
"Pergilah, lagi pula yang penjahat itu inginkan cuma aku." Ucap Nici pasrah, dia sudah tidak bisa lari lagi, Kakinya sakit dan energinya terkuras habis.
Khanza berpikir sejenak, "sembunyi di sini, dan jangan bersuara," pintanya, dia berlari sembari berteriak "Aduh!!" pekiknya berpura-pura kesakitan.
"Mereka di sana! Ayo kejar, jangan sampai lolos." Seketika Khanza berlari secepat mungkin dengan kaki kecilnya.
Nici diam mematung, belum sempat dia berucap Khanza telah menjadikan dirinya sendiri sebagai umpan, "a-apa yang harus aku lakukan," tiba-tiba otak kecil Nici tak berfungsi, dia hanya bisa menangis memanggil Ayah dan Ibunya.
Sebuah suara di kejauhan tertangkap di Indra pendengaran Nici, dia tahu siapa pemilik suara tersebut.
"Cepat cari Tuan muda Nic, temukan dia secepat mungkin. Semuanya menyebar, aku yakin mereka belum pergi jauh." Dia memberi Instruksi pada bawahannya.
"Om, Aku disini." Gumam Nici tak berani berucap terlalu keras, takut jika salah satu penculik tersebut masih ada di sekitarnya.
"Om!" Panggil Nici sedikit lebih kencang, dia melambai-lambaikan tangannya.
"Di sanah!" Pekik salah seorang tim penyelamat yang melihat tangan Nici. Dengan segera mereka berlari ke arah Nici.
"Ya Tuhan Nici, apa kau baik-baik saja?" Ken memeluk Nici dengan erat, terlihat gurat kecemasan di wajahnya sedikit pudar.
"Aku baik Om," jawab Nici sambil meringis merasai perih di telapak Kakinya.
"Ya Tuhan Kaki mu, kau pasti berlari tanpa alas Kaki. Jika saja kau tak meninggalkan sepatu mu mungkin aku akan sedikit terlambat untuk menyelamatkan mu." Ken bernapas lega.
"Mari kita pulang!" Ken mengendong Nici lantas bangkit.
"Tunggu Om, temanku masih ada bersama mereka." Sergah Nici.
"Teman? Aku kira kamu sendiri, kemana mereka membawanya?"
"Khanza lari ke dalam hutan, dia menjadikan dirinya umpan untuk mengalihkan perhatian mereka agar tidak melihatku," ucap Nici dengan ekspresi wajah sedih.
"Dia pasti akan baik-baik saja, percayalah." Ken meyakinkan. Lantas Ia pun mengintruksikan semua bawahannya untuk berpencar mencari keberadaan Khanza.
__ADS_1
Sedang di tempat lain Khanza, gadis itu terus saja berlari dengan langkah terseok-seok, napas nya hampir habis. Di tengah hutan yang entah dimana persis letaknya, anak berumur 7 tahun tesebut terus berlari tiada henti. Dia takut, sangat ketakutan. Dua orang tersebut lebih menakutkan dari pada binatang liar yang Ia temui sepanjang jalan yang penuh dengan rumput liar dan pepohonan yang tinggi menjulang.
"Mamah, Aku ingin bertemu denganmu," isaknya lirih, sembari mengusap air mata yang bercampur dengan keringat di pipinya. Dia sudah tak sanggup berlari lagi, kakinya perlahan menjadi berat, dia bersandar pada sebatang pohon sambil mengatur napas. Tanpa Ia sadari, seekor ular beracun tiba-tiba merayap dari atas sana.
Khanza mendongak, glek...! Ia menelan saliva, jantungnya berhenti berdetak untuk sepersekian detik. Hatinya mengintruksikan agar dia lari, namun Kakinya terlalu berat untuk melangkah.
Bruk...!! Khanza jatuh terduduk dengan wajah pias, bak tak ter-aliri darah. Dia menggeret tubuhnya perlahan, dengan mata tak henti-hentinya mengawasi ular tersebut. Ular itu semakin mendekat dan mendekat, membuat tenggorokan Khanza seketika tercekat.
"Ah ketemu kamu hah, dasar anak sialan!" Pekik salah satu penjahat tersebut. Seketika Khanza menoleh, berakhir sudah segalanya dia pasti mati hari ini, Khanza berada di tengah-tengah bahaya, dia tak bisa kabur kemana-mana lagi dia sudah pasrah, di hadapannya seekor ular beracun, sedang di belakangnya dua serigala yang bisa kapan saja mencabik-cabiknya. Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuknya bisa bertemu sang Mamah.
"Sekarang kamu tak bisa lari kemana-mana lagi." Ujarnya sembari menyeringai menampakan gigi-giginya yang runcing.
