Anak Genius: Ayahku Konglomerat!

Anak Genius: Ayahku Konglomerat!
Bab 12 : Godaan di pagi hari


__ADS_3

Shelia mengakhiri ceritanya, dia mengelus kepala Nici dengan lembut, dia menatap wajah lugu putranya yang telah tertidur di pangkuannya.


"Apa yang harus Mami katakan, Nak? Meski kamu terus bertanya siapa Ayahmu, Mami tetap tidak tahu. Malam itu terlalu mengerikan." Gumam Shelia.


Diluar kamar Richard menguping pembicaraan Nici dan Shelia, sedari tadi dia berdiri menyandar ke dinding dengan tangan terlipat di dada.


'Mendengar cerita Shelia tadi, aku ingat kejadian empat tahun lalu, saat aku di jebak oleh Martin dan berakhir salah masuk kamar. Sampai saat ini aku masih merasa bersalah, wanita itu... bagaimana keadaannya sekarang? Aku ingin minta maaf, tapi perbuatan ku rasanya tidak cukup hanya dengan kata maaf. Aku tidak punya keberanian, jika wanita itu meminta pertanggung jawaban ku.' Richard memejamkan mata sembari menengadahkan kepala.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Suara Shelia yang tiba-tiba membuat Richard langsung tersadar dari lamunannya dia pun membuka mata.


"Aku ingin tahu apa Nona memaafkan Nici atau tidak? Nona, jangan terlalu marah padanya dia masih kecil belum mengerti semua penderitaan yang Nona alami." Ucap Richard.


"Apa kau ingin minum kopi?" Tanya Shelia sembari berjalan ke arah dapur.


"Hem...." Richard mengikuti langkah Shelia, dia berdiri di ambang pintu, sembari bersandar.


"Dari mana kau tahu aku menderita? Kau menyimpulkan kehidupan orang tanpa bertanya." Ucap Shelia sembari memasukan bubuk kopi ke dalam gelas, selanjutnya gula. "Apa kau suka pakai coklat, atau susu? Atau kau suka kopi hitam?" tambahnya.


"Aku suka semua rasa, buatkan saja yang sama dengan Nona!" jawab Richard, "mungkin kamu terlihat tenang Nona, kamu juga nampak bahagia. Tapi mendengar kisah yang kau ceritakan tadi, aku dapat mengetahui segalanya, masalalu mu tidak mudah."


Shelia tersenyum sedikit, dia menyerahkan cangkir kopi pada Richard, dia pun berjalan dan duduk di kursi yang ada di balkon rumahnya.


"Udara malam sangat cocok untuk merenung ya." Shelia merentangkan tangan, dia tidak ingin lagi membahas masalalu nya, apa lagi dengan orang asing.


Richard menyeruput kopinya, 'Hem, rasanya enak! Baru kali ini aku merasakan kopi yang berbeda. Shelia dia terlihat sangat cantik, dia bahkan tidak terlihat seperti sudah memiliki anak.'


Richard tidak menyadari tengah menatap Shelia, hingga Shelia berucap, "bukankah kau ingin mengatakan bagaimana kau bisa terluka waktu itu?" Richard langsung mengalihkan pandangannya, untuk sesaat dia begitu terpesona oleh kecantikan Shelia.


Ehem...ehem. "Iya!" Richard menekan kegugupan dihatinya, terlebih dahulu sebelum bercerita. Untung saja Shelia tidak menyadari kalau Richard tengah memandanginya tadi.


"Sebenarnya, yang mencelakai ku adalah Pamanku sendiri." Shelia mengernyitkan dahi.


"Paman mu? Darimana kau tahu dialah yang ingin membunuhmu?"

__ADS_1


"Semuanya sudah terlalu jelas. Bahkan sudah sering kali dia menyuruh orang mencelakai ku, dan kali ini cukup fatal! Orang yang menjaga ku mati, untuk melindungi ku, dan aku juga terluka." Richard menghela nafas berat.


"Mengapa kau tidak melaporkannya ke polisi?"


"Kakek ku melarangku, ini menyangkut reputasi keluarga. Dia ingin mencoba menyadarkan Paman, aku biarkan saja dulu untuk menghargai orang yang lebih tua." Shelia hanya mengangguk dia tak punya jawaban atau pun pertanyaan untuk Richard, lagi pula ini masalah keluarga dia tak ingin ikut campur, dia kembali menyeruput kopinya.


