapa kau bisa bersama Tuan Richard?"


__ADS_2