
"Nic." Gumam Daren pelan, setelah mereka menyelesaikan makan malamnya dan Shelia tengah mencuci piring di dapur.
"Bantu Papi minta maaf!" Tambahnya, "nanti Papi belikan Ice Cream." Bujuk Daren.
Belum sempat Nici bicara Shelia sudah datang menyela, "Daren, kita adalah teman. Meski kita tidak menjadi suami istri, kita tetap keluarga. Nic, adalah putramu juga, aku harap kamu faham maksudku!" Ucap Shelia dengan nada lembut.
Daren menghembuskan nafas kasar lantas berkata, "Oke, aku mengerti. Tapi, jangan melarang aku bertemu Nic, dan aku masih tetap bisa mengunjungi kalian, kan?"
"Tentu saja, datanglah kapan pun kamu sempat." Shelia tersenyum, sembari menepuk pundak Daren pelan.
Shelia dan Nici pun kembali pulang ke rumah mereka.
***
Ke esokan harinya, Nici sudah mengenakan seragam sekolah di tuntun ke rumah Bibi Marry, tempat biasa Shelia menitipkan Nici ketika dia hendak ke sekolah.
Tok...Tok...!!
Shelia mengetuk pintu rumah Bibi Marry beberapa kali, rumah nya hanya terhalang beberapa rumah darinya.
Ceklek...!!
Pintu pun terbuka, menampakan Bibi Marry dengan senyuman ramahnya, "oh Nyonya Shelia, mari masuk!" Ajaknya sopan.
"Ah tidak usah Bibi, saya harus pergi bekerja takut telat. Saya titip Nici ya seperti biasa!" Ucap Shelia.
"Oke Nyonya, percayakan saja Nic sama saya. Saya akan menjaga dia, seperti saya menjaga Cherry." Bibi Marry tersenyum lembut. Sungguh Shelia merasa beruntung telah di pertemukan dengan Bibi Marry yang baik hati.
"Terima kasih Bibi. Nici kamu gak boleh nakal ya. Dengarkan kata Bibi Marry oke, jangan bertengkar dengan Cherry kamu Anak laki-laki lebih banyaklah mengalah, Mami pergi dulu." Shelia mengecup pucuk kepala Nici.
__ADS_1
Nici masuk ke dalam rumah Bibi Marry dan duduk di sopa, seperti biasa Bibi Marry menghidangkan biskuit yang sama setiap harinya dan segelas susu untuknya.
Seorang gadis kecil berjalan keluar dengan senyuman tersungging di bibirnya, dia adalah Cherry Tomlinson, dia Anak asuh Bibi Marry, orang tuanya berada di luar negri, mereka khawatir kalau Cherry tinggal di rumah yang terlalu besar dia akan merasa kesepian, jadilah mereka menyuruh Bibi Marry merawat dia di rumahnya saja.
"Nici tunggu!" Dia mengejar Nici yang sengaja berjalan lebih dulu, Nici malas meladeni celotehan gadis ini yang selalu saja bawel dan berisik. Cherry berlari mengejar Nici yang sudah masuk gerbang lebih dulu, rambutnya yang di kuncir dua mengayun mengikuti gerakannya.
"Kamu jalannya jangan cepet-cepet, aku capek ngejar kamu." Ucapnya dengan nafas tak beraturan, Nici hanya diam tak menggubris perkataan Cherry dan tetap berjalan sembari memasukan tangan ke dalam saku celananya.
"Nici." Ucapnya manja, dengan wajah mematut. Dia kesal karena Nici mengabaikannya, di mata semua anak Nici anak yang pendiam dia tidak mudah bergaul dia lebih banyak menyendiri, hanya Cherry yang selalu mengikutinya kemana pun dia pergi.
"Jangan panggil aku begitu." Ucapnya dengan nada kesal.
"Kenapa? Tante Shelia, manggil kamu Nici, kenapa aku tidak boleh?" Hiks... Hua... Cherry menangis dengan keras, dia merasa Nici tidak pernah menyukai dan tidak mau berteman dengannya.
"Hey jangan menangis!" Nici gelagapan, dia tidak menyangka Cherry akan menangis sangat kencang karena kata-katanya barusan.
"Cherry kenapa kamu nangis sayang?" Ibu guru Elma datang tiba-tiba, "Nic, kamu yang membuat Cherry menangis?" Tanya Bu guru lembut.
