
"Presdir?!" Tanya Shelia bingung, dia menatap Richard dan orang-orang itu silih berganti.
"Richard apa-apaan ini, siapa mereka?"
Mata Richard membola seketika, "A--aku." Richard tergagap.
Orang-orang itu menahan tawa mereka termasuk Ken, melihat sang atasan mengenakan celemek berwarna merah muda bergambar Hello Kitty, sungguh pemandangan yang langka, kapan lagi mereka bisa melihat adegan seperti ini di hidup mereka.
"Om mata panda!" Nici menyeruak maju, dia mengenali Ken yang adalah sekertaris pribadinya Richard. Waktu itu dia datang sebagai kurir pengantar paket untuk mengantarkan dokumen tes DNA Nici dan dirinya.
"Hay Tuan kecil!" Sapa Ken sambil berjongkok.
"Om mata panda, siapa mereka?" Nici menunjuk pada orang-orang itu.
"Mereka teman-teman Om." Ujarnya.
"Tapi kenapa mereka manggil Daddy Presdir?" Tanya Nici pura-pura polos.
Emh... Ken melempar pandang pada Richard meminta pendapat. Richard menggeleng, mengisyaratkan kalau Ken tidak boleh memberi tahukan identitasnya yang sebenarnya pada Shelia dan Nici.
"Emh, sebenarnya mereka bukan manggil Daddy kamu, tapi manggil Om." Ken tersenyum paksa. Nici menilik ekspresi wajah Richard dan Ken, dia dapat menyimpulkan kalau mereka tengah menyembunyikan sesuatu.
__ADS_1
Richard menyeruak maju, dia menarik Ken sedikit menjauh dari depan pintu, dan menggandengnya menjauh dari Shelia dan yang lainnya. "Sudah aku bilang jangan panggil aku Presdir, apa lagi di depan istri dan anakku. Dan sekarang aku mau kamu panggil aku nama saja." Ucap Richard berbisik.
"Ta-tapi Tuan, kenapa harus di rahasiakan? Bukan kah semua wanita akan bahagia bila memiliki suami yang punya banyak harta?" Tanya Ken bingung.
"Aku gak mau mendapatkan Shelia dengan harta, aku ingin dia mencintai aku dengan tulus. Lagi pula saat ini keadaan di rumah sedang tidak beres, aku tidak ingin membahayakan Istri dan Putra ku, aku harap kamu bisa bekerja sama." Ungkap Richard sembari menepuk pundak Ken.
"Baiklah, Tuan!" Ken mengangguk patuh.
"Kalau begitu, aku percaya padamu." Richard tersenyum sembari merangkul pundak Ken dan berjalan kembali pada Shelia dan yang lainnya.
"Shelia, kenalin ini Kenzo. Dia adalah temen kuliah aku dulu, dia datang kesini karena aku mengajukan surat lamaran ke perusahaan dia." Shelia masih enggan untuk percaya pada perkataan Richard, namun dia memilih untuk tetap diam dan hanya mengangguk.
"Kalau begitu mari silahkan masuk, biar saya buatkan kalian minuman." Ucap Shelia ramah.
Kevin dan yang lainnya hendak masuk, namun perkataan dan pelototan dari Richard membuat Ken seketika menghentikan niatnya.
"Errr! Iya Nona, saya harus segera pergi sekarang juga." Ken berpura-pura melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Oh begitu, ya sudah lain kali mampir lah lagi kemari." Ucap Shelia sambil tersenyum, dia terlihat sangat cantik, membuat Ken dan yang lainnya nampak terpana melihatnya.
Richard yang melihat itu, lekas menutup pintu di depan wajah Ken yang masih berdiri di sana, dia tidak suka melihat wanitanya di tatap oleh laki-laki lain, apa lagi Shelia tersenyum begitu cantik, padanya saja dia jarang tersenyum.
__ADS_1
"Richard, kenapa kamu tutup pintunya, itu tidak sopan. Apa lagi dia adalah temen kamu." Tegur Shelia.
"Udah gak papa, lagian mereka mau pergi juga kan." Ucap Richard enteng sembari berlalu masuk ke dapur. Shelia hanya menggeleng pelan, dia tidak mengerti dengan pemikiran Richard. Padahal dia sengaja bersikap ramah seperti tadi agar tidak membuat Richard malu, padahal kenyataannya Shelia bukanlah orang yang ramah pada setiap orang, dia termasuk orang yang sulit bergaul.
Richard berjalan kembali ke dapur untuk melanjutkan acara masaknya, dia di kejutkan oleh suara Nici yang tengah membaca berita di internet dengan cukup kencang, "Presdir Richard Nelson, pewaris kerajaan bisnis di negara I seorang pria muda lajang yang digandrungi banyak gadis-gadis cantik." Nici mendikte bacaannya.
Seketika mata Richard membola, dia melirik kanan kiri takut Shelia mendengar perkataan Nici barusan.
"Kamu tau darimana?"
Nici menunjukan layar tablet yang di pegang nya, "Ini!" ucapnya dengan wajah datar. Richard menepuk dahinya, dia lupa kalau wajahnya sudah wara wiri di berbagai berita Internasional hingga mudah saja untuk orang lain mencari berita tentangnya.
Shut...!! Richard menaruh jari telunjuknya di bibir, menyuruh Nici untuk diam.
"Sayang jangan beritahu Mami mu siapa Daddy sebenarnya oke." Pinta Richard dengan nada memohon.
"Kenapa?!" tatapan Nici menghunus tajam.
"Jangan menatap Daddy dengan pandangan seperti itu. Daddy tidak bermaksud jahat, Daddy hanya ingin mendapatkan cinta tulus dari Mami mu, bukan karena harta yang Daddy miliki." Tegas Richard.
"Daddy, Mami bukan orang seperti itu." Keluh Nici tak terima.
__ADS_1
"Daddy tahu sayang, Daddy hanya--," Ucap Richard terputus kala melihat Shelia berdiri di ambang pintu.