
Shelia termenung, dia memikirkan nasib Anna dan juga Anaknya, dia tak ingin nasib Anna sama seperti dirinya dulu. menjadi Ibu tunggal itu bukan perkara yang mudah.
"Richard, apa aku bisa minta bantuan mu?" celetuk Shelia tiba-tiba. Sembari mendongak menatap Richard yang tengah memainkan ponselnya.
"Tentu, kau mau minta aku melakukan apa?" tanya Richard sembari meletakan ponselnya di atas nakas dan beralih memainkan rambut Shelia.
"Apa kau bisa membawa aku menemui Daren?" Seketika air muka Richard berubah drastis, dia paling tidak suka mendengar nama Daren keluar dari mulut Shela.
"Mengapa kau ingin menemuinya?" tanyanya ketus.
Shelia mengerti jika Richard cemburu, bukannya menjelaskan maksud dan tujuannya, Shelia malah semakin ingin menggodanya.
"Aku hanya ingin menemuinya saja," ujarnya. Membuat wajah Richard seketika suram.
"Jadi kau merindukannya? Kau ingin menemuinya, kau ingin dia ada di sampingmu, apa itu mau mu?" ujarnya dengan nada tinggi.
"Hey...Hey... Kamu terlalu berlebihan, aku hanya ada sesuatu yang ingin aku katakan padanya, tentang Anna." Shelia langsung menjelaskan, tadinya dia ingin menggoda Richard namun dia tak sanggup melawan raja cemburu itu.
"Anna?" perhatiannya teralihkan.
"Ya! Anna sedang mengandung Anaknya Daren," ucap Shelia menjelaskan.
"Anna hamil anak Daren?!" Richard memperjelas pertanyaannya. Shelia mengangguk sebagai jawaban. Tiba-tiba Richard tersenyum cerah, nampaknya dia amat senang dengan kabar yang Ia dengar.
"Syukurlah, jadi dia tidak akan mengganggumu dan Nici lagi," Richard beranjak dari tempat tidur, "Aku akan segera menyuruh Ken untuk mencarinya."
Selepas Ia bicara di telpon dengan Ken, Richard kembali menghampiri Shelia dan duduk berdampingan sembari bersandar di kepala ranjang.
"Aku sudah menyuruh Ken untuk mencarinya, kita akan mendapat kabarnya dalam beberapa hari lagi," ujarnya.
"Mengapa si brengsek itu menghamili Anna, bukankah dia menyukaimu?" tanya Richard.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Anna enggan bicara, jadi aku tidak ingin bertanya lebih banyak lagi," jawab Shelia.
"Tapi aku sangat senang, jika dia punya anak dan istri dia tidak akan lagi melirik anak dan juga istriku." Richard mencium pipi Shelia.
__ADS_1
"Dasar kamu, meskipun Daren menyukaiku tapi aku tak akan pernah menyukainya. Lagi pula, aku sudah punya kamu," Shelia tersenyum manis.
"Jadi kau sangat mencintaiku?"
"Sangat."
Mereka pun berpelukan satu sama lain hingga terlelap.
***
Beberapa hari kemudian, Shelia mendapat kabar jika Daren berada di negara S tempat keluarga nya berada. Ia dan Richard pun terbang ke sana untuk menemuinya.
Shelia meminta bertemu dengan Daren di sebuah restoran tak lupa Richard pun mendampinginya. Tentu saja, pria itu tak ingin jika Istrinya berduaan dengan laki-laki lain.
"Shelia, bagaimana kabar Nici?" tanya Daren sembari duduk di hadapan Shelia dan Richard. Richard langsung menggandeng Shelia menunjukan rasa kepemilikannya.
Daren tersenyum sembari menunduk, jujur dia merasa senang melihat Richard begitu mencintai Shelia, dia merasa bahagia untuk mereka.
"Shelia ada apa kamu ingin menemui ku? Tidak mungkin kau ke sini karena merindukan ku kan?" goda Daren, Richard hendak menyanggah perkataan Daren, namun Shelia dengan segera menjawab.
"Bukan aku yang merindukan mu, tapi Anna dan bayinya." Daren mengernyitkan dahinya.
"Anna hamil anak mu." Tegas Shelia.
