
Denting sendok dan garpu beradu pelan, ini kah yang dinamakan keluarga? Makan bersama walau dalam keheningan. Richard yang sedari kecil tumbuh dalam rumah mewah, walau begitu dia selalu sendirian. Orang tuanya meninggal ketika ia masih kecil. Kakek nya sibuk mengurusi urusan bisnis di mana-mana, membuatnya hanya hidup bersama para pelayannya.
Sedangkan Shelia, dia tumbuh dengan penuh kasih sayang. Dia putri satu-satunya keluarga Jenner, dia amat di sayangi dan di manja kan, namun cinta buta yang ia miliki untuk Shawn membuat dirinya hancur.
Nici melirik Ayah beserta Ibunya yang makan dalam diam dengan ujung matanya.
"Mami, Daddy!" Panggil Nici. Membuat Richard beserta Shelia menoleh seketika.
"Cherry akan segera pindah, sekolah mengadakan pesta perpisahan untuk dia." Ujarnya.
"Ah iya, Mami lupa kalau Cherry akan pindah. Besok sepulang sekolah ajaklah dia ke sini." Ujar Shelia. Ya Cherry sudah pulang ke kediaman orang tuanya, dia tidak tinggal di rumah Bibi Marry lagi karena dia harus membuat persiapan pindahannya.
"Hem." Jawab Nici dengan wajah murung. Jujur dari lubuk hatinya yang terdalam dia ingin mengatakan jangan pergi pada Cherry, namun dia hanya anak kecil siapa yang akan mendengarkan perkataannya. Nici hanya hanya berharap suatu hari dia akan bertemu dengan Cherry lagi.
__ADS_1
***
Siang hari, setelah sekolah selesai Cherry dan Nici tengah duduk di taman, dia sengaja meminta Daddy nya pergi untuk membelikan mereka dua Ice Cream di sebrang sekolah, agar Nici bisa bicara dengan Cherry berdua.
"Nici! Kalau aku sudah gak di sini lagi, apa kamu akan cari temen baru?" Tanya Cherry dengan wajah serius.
"Tentu saja." Jawab Nici enteng.
"Ko gitu!" Cherry memberengut dengan wajah suram, "bukannya kamu bilang cuma aku temen kamu satu-satunya." Keluh Cherry.
"Hem benar juga." Gumam Cherry pelan, "baiklah kalau begitu, carilah teman sebanyak yang kamu mau. Tapi, jangan lupain aku ya." Cherry tersenyum manis.
"Nih, biar kamu atau pun aku gak lupa satu sama lain." Nici menyerahkan sebuah kalung berbandul bintang dengan lubang berbentuk bintang kecil di tengahnya.
__ADS_1
"Ko bintangnya bolong?" tanya Cherry sembari memerhatikan kalung yang di berikan Nici.
"Yang tengah di sini!" Nici mengeluarkan kalung dengan bandul bintang lebih kecil, pas dengan ukuran lubang bintang di kalung Cherry.
Cherry tersenyum lebar dan lekas mengenakan kalung tersebut.
"Terima kasih!" Ucapnya dengan bibir tak hentinya tetsenyum, "Nici, ini bisa di jual gak sih? Siapa tahu kalau aku gak ada uang jajan kalungnya bisa laku di jual." Cherry terkekeh.
Nici melempar pandang mengancam, "hehe becanda!" Larat Cherry sambil cengengesan.
Nici bangkit, "ayo Daddy pasti udah selesai beli Ice cream nya." Nici berjalan, Cherry mengikutinya di belang, dua bocah kecil itu berjalan beriringan menuju keluar gerbang sekolah.
"Pak, kapan ini mau beli Ice cream nya? Yang lain mengantri di belakang tuh." Keluh pelayan kedai Ice cream.
__ADS_1
"Tunggu bentar Pak, saya lagi nunggu intruksi dulu." Richard menilik layar ponselnya dia menanti sebuah pesan dari putranya.
"Kelamaan Pak, lebih baik bapak mundur dulu biarkan yang lain lebih dulu." Ucap pelayan kedai tadi.