
Gadis itu melempar pandang tak percaya, menilik penampilan Nici dari atas ke bawah, dia yakin kalau Nici adalah anak orang kaya, jadi tidak mungkin dia tidak punya uang. Lagi pula sekolah mereka ini termasuk sekolah elit, tidak mungkin orang biasa-biasa saja bisa bersekolah di tempat ini.
"Jangan banyak alasan cepat serahkan uang bekalmu. Atau...." Gadis itu Merendahkan suaranya dengan nada sedikit mengancam.
"Kamu tidak akan tenang bersekolah di sini!" Ucapnya setengah berbisik, namun Nici tetap mampu menangkap suara tersebut di indra pendengarannya.
"Oh!" Jawab Nici singkat namu terkesan menantang.
"Kamu gak takut?!" Tanya gadis itu sedikit keheranan, biasanya kebanyakan anak-anak akan ketakutan jika mendapat ancaman dari teman se-kelas yang suka jahil. Tapi, anak ini berbeda dia tampak tenang tanpa rasa takut sama sekali. Merasa tidak puas dengan sikap Nici yang tak merespon sama sekali, gadis itu mencubit tangan Nici cukup kencang hingga Nici meringis dan menatap sebal pada gadis itu.
"Dasar aneh!" Ucapnya, sambil menepis tangan gadis itu dari lengannya. Nici lantas berlalu, gadis itu hanya diam mematung di tempat, menatap Nici yang berlalu dengan santainya.
"Tuan kecil!" Panggil Ken yang datang sambil terengah-engah karena berlari.
"Tuan bisa masuk kelas sekarang, saya sudah bicara dengan kepala sekolah! Tuan kecil jangan takut, Ayah Tuan penyumbang dana terbesar di sekolah ini, jika ada masalah atau ada yang berani membuli anda, katakan saja nama belakang keluarga Tuan, pasti mereka akan meringkuk ketakutan!" Hahahaha....Ken tertawa puas, merasa bangga dengan yang dikatakannya.
__ADS_1
Ssstttt! Nici mendesis, sambil melempar pandang memperingatkan agar Ken diam. Ken pun merapatkan mulutnya seketika. Dia melirik gadis kecil yang nampak diam mematung tak jauh dari posisinya.
"Ehem hay!" Ken melambaikan tangan menyapa gadis itu. Namun gadis itu tak membalasnya dia malah berbalik dan berlalu pergi.
Jam pelajaran pun di mulai!
Tampak gadis kecil tadi, duduk di kursi belakang yang nampak berada di sudut ruangan. Sesekali dia melirik ke arah Nici dengan ujung matanya. Namun, ketika Nici menoleh ia pun lekas kembali menatap ke arah guru yang tengah mengajar mereka di depan.
Waktu berlalu, sekolah pun di bubarkan. Saatnya untuk Anak-anak kembali pulang, para orang tua sudah siaga di depan kelas untuk menjemput anak-anak mereka pulang. Seperti hal nya orang lain Nici pun sama, Ken sudah setia menunggu di luar kelas sebagai pengganti orang tuanya untuk menjemput Nici dari sekolah.
"I-ibu, ja-jangan tinggalkan aku. Hiks...!! Aku akan patuh, sungguh." Rengeknya di sela-sela isak tangisnya. Tangis lirihnya terdengar pilu, membuat hati Ken merasa tersayat. Dia pun lantas berjongkok dan mengusap lembut kepala anak itu.
"Nak, jangan sedih ayo biar Om yang antar kamu pulang." Ucap Ken, membuat gadis itu mendongak menatap ke arah Ken dan bergantian ke arah Nici, dia memalingkan wajahnya seketika. Ya dia adalah gadis yang mencari masalah dengan Nici tadi pagi, tampaknya dia sedikit malu, perihal apa yang telah ia lakukan dan katakan pada Nici tadi pagi.
"Emh... Tidak papa Om, nanti aku pulang naik Taksi saja." Ucap gadis itu sambil mengusap air mata dengan punggung tangannya.
__ADS_1
"Anak se-kecil kamu naik kendaraan umum sendirian, apa gak takut di culik?!" Ken memberi pertanyaan sekaligus menakuti gadis tersebut. Lagi pula, benar adanya apa yang di ucapkan Ken, anak se-kecil gadis itu yang baru saja berusia 6 tahun, mana mungkin di biarkan pulang seorang diri.
Gadis itu nampak enggan, namun tak ada pilihan lain baginya, dia pun terpaksa menerima tawaran Ken, lantas ia pun berdiri, namun tetap tak berani menatap Nici dengan kedua netra mungilnya.
Nici dan gadis tersebut duduk berdampingan di kursi belakang. Gadis itu nampak gugup, namun tidak dengan Nici dia tetap duduk santai sambil melempar pandang ke luar jendela.
"Ma-maafkan aku, so-soal tadi pagi." Gadis itu menunduk menatap sepasang sepatu yang ia kenakan, tangannya ia tautkan satu sama lain di atas pangkuannya. Nici mengalihkan pandangan dari jalanan, beralih menatap gadis itu.
"Tadi pagi apa? Tidak ada yang terjadi tadi pagi!" Sanggah Nici, dia tak ingin lagi membahas masalah yang tidak perlu.
"Ta-tapi--," Nici mengabaikan perkataan gadis itu, dia malah bertanya siapa nama gadis itu.
"Siapa nama mu?" Tanya Nici.
"Nama ku Khanza," jawab gadis itu disertai senyuman yang mengembang di wajahnya.
__ADS_1
"Hem...nama yang cantik." Ucap Nici, yang seketika membuat mata Khanza membola. Ken yang sedari tadi diam nampak mengintip dari kaca spion sambil diam-diam tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan.