
"Daren Sialan! Keparat! Aku akan menghabisi mu, jika kau tidak mau membuka pintu!" Teriak Anna seperti orang gila.
Rasa takut kian membuncah dalam diri Anna, dia terus menggedor dan berusaha membuka pintu tersebut. Namun, tetap saja tak ada yang menyahut, apartemen itu seperti tak berpenghuni.
"Daren buka pintunya," lirih Anna pelan, dia sudah tak sanggup berteriak, air mata perlahan meleleh melalui sudut matanya. Anna terduduk lemas di depan pintu dengan tangan tak hentinya mengetuk pintu tersebut.
"Nona Anna!" Sebuah tepukan lembut mendarat di pundak Anna, membuat gadis itu mendongak menatapnya.
"Bibi Mey." Lirih Anna, sembari menyapu air mata dengan punggung tangannya, "Bibi tolong bantu aku membuka pintu, Daren, di-dia tidak membuka pintu. Jangan-jangan--," Anna menutup mulut tak sanggup menuntaskan perkataan yang semula hendak ia lontarkan.
"Tenanglah Anna, Daren dia sedang tidak ada di rumah. Tapi dia ada menitipkan ini pada Bibi." Bibi Mey merogoh sesuatu dari saku bajunya, lantas memberikan sebuah amplop putih polos pada Anna.
Deg...Deg...!!
Jantung Anna berpacu dengan cepat! Apa benar isi dalam amplop tersebut sesuai dengan apa yang Anna duga. Anna hanya memandangi amplop putih di genggamannya itu, dia sedikit takut untuk membukanya.
"Dia juga menitipkan ini," Bibi Mey kembali menyodorkan tangannya, kali ini di genggamannya sebuah kunci rumah.
"Apa ada lagi yang dia katakan Bi?" tanya Anna lesu.
"Dia tidak bilang apa-apa, dia hanya bilang tolong berikan ini pada Anna," jawab Bibi Mey.
"Oh gitu, makasih ya Bi." Anna tersenyum lemah.
Selepas Bibi Mey pergi, Anna bangkit dan membuka pintu dengan kunci yang di berikan Bibi Mey tadi. Kakinya perlahan menjejak ke dalam rumah tersebut. Sunyi, sepi tanpa ada kehidupan. Hanya ada beberapa botol bekas yang teronggok di meja, Anna menelusuri Apartemen kecil tersebut, berharap orang yang ia cari masih ada di dalam sana, tertidur lelap seperti biasanya, walau dalam mata terpejam hanya satu nama yang keluar dari bibirnya Shelia.
Anna menghela nafas berat, ia lantas duduk sembari membelai perut ratanya, "dia telah pergi. Keberadaan ku tak mampu menggerakkan hatinya," Anna menghapus air matanya kembali.
Srek...!!
Dia membuka amplop putih tersebut, di dalamnya terdapat selembar surat.
__ADS_1
...Untuk Anna! Jika kamu membaca surat ini, aku mungkin telah pergi jauh. Aku ingin berterima kasih padamu, selama ini kamu sudah menemaniku dan mendampingiku saat aku dalam kondisi terpuruk! Maaf, aku pergi tanpa pamit, karena aku tahu kau pasti akan melarang ku pergi! Anna, aku tahu kau mencintaiku, tapi aku merasa aku tak cukup pantas menerima cintamu, kau gadis yang baik. Lupakan aku, aku yakin kau akan menemukan pria yang pantas dan mencintaimu! Aku tak ingin terus memanfaatkan perasaan yang kau miliki untukku. Jadi aku memilih pergi, karena aku tak mampu membuang Shelia dari hati dan kepala ku. Semoga kau menemukan kebahagiaanmu!...
...Dari orang Bodoh!...
...Daren!...
Hiks...!!!
"Aku rela kau manfaatkan Bodoh! Kenapa kau malah pergi! Kau pikir perasan yang aku punya untukmu hanya pura-pura. Nyatanya, meski kau pergi, kau juga membawa hatiku pergi bersamamu."
Anna mencengkram dadanya, ulu hatinya terasa berdenyut nyeri, ia membaringkan tubuh di ranjang yang biasa Daren tiduri, aroma yang Daren tinggalkan masih melekat di seprai itu. Anna meringkuk, memeluk tubuhnya sendiri. Mengapa cintanya begitu tragis? Dia mencintai orang yang mencintai sahabatnya sendiri, dan sekarang dia hamil.
***
Uh...!! Shelia melenguh, sembari meregangkan otot-ototnya yang kaku, "jam berapa sekarang?" gumam Shelia sembari menyalakan layar ponselnya.
"Hem, ternyata sudah jam tujuh! Aku harus pulang, jika tidak Nici akan kesal karena makan malam sendirian. Richard sudah pulang apa belum ya?" gumam Shelia sendiri, dia meraih tas Selempang nya dan berjalan keluar sembari menatap layar ponselnya, hendak mengirim pesan pada suaminya.
Ouch...!! Shelia menabrak seseorang, dahinya sedikit membentur dagu orang tersebut.
"Maaf," ucapnya seraya menggosok dahinya.
"Tidak apa-apa." Shelia mendongak menatap orang tersebut, yang ternyata adalah Richard!
"Richard?! Kenapa kau ada di sini?" Tanya Shelia merasa senang.
"Tentu saja menjemput istriku yang gila kerja," Richard menoel hidung Shelia dengan ujung jarinya, "kenapa kamu berjalan sambil bermain ponsel? Kalau orang lain yang kamu tabrak bagaimana? Atau kamu tersandung dan terjatuh lalu terluka? Itu sangat berbahaya!" Cerocos Richard sembari merampas ponsel dari tangan Shelia.
"Hey!" Shelia berusaha kembali mengambil ponselnya.
"Kau mau menghubungi siapa? Biar ku lihat."
__ADS_1
"Cih, alasan!" Shelia tahu trik Richard, sebenarnya dia hanya ingin melihat ponsel Shelia. Shelia menyilangkan tangan di dada.
"Ayahnya Nici?!" Gumam Richard.
"Sudah puas?!" Shelia merampas kembali ponselnya dari tangan Richard, "bilang saja kalau kau curiga padaku," Shelia mendengus sebal.
"Eh...Bu-bukan begitu sayang," Richard salah tingkah dia berusaha mengelak dari tuduhan Shelia.
"Niatmu, sudah tertulis jelas di wajahmu!" Shelia berjalan lebih dulu meninggalkan Richard di belakang, yang terus berusaha memberinya penjelasan dan membela diri.
"Sayang tunggu! Aku bukan tidak percaya padamu, siapa suruh kamu begitu cantik dan banyak pria yang mengejarmu, aku hanya takut kau di renggut dariku!"
Shelia memutar bola mata malas, "alasan, sudah jelas kau tidak percaya padaku."
Shelia membanting pintu mobil dengan wajah suram. Richard datang menyusul dan duduk di samping Shelia.
"Oke, oke! Aku akui, aku curiga. Aku minta maaf," Richard mengatupkan tangannya di depan sang istri.
ffppttt...!!!
Shelia tertawa kecil, dia tidak menyangka bos yang nampak angkuh di depan bawahannya, bisa punya perasaan tak aman.
"Kenapa malah tertawa?" Richard merajuk kesal.
"Tidak! Aku hanya merasa sedikit lucu, benar kan Ken?" Shelia meminta pendapat Ken, yang terpanggil hanya melirik dari kaca spion dan sedikit tersenyum.
'Jangan bertanya padaku Nyonya, atau aku akan di terkam habis oleh harimau yang sedang musim kawin, ini' batin Ken.
"Apa? Kau juga menertawakan ku! Aku potong dua puluh persen gajimu," geram Richard dengan tatapan menghunus tepat ke mata Ken dari kaca spion.
Eh...'padahal aku diam. Tapi tetap saja, aku pun kena. Bahkan sedikit tersenyum pun adalah bencana, berada satu mobil dengan mereka, serasa menggantung pedang di atas kepalamu yang kapan saja bisa membunuhmu jika kau salah langkah.'
__ADS_1