Anak Genius: Ayahku Konglomerat!

Anak Genius: Ayahku Konglomerat!
Bab 39 : Kehamilan Anna!


__ADS_3

Ehem...!!


Ken dan Shelia sontak menoleh. Raut wajah Richard nampak tak senang.


"Kalian sedang membicarakan apa? Sepertinya sangat seru?!" Perkataan itu di tujukan pada Shelia.


Ken bangun seketika, "haha, tidak ada! Kami hanya berbincang tentang bagaimana Nici melewati harinya di sekolah, benar kan Nyonya?!" Ken mengatakan itu karena dia takut Shelia membocorkan perbincangan mereka tadi.


"Diam! Aku tidak bertanya padamu! Aku bertanya pada istriku!" pungkas Richard masih dengan raut wajah tak bersahabat.


Errr...!! 'Mengapa aku merasa ada aroma cemburu di sekelilingku?' batin Ken bergumam.


"Benar apa yang Ken katakan, aku hanya bertanya tentang sekolah Nici." Shelia tersenyum, yang membuat kecemburuan Richard perlahan memudar. Namun, tatapan mengancam ia hunuskan pada Ken, membuat sang asisten merasa ciut.


'Apa salahku? Mengapa aku begitu sial hari ini.' Batin Ken menangis dalam hati.


***


Waktu berlalu! Tak terasa beberapa bulan sudah Shelia tinggal bersama Richard ia mulai terbiasa dengan kehidupannya saat ini. Namun, ia masih tetap bekerja di tempat Daren.


Seperti biasa Shelia tengah mengecek data keluar masuk barang, pengeluaran dan penghasilan tiap harinya di mejanya.


Tok...Tok...!!


Suara ketukan pintu, membuat Shelia refleks menjawab tanpa melihat. "Masuk!" Ujarnya.


Di luar dugaan, ternyata yang masuk ke dalam ruangannya adalah Daren! Shelia mendongak menatap Daren yang berdiri di hadapannya sambil tersenyum.


"Hay!!" Sapanya seraya tersenyum.


Sudah beberapa bulan lamanya Shelia tak nampak batang hidung Daren, entah kemana Pria ini pergi. Apa kesibukannya dan di mana dia berada tak ada yang tahu.


"Hay." Sapa Shelia gugup dengan pandangan tak tentu arah.


"Boleh aku duduk?" Tanyanya sungkan.

__ADS_1


"Tentu saja! Kau Bos di sini, aku hanya pegawai mu kenapa kau bertanya padaku." Shelia melempar pandang ke arah lain.


"Itu dulu! Sekarang bukan lagi." Dia tersenyum.


"Apa maksudmu?!" Tanya Shelia keheranan.


Dia menyodorkan sebuah map coklat, "buka lah!"


"Apa ini?!" Tanya Shelia bingung.


"Bukalah, kau akan tahu." Jawan Daren seraya tersenyum simpul.


Dengan rasa penasaran yang tinggi, Shelia membuka map tersebut. "Apa-apaan ini?!" Tanyanya tak percaya.


"Apa kau serius?" Tambahnya, "aku tau kau sayang pada Nici, tapi Daren, dia bukan anakmu. Tidak pantas kau memberikan warisan padanya."


"Dia Sudah memanggilku Papi berarti dia anakku. Tidak peduli ada hubungan darah atau tidak aku dengan Nici, bagi ku, dia adalah anakku."


"Tapi, aku tetap tidak bisa menerima ini semua." Shelia mendorong map tersebut menjauh darinya.


"Shelia! Bukankah kau yang bilang, bahwa aku lah Ayah yang pertama Nici akui. Lantas setelah kau bertemu Ayah kandung Nici kau ingin membuang ku?" Daren tersenyum miris.


Daren tersenyum murung.


'Putra? Aku bahkan tidak berniat untuk menikah dalam hidup ini, kecuali denganmu Shelia. Lalu, bagaimana aku akan mendapatkan seorang putra?'


"Ah, jangan terlalu di pikirkan. Putra ku kelak, akan mendapat bagiannya sendiri, ini adalah bentuk kasih sayangku pada Nici! Shelia, tolong terima lah. Jangan menolak, atau aku akan menganggap kau membenciku."