"Nona, saya orang miskin saat ini, saya juga tidak punya uang atau pekerjaan. Bisakah saya tinggal disini untuk sementara waktu? Saya bisa menjadi pengasuh Nici." Pintanya, sebetulnya Shelia masih ragu pada Richard. Dia takut Richard orang jahat yang berniat mencelakai Nici.


"Apa aku bisa mempercayaimu? Kau orang asing yang tidak sengaja Putra ku temui, aku takut--."


Grep...!!


Richard menggenggam tangan Shelia dengan erat, "Nona, aku berjanji dengan nyawaku! Aku tidak akan berani menyakiti Nici seujung kuku pun, dan aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padanya!"


Shelia menepis tangan Richard, membuat Richard melepaskan genggamannya seketika.


"Cih, siapa yang akan percaya hanya dengan kata-kata saja!" Shelia memalingkan wajah.


"Sudahlah, aku akan mencoba mempercayaimu. Tapi, jika kau menghianati kepercayaan ku, aku tidak akan segan melaporkan mu pada polisi!" Ancam Shelia.


"Baik, terserah Nona saja!"


"Malam ini Nici tidur di kamar ku." Ucap Shelia sembari berlalu.


"Ya, Nona!"


Richard masih duduk di tempat yang sama, dia merasakan aroma farpum yang familiar dari tubuh Shelia.


'Apa mungkin wanita pada malam itu adalah Shelia? Aku harus menyelidikinya.' Batin Richard.


Dia mengeluarkan ponsel dari sakunya, dan menkan nomor yang ingin ia hubungi, "halo!" Suara dari sebrang telpon.


"Kevin, ini aku!" Ucap Richard.

__ADS_1


"Presdir!" pekiknya pelan, "bagaimana keadaan Anda? Apa Anda baik-baik saja, para pengawal yang di tugaskan menjaga Anda semua sudah mati."


"Aku baik-baik saja, sementara ini aku akan bersembunyi dulu. Oh ya Kevin, aku ingin kamu menyelidiki kejadian empat tahun lalu di bar itu, ingat jangan sampai ada orang yang tahu. Setelah kau mendapatakan bukti cepat kirimkan padaku."


"Baik Presdir!" Richard pun mengakhiri panggilannya.


***


Keesokan paginya, mereka tengah berkumpul di meja makan untuk sarapan. Nici nampak lebih pendiam, dia fokus pada sarapannya, nampaknya dia masih merasa bersalah pada Shelia perihal semalam.


"Tuan Richard, bagaimana keadaan tanganmu?" Tanya Shelia memulai percakapan.


"Sudah lebih baik Nona, lukanya sudah kering saya juga sudah melepaskan perbannya." Jawab Richard.


"Baguslah! Nici sayang, mulai hari ini kamu di antar sama Om Richard ya ke sekolah." Ucap Shelia lembut, dia tahu putranya masih memikirkan masalah semalam.


"Kenapa tidak bersama Cherry lagi kah sekarang?" Shelia tertawa kecil.


"Cherry? Bukannya Bibi Marry ya?" Goda Shelia.


Wajah Nici memerah seketika, dia kembali memakan sarapannya dengan lahap untuk menyembunyikan rasa malu nya, dia tahu betul ke usilan sang Mamah.


"Ya, maksud ku, dengan Bibi Marry dan Cherry juga. Mereka kan satu rumah." Nici berdalih.


Shelia hanya memasang senyum usil, sambil memainkan sebelah alisnya, "cih, Mami menyebalkan!" Nici melompat turun dari kursi dan pergi ke kamar untuk mengambil tas sekolahnya.


'Sepertinya, mood dia sudah kembali. Aku lebih suka putra ku yang seperti ini, dari pada putra ku yang pemurung dan pendiam. Rasanya seperti orang lain yang ada di hadapanku.'


Shelia menyeka ujung matanya yang nampak sedikit berair. Richard hanya diam sambil menunduk, dia menyaksikan kasih sayang seorang Ibu yang begitu dalam bagi putranya.


'Shelia, semakin aku mengenalmu. Aku semakin kagum padamu, seandainya wanita pada malam itu adalah kamu, dan Nici adalah putra ku. Aku akan sangat bahagia.'


Richard mencuri-curi pandang pada Shelia. Garis wajah yang nyaris sempurna, bulu mata lentik, hidung mancung, bibir mungil semerah cery, dan bentuk tubuh yang sexy, siapa yang dapat menolak keindahan ini. Termasuk Richard.

__ADS_1


__ADS_2