Anak Genius: Ayahku Konglomerat!

Anak Genius: Ayahku Konglomerat!
Bab 38 : Nyamuk Besar!


__ADS_3

"I-ingin apa?" Tanya Shelia gugup, sambil berusaha mendorong tubuh Richard agar sedikit menjauh darinya.


"Jangan pura-pura bodoh sayang, kita sudah sama-sama dewasa aku tidak perlu memperjelas perkataan ku kan?" Richard semakin mempererat rangkulannya, dia tak ingin menyia-nyia kan moments seperti sekarang.


"Ta-tapi, ini masih siang. Nici belum tidur dan ada Ken juga." Membayangkan saja suaranya terdengar sampai keluar membuat Shelia malu setengah mati.


"Ruangan ini kedap suara, kau tenang saja."Bisik Richard di daun telinga Shelia. Tingkahnya sudah mulai tak terkondisi kan lagi.


Wajah Shelia memerah seketika, belum sempat ia buka suara, bibirnya sudah di ***** habis oleh pria yang kini telah menjadi suaminya itu.


'Apa yang aku takutkan lagi? Mari kita mulai awal yang baru!'


Shelia membalas perlakuan Richard padanya, hingga apa yang Richard harapkan pun akhirnya terjadi.


***


Hembusan angin lembut membelai wajah Shelia yang tubuhnya masih terbungkus selimut tebal, seolah sengaja membuat wanita satu anak itu terbangun. Shelia perlahan membuka matanya, tubuhnya terasa remuk redam.


"Selamat pagi sayang!" Ucap Richard dengan suara riang. Dia berbaring dengan kepala di tumpu sebelah tangannya, wajahnya tersenyum senang! Wangi lembut nan segar menguar dari tubuhnya, rambut yang nampak masih basah menambah ketampanannya. Untuk beberapa saat Shelia terkesima, betapa tampannya Pria ini.


"Sudah puas?! Berapa lama kau akan memandangiku?" Goda Richard sambil tersenyum jahil, "apa istriku baru menyadari kalau suaminya begitu tampan." Richard terkekeh.


"Hemh, siapa juga yang memandangimu! Kau jangan terlalu percaya diri!" Shelia beranjak duduk dengan memasang wajah kecut, sebetulnya itu hanya untuk menutupi rasa malunya. Nyatanya memang benar dia tersihir oleh paras Richard tadi.


"Benarkah?!" Richard memasang wajah tak percaya.


"Sudahlah!" Shelia mengibaskan tangannya, "jam berapa sekarang?"


"Jam Sepuluh!"


"Malam?!" tanya Shelia sembari mengedarkan pandang ke sekeliling kamar.


"Pagi sayang!" Jawab Richard sambil tersenyum simpul.


"Apa?!!!!" Teriak Shelia kencang, "kenapa kau baru bilang sekarang? Astaga! Nici harus sekolah, aku harus mempersiapkan dia, aku bahkan terlambat untuk bekerja." Shelia hampir melompat dari ranjang dengan tubuh tertutup separuh oleh selimut.


"Tenanglah sayang!" Richard menarik Shelia kembali ke ranjang, "Nici sudah pergi sekolah dengan Ken! Sedang untuk pekerjaan, aku sudah meminta cuti beberapa hari untukmu! Jadi sekarang, mari kita lanjutkan urusan kita yang belum selesai!"


Plak...!! "Urusan belum selesai kepalamu!" Shelia menggeplak kepala Richard kesal.


Ouch...!! "Sakit sayang." Keluh Richard dengan wajah mematut, seperti anak kecil.


Shelia memalingkan muka, dia tak ingin menghiraukan suami menyebalkannya itu, dia tak ingin bersikap lunak dan membuatnya harus berakhir kembali jadi santapannya.


"Diam! Jangan berakting lagi, akting mu sangat buruk. Aku mau mandi dulu!" Shelia bangkit dan berjalan menuju kamar mandi, sesuai dugaannya Richard akan mengekorinya di belakang.


"Kamu mau apa?!"

__ADS_1


"Mandi!" Jawabnya enteng.


"Bukannya kamu udah mandi?"


"Mau mandi lagi!"


"Itu pemborosan sabun mandi!" Shelia menyilangkan tangan di dada sambil menatap kesal pada suaminya itu.


"Aku punya pabriknya!"


"Terlalu sering mandi akan membuat kulit kering."


"Kualitas sabun mandi yang aku buat sangat bagus, tidak akan membuat kulit kering, bahkan akan membuat kulit semakin putih dan lembab." Jawab Richard masih memberi alasan.


"Tapi sekarang aku mau mandi duluan!" geram Shelia dengan wajah kesal.


"Ya sudah kita mandi bersama." Richard mengangkat bahu sambil tersenyum.


"Dasar mesum!" Brak...!!! Shelia secepat kilat masuk kamar mandi dan menutup pintu tampa sempat Richard bereaksi.


Hey...?!! Teriaknya! Shelia tak mempedulikannya lantas ia membuka kran air, agar tak mendengar omelan Richard.


