Anak Genius: Ayahku Konglomerat!

Anak Genius: Ayahku Konglomerat!
Bab 29 : Apa salah ku?


__ADS_3

Deg...Deg...!!


Pandangan mereka saling bertemu, jantung pun berpacu seiring hembusan nafas lembut mereka yang saling menghangatkan.


"Maaf permisi!" Nici yang tidak di sadari keberadaannya beberapa saat yang lalu, berucap sambil berlalu keluar. Membuat Shelia dan Richard lekas mundur dengan ekspresi wajah canggung.


"Nici, ayo berangkat sekolah!" Ucap Shelia sembari merapikan pakaiannya, dengan wajah bersemu merah.


"Shelia, tunggu!" Richard mencengkram tangan Shelia yang hendak berlalu.


"Ada apa?" Tanya Shelia sambil menoleh, begitu pun Nici yang sudah berada di luar kamar kembali menengok ke dalam kamar.


"Kamu tidak perlu bekerja lagi,"ujarnya. Shelia mengerutkan dahi, lantas melipat tangan di dada.


"Kenapa aku tidak boleh bekerja? Aku tidak suka di kekang, aku bukan wanita rumahan aku terbiasa hidup mandiri, jika kamu suka wanita yang bisa di pelihara maka aku bukan pilihan terbaik untukmu." Ucap Shelia tegas.


"Bu-bukan itu maksudku, sekarang kamu punya aku, kamu bisa mengandalkan aku kenapa masih ingin bekerja?" Ucap Richard menerangkan maksud dan tujuannya.


"Aku hanya ingin punya penghasilan sendiri, dan aku terbiasa dengan itu." terang Shelia.

__ADS_1


"Berapa yang kau inginkan? 10 juta atau seratus juta aku bisa memberikannya?" Ucapnya serius.


Shelia melempar pandang kesal, "tidak perlu! Kau simpan saja uang mu itu!" Shelia terlihat marah dan berlalu pergi.


Nici yang menyaksikan adegan tersebut hanya bisa menghela nafas sambil menepuk dahinya pelan. Richard hanya diam dan menyaksikan kepergian Shelia dengan wajah bingung. Menurutnya apa yang ia lakukan bukan suatu hal yang salah, justru ia ingin membahagiakan Shelia, dia ingin Shelia menikmati hidup dan bersenang-senang dengan uang yang Richard berikan, namun nyatanya Shelia malah terlihat marah.


"Nici, apa Daddy mengatakan hal yang salah?" Tanyanya bingung.


"Hem sebenarnya maksud Daddy gak salah sih, tapi--," Belum sempat Nici menyelesaikan perkataannya teriakan Shelia membuatnya lekas menghampiri sang Ibu.


"Nici, ayo berangkat!" Teriak Shelia dari arah dapur, dia bahkan sudah menyiapkan bekal untuk Nici dan dirinya, tak lupa juga untuk Richard sudah tersimpan rapi di dalam tas kecil yang ada di atas meja.


"Ayo Mami!" Nici meraih tangan Shelia dan Shelia pun menuntunnya sembari berjalan keluar.


"Shelia, mau ku antar?" Ucap Richard yang datang mengejar mereka.


"Aku tidak ingin merepotkan seorang Direktur, aku bisa sendiri mengapa aku harus merepotkanmu." Richard memejamkan mata menahan diri untuk tidak mengatakan hal yang tidak pantas pada istrinya.


Richard berjongkok dan mengusap kepala Nici, "Sayang, apa kau tidak masalah jika yang mengantar kamu ke sekolah, Om mata panda?" Tanya Richard penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Baiklah!" Jawabnya.


Richard memerintahkan Ken yang sudah berada di parkiran untuk datang ke atas menjemput Nici, "pergilah dengan Om mata panda."


"Oke Daddy, selesaikan masalah mu dengan Mami. Hati-hati, Mami orangnya pendendam loh," bisik Nici di telinga Richard. Richard hanya mengangguk, lantas berdiri sambil melambaikan tangan pada Nici yang sudah berlalu bersama Ken.


"Shelia." Richard beralih pada Shelia yang sudah hendak berlalu pula. Namun ia lekas mencengkram pergelangan tangan Shelia dan menariknya dalam dekapannya. Richard melingkarkan tangan di pinggang ramping wanita satu anak itu.


"A-apa yang kau lakukan?" Shelia membulatkan matanya, dan berusaha memberontak. Namun, Richard semakin mengeratkan rangkulannya.


"Jangan selalu marah-marah, kamu sungguh jelek. Coba senyum." Goda Richard.


"Tidak mau!" Shelia memalingkan wajah dengan wajah mematut. "Lepaskan, ini di tempat umum!"


"Kalau di dalam rumah bagaimana?" Richard mengajukan pertanyaan menggoda sembari memainkan sebelah alisnya.


"Lepaskan aku Richard, jangan kurang ajar!" Bentak Shelia, sambil membalas tatapan Richard yang penuh kasih sayang dengan tatapan tajam.


"Panggil aku dengan sebutan suamiku sayang, baru akan aku lepaskan!" Richard tersenyum jahil.

__ADS_1


__ADS_2