Anak Genius: Ayahku Konglomerat!

Anak Genius: Ayahku Konglomerat!
Anna dan Daren


__ADS_3

Shelia memandang keluar jendela, menatap awan putih yang berarak sepanjang Ia memandang. Burung kecil nampak bergerombol melewati kendaraan udara yang Ia tumpangi bersama Richard.


"Kau tidak mengantuk?" tanya Richard yang memerhatikan sang Istri.


Shelia menggeleng masih dalam posisi yang sama, "ada apa? Apa kau sedih karena kita hanya sebentar tinggal bersama orang tua mu?"


Shelia berbalik dan langsung menelusupkan diri di dada Richard, "tak apa, masih banyak waktu untuk kami bertemu lagi. Hanya saja aku sedang memikirkan tawaran Papah untuk mengambil alih perusahaan." Ujar Shelia. Wangi parfum yang Richard gunakan membuat Shelia menjadi candu ingin terus dan terus berada dalam pelukan suaminya.


"Oh soal itu," Richard terdiam kembali tampaknya dia tengah berpikir.


"Aku anak mereka satu-satunya, mereka tak punya anak lagi. Meski perusahaan milik kami tak sebesar milikmu, namun itu adalah hasil kerja keras Papah, aku tak ingin mengecewakan mereka, selama ini aku sudah menjadi anak tak berbakti, Aku hanya ingin membuat mereka hidup tenang di masa senja mereka." Ucap Shelia panjang lebar.


"Tapi, itu tandanya aku harus tinggal di tempat orang tua ku," Shelia mendongak menatap wajah Richard. Richard langsung menutupi wajah Shelia dengan telapak tangannya.


Aw!...Pekik Richard karena Shelia menggigit jari kelingkingnya, "kenapa sayang?" Richard terkekeh pelan.


"Kau tidak mendengarkan ku?" tanya Shelia ketus.


"Aku dengar, aku hanya masih belum tahu harus berkata apa. Jika harus berpisah darimu walau hanya sehari, rasanya aku tak siap," gumam Richard.


Baiklah, mungkin ini memang belum waktunya pikir Shelia, "Richard kapan kau membawa Nici kemari?" Shelia mengalihkan perhatian.


"Pagi sebelum acara makan malam tempo hari." Jawab Richard.


"Apa kau sudah tahu tentang keluargaku sejak awal?"


"Tentu saja, aku tak ingin melewatkan satupun kisah hidupmu," jawab Richard enteng.


"Kau seperti maniak." Shelia meninju dada Richard pelan.


"Jika itu tentangmu aku akan melakukan segala cara," Richard mengambil tangan Shelia dan menciumnya.


Di kursi depan tak jauh dari mereka, Nici tengah asik bermain game di Tab yang Ia miliki. Sedari tadi Ia merasai jika orang di sampingnya selalu saja tegang.

__ADS_1


"Apa Om mabuk udara?" tanya Nici masih dalam posisi yang sama.


"Tidak Om sangat kuat! Sejak kecil Om sudah bepergian ke berbagai negara bersama orang tua Om, jadi Om sudah terbiasa. Lagi pula Om sering menemani Daddy mu dalam perjalanan bisnis," ujar Ken menyombongkan diri.


"Bukan udara itu maksudku, tapi itu," tunjuk Nici ke arah belakang. Bola mata Ken pun mengikuti arah yang Nici tunjuk. Mata Ken berputar malas.


"Hey, anak kecil gak boleh liat." Ken merangkul Nici dan menukar tempat duduknya dengan Nici.


Nici, anak itu seolah sudah terbiasa dengan kelakuan kedua orang tuanya yang acap kali menunjukan kemesraan di depannya, namun masih dalam batas wajar, seperti berpelukan dan saling menyuapi satu sama lain.


Nici melirik Ken dengan malas, "Aku tidak peduli Om biarkan saja. Lagi pula, aku sudah terbiasa." Nici mengangkat bahu, Ken hanya menggeleng sambil menghela napas.


Tapi memang jujur saja malah Ken lah yang merasa terganggu, melihat kemesraan dua orang itu.


'Apa aku sebaiknya cepat-cepat cari pasangan?' gumamnya dalam hati.