"Lalu kenapa Cherry nangis?"
"Di--dia bi-lang Ce--Cherry gak boleh panggil dia Nici, ha--hanya I--bunya yang boleh, dia gak mau temenan sama Cherry, hiks...." Ucapnya tersendat-sendat.
"Oh hanya karena itu, Ibu kira apa. Sudah-sudah jangan menangis, nanti kamu bicara baik-baik lagi sama Nic ya." Ibu menggiring Anak-anak masuk ke kelas.
Pelajaran pun di mulai, seperti pada umumnya Anak seusia Nici, mereka belajar di Taman Kanak-kanak, mereka bermain sambil belajar, menggambar, menyanyi dan mewarnai.
Nici menatap malas, pada buku bergambar di depannya, ini benar-benar terlalu mudah untuknya, dia bosan berada di dalam kelas, dia malah merasa mengantuk. Terlihat Cherry tengah mewarnai buku bergambar nya, sepertinya dia masih marah perihal tadi, biasanya gadis kecil itu tak henti-hentinya terus bicara, membuat Nici pusing setiap saat.
Waktu istirahat pun tiba!!
__ADS_1
Semua Anak membawa bekal makanan dari rumah masing-masing, mencegah agar anak-anak tidak jajan sembarangan. Nici membuka bekalnya sendiri, terdapat nasi dan makanan pelengkap lainnya seperti sayur, daging dan sebagainya. Nici melirik Cherry yang sedari tadi tidak menoleh sedikit pun ke arahnya, rasanya aneh jika gadis bawel itu sama sekali tidak bicara.
"Ehem... Kamu boleh manggil aku Nici!" Ucap Nici sengaja sedikit mengeraskan suaranya. Akibatnya, bukan hanya Cherry yang mendengarnya, namun semua Anak-anak yang ada di ruangan itu, jadilah semua menertawakan Nici dan mengolok-olok dia.
"Nici?! Nama macam apa itu?" Semua anak-anak menertawakan Nici, terkecuali Cherry dia nampak marah, tubuhnya sedikit bergetar.
"Nici itu nama yang imut tahu!" Sanggahnya dengan geram.
"Imut? Kalau aku tidak mau di panggil imut, itu lebih terdengar seperti panggilan untuk anak perempuan!" Salah satu Anak laki-laki teman sekelas Nici berucap sambil bergidik.
"Haha, benar dia kan seprti Anak perempuan! Dan kalian tahu, dia sama sekali tidak punya Papi!" Hah?! Semua ber-hah ria, sembari berbisik-bisik.
"Jadi kalau dia tidak punya Papi, anak siapa dia?"
TIDAK PUNYA PAPI! ANAK HARAM! WAJAHNYA SEPERTI PEREMPUAN! BUKANNYA GANTENG MALAH TERLIHAT CANTIK!
Semua kata-kata itu mereka layangkan pada Nici, namun anak itu hanya diam saja. Cherry lah yang berusaha melawan, dengan berteriak membela Nici dan bertengkar dengan Anak-anak yang lain. Hingga dia mendapat teguran dari Bu guru Elma karena bertengkar dengan anak yang lain, dan Bu guru memberi tahu Bibi Marry, jadilah Shelia pun tahu perihal penghinaan dan cemoohan yang di dapat Nici di sekolah.
Sudah sejak pulang bekerja, Shelia berdiam diri di kamar membuat Nici merasa resah.
"Mami! Aku ingin beli makanan ringan, apa boleh?" Ucap Nici, mencoba berbicara dengan Ibunya.
"Belilah Nak, tapi cepat pulang ya." Jawabnya parau.
'Mami pasti menangis lagi.'
Nici menghela nafas berat, dengan langkah gontai dia berjalan menuju mini market yang tidak jauh dari apartemen tempatnya tinggal. Setelah merasa cukup dengan apa yang dia beli, Nici pun lekas kembali.
Uhuk...Uhuk...!!
__ADS_1
Terdengar suara batuk dari dalam sebuah gang sempit yang ia lewati, Nici berhenti dan menilik ke gang tersebut. Dia melihat, seorang pria dewasa bersimbah darah di dalam sana, tubuhnya tampak lemah. Nici diam mematung kala melihat wajah pria itu.
"Dia...?!"