"Anna hamil? Dan itu anakku? Tapi bagaimana bisa?" Tanya Daren keheranan. Seingatnya dia tak pernah melakukan hubungan badan dengan Anna.
"Mana kami tahu, kau dan dia yang melakukan nya pergi tanya dia. Jangan menjadi laki-laki pengecut!" Ujar Richard sembari melipat tangan di dada.
Daren tak menanggapi, dia hanya diam berusaha mengingat semua yang pernah ia dan Anna lakukan.
"Apa Anna mengatakan hal lain lagi?" tanya Daren kembali.
"Tidak, dia tak bilang apa pun lagi," Shelia menggeleng pelan, "temui dia Daren, tubuhnya sangat kurus dia sangat merindukan mu, kau tahu kan Anna sangat mencintaimu, terutama sekarang dia mengandung anakmu. Buah cinta kalian."
"Tapi Shelia, aku tidak mencintai dia. Aku tidak mengerti entah bagaimana Anna bisa mengandung anakku, tapi dalam hal perasaan aku sama sekali tidak ingin main-main."
__ADS_1
"Dasar brengsek! Lalu kau akan mencampakkan Anna dan anakmu begitu?" Richard menggebrak meja dengan wajah kesal. Hingga beberapa orang yang duduk dekat meja mereka seketika menoleh dan melempar pandang penuh tanya. Entah mengapa di sini Richard lah yang paling emosi, mungkin karena dulu Iya juga mengalami hal yang sama dan membiarkan Nici tumbuh tanpa kasih sayangnya.
"Richard tenanglah." Shelia menarik tangan Richard dan menyuruhnya kembali duduk.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang? Apa kau tidak ingin bertanggung jawab pada Anna?"
"Jika itu memang anakku, aku akan bertanggung jawab kau tenang saja," ucap Daren yakin.
"Baiklah, keputusannya ada padamu. Tapi, aku ingin mengingatkan, kau lah dulu yang ada untuk mendampingiku Daren. Aku yakin kau pun tak akan membiarkan Anna dan anaknya bernasib sama sepertiku." Shelia melirik Richard dari sudut matanya, pria itu nampak terdiam dengan raut wajah sulit di artikan.
Daren tersenyum, "kau tenang saja, semua itu tak kan pernah terjadi."
"Ya sudah kalau begitu kami harus pergi, sampai jumpa." Shelia beranjak begitu pun Richard, mereka berjalan beriringan.
"Ada apa?" tanya Shelia setelah mereka kembali ke hotel tempat mereka menginap, sembari memeluk Richard dari belakang.
"Shelia, ayo ku kita punya anak lagi." Ujar Richard.
"Kenapa kau tiba-tiba ingin punya anak lagi? Apa karena perkataan ku tadi?"
Richard berbalik lantas menangkup pipi Shelia, memandang wajah istrinya penuh perasaan.
"Hem...Kau tahu betul aku sangat menyesali hal itu. Aku ingin punya anak lagi dan menebus semua waktu yang terlewat, juga aku ingin merasakan saat kau menginginkan makanan yang aneh-aneh saat kau hamil Nici dulu."
Shelia terkekeh pelan, "dari mana kau tahu orang hamil permintaanya aneh-aneh?"
"Dari karyawan ku yang istrinya sedang hamil."
"Tapi, waktu aku hamil dulu tak banyak yang ku inginkan, aku makan seperti biasa aku juga tidak pemilih seperti orang lain, mungkin karena keadaan yang menuntut ku." Shelia tersenyum simpul.
Richard memasang wajah sedihnya kembali, "sudah cukup jangan di bahas lagi, lihat wajah mu," Keluh Shelia, dia tak suka, "lebih baik kita melakukan sesuatu yang lebih menyenangkan," bisik Shelia dengan nada menggoda.
Wajah Richard seketika berubah cerah, "baiklah kita buat adik untuk Nici." Ujarnya langsung setuju.
Setelah pergumulan panas yang mereka lakukan, Shelia tengah berbaring menaruh kepalanya di dada Richard.
__ADS_1
"Sayang, kau tidak pernah menceritakan tentang keluargamu, dimana mereka?" tanya Richard tiba-tiba.
"Keluargaku, mereka--," ucapan Shelia terjeda, "mungkin mereka sudah melupakan ku."