
Shelia masih melayangkan tatapan kesalnya pada Richard.
"Ayolah katakan sekali saja. Suami ku, aku mencintaimu." Bisik Richard di telinga Shelia.
Heh... Shelia tertawa mengejek, "tau apa kamu tentang cinta?"
"Aku tidak tahu apa-apa, maka, ajarilah aku cara mencintai." Shelia menghela nafas berat, lantas mendorong dada Richard pelan.
"Maaf, rasanya...Aku belum siap." Shelia memalingkan wajah ke arah lain.
Haha..."sudah jangan berwajah suram begitu, ayo aku antar kamu ke tempat kerja." Richard melepaskan rangkulannya beralih menggenggam tangan Shelia, menautkan jemarinya dengan jemari wanita yang kini telah menjadi Ibu dari anaknya. Tanpa sadar, Shelia tersenyum lembut kakinya melangkah mengikuti Richard tanpa mampu ia kendalikan.
Di tempat lain, Nici dan Ken yang melihat sepasang suami istri itu berpegangan tangan berjalan menuju parkiran pun, nampak tersenyum. Terutama Nici, ia terlihat senang melihat Ayah beserta Ibunya perlahan mulai akur, dia berharap kedepannya semua akan berjalan normal seperti keluarga pada umumnya.
__ADS_1
"Om mata panda! Apa Om punya adik?" Celetuk Nici dari kursi belakang sembari menopang dagu menatap keluar jendela kaca mobilnya.
"Punya!" Jawab Ken singkat.
"Laki-laki atau Perempuan?" Tanya Nici lagi, melempar pertanyaan.
"Laki-laki dan Perempuan!" Jawab Ken lagi dengan entengnya.
"Ya lumayan sih!" Ken melirik Nici dari kaca spion mobilnya, dia melihat bocah kecil itu menatap sendu ke arah kaca jendela, entah apa yang ia pikirkan saat ini. "Tuan kecil juga pasti akan punya adik, mintalah pada Tuan dan Nyonya." Ken tersenyum simpul.
"Hem... Apa membuat adik itu sangat mudah? Aku lihat teman sekelasku punya tiga adik. Aku juga ingin Lima adik!" Ucap Nici dengan penuh semangat. Membuat Ken yang mendengarnya memekik saking terkejutnya.
"Eh...eh, Tu-tuan Kecil, membuat adik tidak semudah itu. Anda mana bisa memintanya dengan jumlah banyak." Ken tersenyum canggung, rasanya pembicaraannya dengan Nici kali ini terlalu berbahaya untuk Anak se-usia Nici.
__ADS_1
"Cih, Om mana tahu, om kan Jomblo!" Perkataan Nici sukses menusuk ke ulu hati Ken. Ken hanya bisa tersenyum paksa dan memilih diam, dari pada berdebat dengan anak kecil ini.
"Tuan kecil kita sudah sampai!" Ucap Ken sambil berbalik badan dan tersenyum cerah pada Nici. Yang di maksud sudah hilang dari pandangan dan berlari menuju gerbang sekolah baru yang kini ia datangi.
Ya, setelah kepergian Cherry, Nici di pindahkan sekolahnya oleh Richard ke sekolah terbaik di kotanya. Tak ada alasan untuk menolak, karena Nici tak punya teman kecuali Cherry di sekolah lamanya. Nici berjalan meninggalkan Ken yang berlari mengejarnya sambil berteriak, menyuruhnya menunggu.
Gedung Sekolah ini cukup besar, dengan beberapa tingkatan kelas, dan taman bermain khusus untuk anak TK. Anak-anak sebayanya nampak tengah asik bermain, menjajal setiap permainan yang ada. Nici hanya melengos, dia tidak tertarik sedikit pun, dia malah memilih berdiri menyandar ke dinding sambil menunggu Ken datang.
"Serahkan uang mu!" Tiba-tiba seorang gadis sebayanya, mengulurkan tangan ke hadapan Nici membuat Nici mengerutkan dahinya.
"Aku tidak punya uang." Jawab Nici enteng sembari melipat tangan di dada.
Nampak seorang gadis dengan mata bulat dengan bulu mata lentik dan bibir mungil, berdiri di hadapan Nici.
__ADS_1