Setengah jam berlalu! Shelia telah menyelesaikan ritual mandinya, ia pun mengenakan jubah mandi dan membungkus rambutnya dengan handuk kecil.


Ceklek...!! Ia membuka pintu.


"Apa yang kau lakukan di depan pintu?"


"Menunggumu!"


Oh... Shelia memutar bola mata malas, dia berjalan menuju lemari pakaian dan memilih satu set baju rumahan untuk ia kenakan.


"Kau tidak bekerja?!" Tanya Shelia yang menyadari Richard tengah memperhatikannya dari ambang pintu.


"Aku baru saja menikah! Kakek bilang aku tidak perlu datang ke kantor."


"Baru saja menikah apanya? Kita sudah menikah beberapa bulan!" Sanggah Shelia tak setuju.


"Benarkah?! Aku malah merasa baru tadi malam kita menikah." Richard pura-pura berpikir.


Sheila menutup pintu lemari, dia menghela nafas dalam! Dia berjalan mendekat dan mengecup pipi Richard lembut.


"Maaf! Aku belum bisa menjadi istri yang sempurna untukmu, maaf untuk waktu yang lalu dan terima kasih untuk segalanya, atas cintamu untukku dan Nici."


Richard menaruh jari telunjuk di bibir Shelia, "jangan berterima kasih, ini adalah kewajibanku." Richard mengecup telapak tangan Shelia, "terima kasih telah menerima cintaku!" Richard menyergap bibir Shelia, kali ini dia melakukannya dengan lembut dan penuh perasaan.


Setelah beberapa saat, Shelia mendorong dada Richard pelan, hingga panggutan mereka terlepas "oke cukup, Nici sebentar lagi akan pulang!"

__ADS_1


Shelia mengalihkan perhatian Richard pada putra mereka, jika tidak. Shelia harus kembali mengulang mandinya kembali.


Siang hari, Nici pulang di temani Ken!


"Mami!" Teriak bocah kecil nan menggemaskan itu, seraya berlari dan duduk di pangkuan Shelia. "Mami kau tidak apa-apa?!" tanyanya dengan nada khawatir.


"Mami... Tidak apa-apa! Memangnya kenapa?" Tanya Shelia keheranan.


"Leher Mami merah-merah, apa Mami terkena cacar?!"


ffpptt...!! Mata Shelia membulat sempurna, Ken menutup mulut menahan tawa, sedang Richard dia hampir saja tersedak es dari minuman yang ia teguk.


"Errr... Ini bukan cacar sayang, Mami hanya tidak sengaja di gigit nyamuk, di Rumah papa banyak nyamuknya." Shelia tersenyum malu.


"Nyamuk jenis apa, yang ukuran gigitannya sebesar dan sebanyak ini?!" Nici nampak berpikir, dalam pikirannya terlintas dia harus mengetahui nyamuk jenis apa yang menggigit Maminya dari internet.


'Astaga anak ini!' Shelia mengedipkan mata memberi isyarat pada Richard agar mengalihkan perhatian Nici dari nyamuk itu. Agar dia tak lagi mengintrogasi Shelia perihal nyamuk yang mengigitnya tadi malam, hingga meninggalkan bekas merah di lehernya.


"Haha Nici! Daddy punya sesuatu buat kamu!" Richard mencari alasan.


"Apa itu?" Dia nampak tertarik.


"Ayo ikut Daddy!" Ajaknya. Mereka pun berlalu ke ruang kerja Richard, membuat Shelia seketika bernapas lega.


Ken nampak memalingkan wajah ke arah lain sambil mengulum senyum di bibirnya.


"Ken berapa lama kamu kerja dengan Richard?" tanya Shelia sembari menyeruput cangkir teh nya.


Ken menjawab, "Lima tahun Nyonya!"


"Sudah cukup lama ya?" Shelia mengangguk-anggukan kepalanya.


"Emh... Begitulah."


"Apa kau sudah ingin pensiun? Aku bisa membicarakannya dengan Richard." Shelia tersenyum Devil.


What...?! Mata Ken membulat sempurna, senyumannya memudar seketika.


"Nyo-nyonya! Kau begtu baik, cantik dan paling cocok dengan Bos! Harap pertimbangkan keputusan anda." Wajah Ken memelas.


"Kau menertawakan kami tadi, kalau Richard tau--," Shelia mengangkat sebelah alisnya, entah mengapa dia sangat senang melihat ekspresi ketakutan di wajah Ken.


"Ja-jangan, ku mohon nyonya. Jangan beri tahu Bos, kalau Nyonya beri tahu Bos, aku akan tamat!" Ken berlutut dengan wajah menyedihkan, membuat Shelia merasa bersalah.


"Sudahlah Ken, kau bangun dulu. Tenang saja, aku tidak mengatakan apa pun." Shelia tersenyum manis, membuat Ken mendongak menatapnya.


Ehem...!!!

__ADS_1


__ADS_2