Anak Genius: Ayahku Konglomerat!

Anak Genius: Ayahku Konglomerat!
Diculik


__ADS_3

Nici malas melihat hal yang selalu dia lihat tanpa sengaja saat pulang sekolah. Ya, Khanza yang di buli oleh Kakaknya. Dia kesal karena Khanza bersikap seperti orang tak berguna dan tak mau melawan.


Dia mengabaikan Khanza dan berlalu keluar gerbang sekolah, dia memutuskan untuk menunggu Ken di luar. Setelah beberapa saat menunggu bukannya mobil Ken yang datang, malah sebuah mini bus asing berwarna silver, satu orang tak dikenal dengan penutup wajah, seketika keluar dari sana dan menarik Nici lantas menggendongnya. Nici meronta berusaha melepaskan diri dari cengkraman sang penjahat hingga sepatu yang Ia kenakan terjatuh, namun usahanya sia-sia saja tubuhnya kalah jauh dari si penjahat itu.


"Hey lepaskan dia!" Teriak seorang gadis kecil, yang ternyata adalah Khanza. Dia berusaha menarik dan menggigit lengan penjahat itu agar tak membawa Nici bersamanya.


"Aw...," pekik sang penjahat karena merasai tangannya berdenyut nyeri karena gigi mungil Khanza, "minggir!" Penjahat itu berusaha menghempaskan Khanza, namun Khanza berpegangan dengan erat ke lengan penjahat tersebut, seolah tak ingin lepas.


"Apa yang anak ini lakukan? Sialan!"


"Sudah bawa saja dua-duanya!" Ucap orang yang lainnya dari dalam mobil dengan wajah panik.


"Jangan bawa dia, cukup bawa aku saja." Teriak Nici.


"Ah... Persetan! Bawa saja dulu." Orang itu melempar Nici kedalam mobil dan memangku Khanza pula dan melemparnya bersama Nici.


Mobil pun melaju kencang entah menuju arah mana. Nici diam sembari melempar pandang keluar jendela, Ia menghela napas berat, Ia berharap Ken bisa menemukan dia dari petunjuk yang Ia tinggalkan.


Setelah berjam-jam perjalanan mobil pun berhenti di sebuah tempat asing yang sepanjang mata memandang hanya terdapat pohon-pohon tinggi berjajar rapat, Nici dan Khanza di masukan ke sebuah rumah kecil yang hanya ada satu-satunya di tempat itu.


"Dasar bodoh! Kenapa kau tidak pergi?" Nici berucap dengan nada kesal, setelah para penculik meninggalkan mereka di dalam rumah.


"Aku tidak bisa membiarkan mu pergi bersama mereka sendirian." Khanza berucap dengan wajah polos.


"Astaga! Apa kau tidak tahu kalau mereka orang jahat?" Nici bertanya dengan keheranan.


"Aku tahu. Tapi, semua terjadi begitu saja," Khanza mengangkat bahu tak peduli, "disini lumayan gelap, juga sepi mungkin kita berada di kota lain." Ucap Khanza sembari menempelkan telinga ke dinding.


"Apa kau tidak takut?" Tanya Nici, karena melihat Khanza yang seperti tenang-tenang saja.


"Tentu saja Aku takut, bagaimana mungkin aku tidak takut. Apa mereka akan menjual kita untuk menjadi budak? Atau mereka, akan menjual organ kita?" Glek...! Khanza menyesali perkataannya sendiri, kini dia mulai merasa lebih ketakutan dari sebelumnya.

__ADS_1


Nici melipat tangan di dada seraya berucap sinis, "kenapa kau tidak berpikir seperti itu juga saat kau ingin ikut di culik bersamaku."


"Ah... Aku ingin pulang," hiks... Khanza menggerak-gerakan jari telunjuknya di lantai seolah sedang menggambar sesuatu. Nici bangkit dan menelusuri dinding berharap dapat petunjuk, ada sebuah jendela kaca yang cukup tinggi, Nici mendongak menatap jendela tersebut. Dia berpikir bagaimana cara dia bisa memanjat ke sana. Pandangannya Ia edarkan ke semua arah. Tak ada satupun benda yang dapat membawanya hingga mencapai jendela. Sebuah ide terlintas dalam benaknya.


"Ayo kita berkelahi!" ujar Nici tiba-tiba.


"Hah?" Khanza melongo mengapa Nici tiba-tiba mengajaknya berkelahi.


"Sudah cepat pukul aku!"


