Anak Genius: Ayahku Konglomerat!

Anak Genius: Ayahku Konglomerat!
Bab 19 : Perlahan tapi pasti


__ADS_3

Canggung! Satu kata ini yang sulit di lerai dalam hubungan yang baru saja terbentuk antara Shelia dan Richard. Shelia berusaha bersikap biasa pada Richard, namun tetap saja sedikit sulit baginya untuk menyesuaikan diri. Terhitung satu minggu sudah mereka menikah. Namun, tak ada perkembangan sedikit-pun. Shelia tidur di kamarnya, sedang Richard tidur di kamar Nici.


"Daddy!" Panggil Nici sembari menatap langit-langit kamar, dengan tangan sebagai bantal tidurnya.


"Hem?!" Richard menoleh.


"Kapan Daddy akan pergi dari kamarku?"


"Hah, apa kamu gak mau tidur sama Daddy lagi?" tanya Richard.


"Tentu saja! Daddy tidurnya berisik, ngorok lagi." Keluh Nici, dengan wajah sebal.


"Hey, mana ada! Daddy gak pernah ngorok ya." Ucap Richard tak terima.


"Cih, Daddy mana tahu. Daddy kan tidur." Cibir Nici.


"Terus Daddy harus tidur dimana? Di sini hanya ada dua kamar, kamar kamu dan Mami."


"Ya udah Daddy pindah ke kamar Mami aja." Saran Nici, sembari memainkan sebelah alisnya.


"Hah!?" Belum sempat Richard bereaksi Nici sudah memainkan perannya.


"Daddy keluar! Aku gak mau tidur sama Daddy!" Teriak Nici sekencang mungkin. Hingga Shelia yang kebetulan lewat menghentikan langkahnya di depan pintu yang tidak tertutup rapat.


"Pokonya Daddy keluar! Aku ingin tidur sendirian!" Tambah Nici lagi, di sertai tangisan dan rengekan. Richard nampak kebingungan, dia tidak mengerti mengapa Nici melakukan semua ini, biasanya dia tidak pernah bertingkah aneh begini.


"Sekarang Daddy keluar!" Nici mendorong Richard keluar kamar.


Brak...!! Nici menutup pintu cukup kencang, meninggalkan Richard yang berdiri kebingungan di luar kamarnya.


"Nici, terus Daddy tidur di mana?" Richard menghela nafas berat.


"Nici kenapa?" Tanya Shelia, membuat Richard seketika menoleh ke arahnya.


"Aku tidak tahu." Jawab Richard.


Shelia berjalan mendekati pintu lalu mengetuknya, "Nici, kenapa kamu ngusir Daddy dari kamar Nak, itu tidak baik." Ucap Shelia. "Bukalah pintunya, bicara pada Mami kenapa kamu gak mau tidur sama Daddy?"


Hening... Tak ada jawaban dari dalam kamar.

__ADS_1


Tok...Tok...!!


Shelia mengetuk kembali pintu tersebut, namun hasilnya tetap sama.


"Haish, ada apa dengan anak ini?" Shelia memijat keningnya yang terasa pening.


"Mungkin dia sedang punya maslah di sekolah, kamu gak keberatan kan tidur di sopa malam ini?" tanya Shelia.


Richard mengangguk sembari tersenyum, "baiklah tidak masalah." Jawab Richard.


Shelia berlalu pergi ke kamarnya untuk mengambil selimut dan bantal. Lantas ia pun menyerahkan selimut dan bantal tersebut pada Richard.


"Terima kasih." Shelia hanya tersenyum sekilas, lantas berlalu.


'Mengapa sikap kamu begitu dingin Shelia, bahkan kamu jarang sekali tersenyum. Apa senyuman mu hilang karena aku?'


Richard berbaring di sopa dan menyelimuti dirinya dengan selimut yang di berikan Shelia.


Di tempat dan waktu yang sama, seorang bocah kecil mengintip Richard yang sudah tampak tertidur. Dia berdecak kesal karena Richard tidak peka dengan maksud dan tujuannya.