***


Hari pun berlalu, Shelia sudah kembali pada rutinitasnya, begitu pula dengan Richard dan si kecil Nici.


"Shelia," suara seseorang yang Shelia kenali, seketika membuatnya kembali duduk tegak.


"Anna!" pekik Shelia girang.


"Apa kau baik-baik saja? Kenapa kau datang kemari? Tubuhmu masih lemah." Shelia bangkit dan menuntun Anna ke sopa.


"Aku tidak datang sendirian, aku di temani Daren." Ucap Anna.


"Daren?! Dia datang menemani mu?" tanya Shelia tak percaya. Anna mengangguk mengiakan.


"Dia masih di luar membelikan aku buah di toko sebelah," ujarnya, "ehem... Semua ini berkat kamu Shelia, terima kasih." Tambahnya. Shelia hanya mengedipkan mata sembari tersenyum.


Daren pun masuk dengan menjinjing sekeranjang buah segar, Ia pun meletakkannya di meja, "Anna bersikeras untuk menemui mu, padahal aku sudah menyuruhnya istirahat," keluhnya.

__ADS_1


"Aku sudah lebih baik Daren, aku bosan di rumah," ujar Anna.


"Terserah kamu saja lah." Daren berucap malas.


Shelia menyikut tangan Anna, memberinya Isyarat agar Ia meminta maaf, Shelia ingin hubungan Anna dan Daren menjadi lebih dekat. Anna sepertinya memahami Isyarat yang di berikan Shelia, dia lantas berucap, "maafkan aku Daren, aku salah. Lain kali aku akan mendengarkan semua perkataan mu."


"Bagus!" Daren mengusap kepala Anna lembut. Shelia tersenyum bahagia menatap kedua sahabatnya kini menjadi akur.


"Daren, aku kembalikan ini padamu." Shela menyodorkan sebuah map berwarna coklat.


Daren mengernyitkan dahi, "Apa?!"


"Aku tidak bisa menjalankan ini lagi, lagi pula aku akan meneruskan perusahaan milik Ayah ku." Shelia mengedikan bahunya.


"Apa-apaan sih kamu, aku sudah memberikan hak kepemilikan ini pada Nici, kamu tidak berhak memutuskan atau mengembalikan nya padaku." Daren nampak kesal.


"Oh ayolah, Nici memiliki Ayah yang kaya dan juga aku pewaris tunggal perusahaan Ayahku. Restoran kecil ini tak seberapa bagi Nici." Daren melotot tajam.


"Shelia, aku benar-benar tak menyangka kamu berubah, sangat berubah, kau bukan lagi wanita yang aku kenal." Daren merampas map yang pernah Ia berikan dulu, map yang berisi pengalihan kepemilikan Restoran tersebut.


Daren bangkit dan menarik Anna pula. Anna wanita itu hanya diam, entah mengapa suasana yang tadinya baik-baik saja tiba-tiba berubah. Anna sudah akan angkat bicara, namun Shelia mengisyaratkan dengan jari telunjuknya agar Anna tetap diam.


"Baik kalau begitu, aku ambil kembali tempat ini." ujarnya dengan nada kesal.


"Ah baguslah, aku sekarang juga akan pergi dari sini." Shelia merentangkan tangan dan menggeliat pelan.


Daren mendengus dan menarik Anna untuk ikut pergi bersamanya. Shelia tersenyum menatap kepergian dua orang sahabatnya itu, "semoga hubungan kalian akan langgeng. Ah, lagi pula ada yang lebih berhak atas Restoran ini dibandingkan aku dan Nici."


Daren menarik tangan Anna menyeretnya mengikuti langkah lebarnya, "Daren, aku lelah." Ucap Anna dengan napas tersengal setelah mereka sampai di tempat parkir. Seketika Daren langsung menghentikan langkahnya dan melepas cengkraman tangannya di lengan Anna.


"Maaf, aku hanya tak bisa mengontrol emosiku, apa kau baik-baik saja?"


"Aku baik, hanya sedikit lelah," Anna tersenyum lembut. Daren langsung memapah Anna dan membawanya duduk di kursi besi yang kebetulan ada di sana. Daren memberikan sebotol air mineral pada Anna, yang langsung Anna sambut dengan senang hati.

__ADS_1


"Anna, Kenapa Shelia melakukan ini?"


__ADS_2