Saat Khanza fokus pada dua penjahat tersebut tiba-tiba ular tersebut mematuk betisnya hingga Ia memekik kesakitan, Ah...!! Dua orang tersebut seketika terkejut, agaknya mereka tak menyadari keberadaan ular yang ada di hadapan Khanza sedari tadi.
"A-astaga ular!" Ucap salah satu dari mereka ketakutan, repleks mereka mundur sedikit menjauh dari Khanza. Khanza memegangi betisnya yang kini sudah mati rasa.
"Tolong!" Teriak Khanza pada dua penjahat tersebut, kini dia tak peduli siapa mereka yang sebenarnya.
"Sudah tinggalkan saja dia, dia tidak akan selamat, ular itu sangat beracun. Ini sudah termasuk meringankan beban kita jika dia mati."
"Kita tidak tahu dia pergi kemana, mungkin anak itu pergi mencari pertolongan, lebih baik kita pergi sekarang juga sebelum ada orang yang menemukan kita."
Mereka pun akhirnya pergi meninggalkan Khanza yang merintih kesakitan, begitu pun ular tersebut setelah mematuk Khanza Ia pun berlalu menuju semak belukar. Kini tinggal Ia sendiri, Khanza berbaring di atas tanah dengan daun-daun kering yang berserakan, tubuhnya kini mati rasa, napasnya terasa sesak, pandangannya perlahan menjadi buram.
'Aku siap bertemu kamu Mamah,' ucapnya tanpa suara, setetes air mata jatuh di pipinya dan Ia pun tak sadarkan diri.
***
Nit...Nit..Nit...
Suara kecil itu perlahan terdengar jelas, 'dimana aku? Mamah, apa kau mendengarku?'
"Dokter bagaimana keadaannya? Mengapa sampai sampai sekarang dia belum sadar juga?" Suara wanita yang terdengar asing masuk ke telinga Khanza.
__ADS_1
'Apa dia Mamah?' gumamnya dalam hati. Khanza ingin menggerakkan tubuhnya, tapi dia merasa berat. Lantas dia mencoba membuka matanya. Perlahan cahaya lampu masuk ke dalam pupil matanya, dia mengerjap karena terlalu silau.
"Seharunya dia sudah sadar Nyonya, mungkin sebentar lagi, harap Nyonya bersabar." Dokter itu menenangkan.
Shelia mendekat, dia menilik wajah polos gadis itu, "terima kasih Nak, tanpamu entah apa yang akan terjadi pada Nici," gumam Shelia. Shelia memerhatikan wajah Khanza dengan seksama, dia mendapati bulu mata Khanza bergerak pelan hampir tak terlihat.
"Dokter, dia sadar! Aku melihat dia mengerjap kan matanya tadi!" Ujar Shelia penuh semangat. Dengan segera dokter memeriksa Khanza dengan seksama.
"Nak apa yang kamu rasakan?" Tanya Dokter setelah melihat Khanza benar-benar siuman.
Khanza hanya diam sembari menelaah keadaan sekitar, tak ada satu pun orang yang Ia kenal. Ia sedikit kecewa karena suara yang Ia dengar ternyata milik wanita ini bukan Mamahnya.
"Nak apa kau mendengarku?" Dokter kembali mengulang pertanyaannya. Khanza mengangguk.
"Bagus, apa yang kau rasakan? Apa kepala mu pusing?" Khanza menggeleng, "apa penglihatan mu buram?" Tanyanya lagi. Khanza kembali menggeleng, "apa ada rasa sakit yang kau rasakan di bagian tertentu?" Tanya Dokter lagi memastikan.
"Tidak ada Dokter, aku hanya merasa lemas saja." Jawab Khanza.
"Oh Tuhan syukurlah, kau baik-baik saja," Shelia menghela napas lega, "aku akan memberitahu Nici, dia sangat khawatir sejak kemarin." Khanza mengerutkan dahinya siapa Nici? Dia merasa tak ingat ada seorang yang bernama Nici yang Ia kenal
Shelia pun berjalan setengah berlari menuju ruang rawat Nici, setelah dia mengatakan jika Khanza sudah sadar Nici pun meminta untuk di pertemukan dengan Khanza. Dengan menggunakan kursi roda Shelia membawa putranya menemui teman yang telah menyelamatkannya.
"Nicholas, apa kau baik-baik saja?" Khanza berucap seketika, setelah dia melihat Nici hadir di ruangan itu.
"Aku baik, terima kasih sudah menyelamatkan aku." Ujar Nici.
"Sama-sama, kita kan teman." Khanza berucap sambil tersenyum.
"Bukannya kamu bilang kita bukan teman, kamu yang menyuruhku menjauh darimu," ucap Nici. Khanza tersenyum malu.
"A-aku hanya takut kalau Kakakku mengganggumu kalau kau berteman denganku." Khanza menunduk sedih.
"Aku bukan anak yang mudah di tindas, jadi kamu tidak usah khawatir," Khanza tersenyum senang.
__ADS_1
"Baik!"