"Baiklah, jangan bicara sembarangan lagi, aku tidak akan pernah membencimu." Dengan terpaksa akhirnya Shelia menandatangani surat pengalihan kepemilikan Restoran tersebut atas nama Nici, dan dia sekarang sebagai wali yang kini bertanggung jawab mengurusnya sampai nanti Nici dewasa.


"Terima kasih! Sampai jumpa, semoga suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi, Shelia." Daren bangkit dan hendak beranjak pergi.


"Kau mau pergi?!" Tanya Shelia yang refleks langsung berdiri. Daren hanya sedikit menoleh dan tersenyum tipis.


"Kemana?" Tanya Shelia lagi.

__ADS_1


"Ke tempat yang indah, dimana tidak ada rasa sakit hanya ada kebahagiaan dan senyuman." Jawabnya.


Shelia merasa ulu hatinya berdenyut nyeri, apa sebegitu dalam kah dia menyakiti hati Daren. Jujur Shelia merasa bersalah, tapi apa daya cinta tak bisa di paksa kan dan mungkin ini semua takdir Tuhan.


"Maaf." Satu kata itu lagi, yang hanya bisa keluar dari mulut Shelia.


"Sudahlah, aku pergi dulu! Hiduplah bahagia, jaga Nici dengan baik, ingat Papinya selalu menyayanginya." Punggung lebar Daren perlahan menghilang, Shelia menatap kepergian Daren nanar, hatinya di penuhi rasa bersalah.


***


Di tempat lain!


"Anna kau sudah gila, kenapa kau bisa hamil? Astaga, bagaimana aku akan mengatakan ini padanya?!" Anna merutuki kebodohannya sendiri, dia tidak menyangka hanya karena melakukannya sekali dia bisa hamil.


"Bodoh! Bodoh! Bodoh! Kau sangat bodoh Anna." Anna mengacak rambutnya frustasi, dia menggigiti kuku jarinya pelan. Saat ini dia sangat bingung, apa dia harus mengatakannya pada Ayah si bayi atau tidak.


"Jika aku katakan aku hamil, apa dia akan menerimanya? Ti-tidak, aku tidak ingin mengambil resiko di benci olehnya." Anna menggeleng kan kepalanya berusaha membuang niat di otaknya, "tapi, jika aku tidak katakan, bagaimana nasib anak ini kelak? Ah... aku sungguh bingung." Dilema besar kini menghantam otak Anna, saa ini dia sedang hamil, namun di sisi lain dia tau pria yang menghamilinya mencintai wanita lain.


"Aku harus bagaimana?!" Anna terduduk di lantai, dengan kepala menengadah ke langit-langit kamarnya. "apa aku sanggup menjadi Ibu tunggal? Aku tidak sekuat dan setegar Shelia." Anna mengusap pipinya yang telah membasah oleh tetesan air mata.


Anna meraba perutnya yang masih rata, "nak, aku mencintai Ayahmu, aku akan coba katakan padanya, kau tenang saja." Rasa sayang yang tumbuh semenjak Anna mendengar ada kehidupan dalam rahimnya perlahan menjalar ke setiap sel dalam dirinya, rasa ingin melindungi dan ingin memberikan yang terbaik kini memenuhi hati Anna.


Apa ini rasanya menjadi seorang Ibu? Bahagia, takut dan rasa was-was berbaur menjadi satu.


Perlahan Anna mengambil telpon genggamnya untuk mencoba menghubungi Daren.


Tut...Tut...


(Maaf nomor yang anda tuju sedang di luar jangkauan silahkan coba beberapa saat lagi)


Setiap kali Anna menghubunginya selalu saja seperti itu.


"Sial! Ada apa lagi dengan pria bodoh ini? Apa dia sedang mencoba untuk bunuh diri?!" Anna merasa khawatir sendiri dengan perkataannya. Secepat kilat dia pergi ke tempat persembunyian Daren selama ini. Dia bukannya pergi ke luar negri atau kembali ke keluarganya, dia malah memilih mengasingkan diri di temani botol minuman setiap harinya. Anna lah yang selama ini merawat dan memberi semangat untuk Daren agar dia bisa melepas Shelia agar bisa hidup bahagia.


Dor...Dor...!!

__ADS_1


Anna menggedor pintu apartemen kecil tersebut, takut saat ini dia sangat takut. Takut bayangan yang ada di kepalanya berubah menjadi nyata.


"Daren bodoh! Buka pintunya! Jika tidak, aku akan membakar rumah mu!" Teriak Anna sambil mengancam.


__ADS_2