"Ah Daddy, kenapa gak manfaatin kesempatan ini untuk mendekati Mami sih." keluh Nici dengan wajah memberengut kesal. Dia memutar otak mencari ide untuk membuat Shelia mau mengajak Richard ke kamarnya.


Sebuah ide terbit dalam otak kecil Nici, dia tersenyum smirk lantas berlalu.


Kyaaaa...!!!!


"Tikus!!! Tikus!!!" Teriak Shelia sembari melompat dari atas ranjang dengan wajah ketakutan.


Brakk!!!


Pintu kamar terbuka seketika, Richard menyeruak masuk, "ada apa?!" Tanya Richard panik.


"A-ada tikus! Tolong buang, bunuh atau apa sajalah, tapi singkirkan dari kamar ku!" Shelia berjongkok di atas kursi, dengan mata melempar pandang waspada.


"Dimana tikusnya? Dimana?" Richard mencari-cari keberadaan makhluk kecil pengganggu itu.


"Ta-tadi di sana!" tunjuk Shelia ke arah kolong lemari.


"Mana? Gak ada ko." ucap Richard.

__ADS_1


"Beneran tadi ada di sana!" ucap Shelia kekeh.


"Tapi beneran gak ada! Udah ah aku ngantuk, sebaiknya kamu tidur juga." Richard hendak melenggang keluar, namun perkataan Shelia menghentikan niatnya.


"Ka-kamu jangan pergi, ti-tidur di sini aja." Ucap Shelia dengan gugup.


"Hah, Beneran?!" Tanya Richard tak percaya.


"Beneran, tapi, kamu tidur di sopa."


"Baiklah!"


Akhirnya mereka pun tidur bersama di tempat tidur berbeda. Namun, bagi Richard ini suatu kemajuan untuk hubungannya dengan Shelia.


"Daddy, gimana semalam?" tanya Nici saat dia di antar oleh Richard ke sekolah.


"Semalam, Daddy tidur nyenyak." jawab Richard enteng, dia bukannya tidak mengerti kemana arah pembicaraan Nici, namun dia enggan mengatakan hal aneh-aneh di depan bocah berumur lima tahun tersebut.


"Oh gitu, kapan aku akan punya adik?" tanya Nici dengan polosnya.


"Adik tidak akan datang secepat itu." Richard mengacak rambut putranya itu dengan gemas.


Terlihat Cherry gadis kecil teman Nici, berlalu dengan wajah mematut. Entah apa yang terjadi padanya, wajahnya nampak sembab, dia berjalan sambil menunduk. Terlihat Bibi Marry mengikutinya dari arah belakang.


"Nyonya Marry, ada apa dengan Cherry?" Tanya Richard mewakili pertanyaan yang ingin di tanyakan Nici.


"Nona Cherry dia, akan pindah ke luar negri besok!" ucap Bibi Marry dengan wajah sedih.


Deg...!!!


Nici bungkam seketika, dia tak mampu berucap sepatah kata pun.


"Kenapa Cherry harus pergi keluar negri?" Tanya Richard lagi, dia seolah mengerti isi pikiran putranya.


"Itu keinginan orang tua Nona Cherry, mereka khawatir jika terus membiarkan Nona Cherry tinggal di tempat ini tanpa penjagaan. Lagi pula, kemungkinan mereka akan menetap di sana." Ujar Bibi Marry.


"Oh begitu."


Nici berlari ke arah taman tempat biasa Cherry berdiam diri bersamanya, mengasingkan diri dari kebisingan teman-temannya.

__ADS_1


Nici berdiri menatap Cherry dari kejauhan, dia tak bisa mengatakan apa pun pada Cherry, "ingin Daddy yang bicara?" Richard menawarkan diri. Nici hanya mengagguk sebagai jawaban.


Richard berjalan dan duduk di samping Cherry. "Cherry!" Richard menyentuh pundak kecil Cherry.


__ADS_2