"Aku tidak mau." Tolak Khanza.


"Kalau begitu aku saja yang memukul mu."


"Hey, kau mau memukul Anak perempuan?" Khanza memekik keras.


"Memangnya kenapa? Kamu sangat menyebalkan, lihat wajahmu yang jelek itu!" Ucap Nici sengaja meninggikan suaranya.


"Kamu yang jelek!" Khanza bangkit dan mendorong pundak Nici.


"Kamu yang jelek, dan kamu juga bodoh!" Mereka teriak-teriak sambil mengejek satu sama lain


Tiba-tiba pintu pun terbuka menampakan satu orang pria yang tadi, namun kini tanpa penutup wajah, "kalian bisa diam tidak!" bentaknya dengan nada kesal.


"Dia terus mengejekku dan mengatakan kalau aku bodoh dan jelek," Khanza merajuk sembari membuang muka.


"Cuma masalah sepele, abaikan saja dia dan jangan berisik! Atau aku akan menyumpal mulut kalian!" Ancamnya.


Diluar dugaan, Nici bocah itu entah mendapatkan kayu dari mana dia memukul punggung sang penjahat cukup keras hingga dia jatuh tersungkur mencium lantai.


Bugh...!!! Aw... pekiknya keras.

__ADS_1


"Ayo lari!" teriak Nici, Khanza yang mendengar arahan Nici seketika berlari mengikutinya. Mereka berlari menerjang keluar, diluar dugaan ternyata di sana ada sorang lagi.


"Bagaimana ini?" tanya Khanza panik.


"Pukul saja lagi!" Nici kembali melayangkan Kayu bekas memukul pria tadi pada pria yang satunya lagi.


Grep...! Diluar dugaan Pria itu menangkap kayu Nici dengan sebelah tangannya, "heh bocah sialan! Mau kemana kalian hah?" Dia menghempaskan Nici dan mengambil kayunya.


Khanza memekik ketakutan, orang yang tadi di pukul Nici keluar berjalan sempoyongan, "sialan bocah ini memukulku!" keluhnya dengan ekspresi wajah kesal.


"Apa yang akan kita lakukan pada mereka?" Dia menyeringai menampakan deretan giginya yang tak beraturan.


Glek...!! Nici menelan Salivanya, dia mulai merasakan ketakutan, "ja-jangan sakiti dia," teriak Khanza histeris disertai tangisan keras.


"Ka-kalau kalian mau pukul, pukul aku saja." Ujar Khanza, walau dia begitu ketakutan dia tetap ingin melindungi teman kecilnya juga.


Hahahaha... Mereka tergelak secara bersamaan, tawa yang membuat tenggorokan Khanza seketika tercekat.


"Sudahlah, ayo kita kurung kembali mereka!" Dua penjahat itu hendak kembali membawa Khanza dan juga Nici namun, apa yang Nici dan Khanza lakukan mampu membuat mereka terlepas dari cengkraman kedua orang itu.


Dhuak...!! Ouch, pekik salah seorang dari mereka kala bagian intimnya terkena tendangan Nici. Sedang yang satunya lagi mendorong Khanza menjauh karena gigi susunya hampir saja merobek kulitnya. Tanpa aba-aba Khanza dan Nici seketika berlari! Mereka berlari serampangan tanpa tujuan, yang pasti mereka ingin berlari sejauh mungkin.


Dag...Dig...Dug!! Jantung mereka berpacu seirama dengan rasa takut yang kian memuncak, kala teriakan salah satu dari mereka terdengar. Nici dan Khanza berlari di tengah rapatnya pephonan, dia menyeruak di antara tumbuhan-tumbuhan liar.


Nic berhenti sejenak sembari mengatur napasnya, dia merasai denyutan di kakinya. Dia berlari tanpa alas kaki membuat Kakinya penuh dengan luka, dia meringis kesakitan.


"Jangan berhenti, ayo kita lari lagi!" Ucap Khanza.


"Kaki ku sakit." Keluh Nici, Khanza melihat Kaki Nici yang terbalut kaus kaki kini berubah warna menjadi merah penuh dengan darah.


"Kau terluka? Dimana sepatu mu?" tanya Khanza.

__ADS_1


"Aku meninggalkannya sebagai petunjuk," ucapnya sambil meringis.


"Bagaimana sekarang? Mereka semakin dekat." Bisik Khanza kala mendengar suara dari penjahat itu tak jauh dari mereka berada kini.


__ADS_2