
Anak! Satu kata ini terus terngiang di telinga Richard, akhirnya dia bisa mendapat kebahagiaan lagi, tapi pada saat yang sama Tuhan kembali mengambilnya. Kesedihannya saat ini bertambah besar, saat dia melihat istrinya berada di ambang kematian anaknya telah lebih dulu pergi meninggalkannya tanpa dia tahu sebelumnya.
Nici datang bersama Ken, anak itu nampak sembab sepertinya dia menangis, "Daddy, Ma-mami...," isaknya sembari membenamkan wajah di dada Richard.
"Tidak papa, Mami akan baik-baik saja," Richard menenangkan, dia mengusap kepala Nici lembut. Walau sejujurnya dia sendiri tak bisa tenang sedikit pun, saat ini dia amat takut, takut jika Shelia tak bisa di selamatkan. Richard terus berjuang agar dia terlihat tegar, dia tak ingin sampai menitikkan air mata apa lagi di depan Nici.
"Ken, bagaimana hasil penyelidikannya? Apa polisi menemukan sesuatu?" tanya Richard.
"Tidak ditemukan jejak mobil lain di TKP, hanya ada jejak mobil Nyonya, mereka menyimpulkan jika ini hanya sebuah kecelakaan." Ujar Ken.
"Terlalu bersih justru membuatku semakin curiga, seandainya Shelia sudah siuman dia akan mengatakan semua yang terjadi. Sayangnya kawasan itu, tidak terjangkau cctv. Tapi satu orang yang mampu melakukan semua ini terhadap keluargaku, Martin Nelson." Richard mengepalkan tangannya menahan amarah.
"Ken awasi dan pantau terus pergerakannya, aku ingin mendapatkan bukti jika dialah pelaku di balik semua kejadian ini." Ken mengangguk sebagai jawaban.
Richard dan Nici sudah bisa masuk ke ruangan Shelia, beruntung Shelia sudah keluar dari masa kritisnya. Richard memandang tubuh Shelia yang di penuhi dengan alat-alat medis, hatinya sakit melihat istrinya dalam kondisi seperti ini. Ingin rasanya dia dapat berbagi rasa sakit dengan Shelia agar dia tak perlu menderita seorang diri.
"Mami, ini aku Nici," Nici menyentuh dan mencium tangan Shelia, "oh ya Mami, aku sudah bisa berjalan lagi sekarang, Kakiku sudah sembuh dan aku bisa melompat dan berlari, kita bisa main Tenis lagi bersama, jadi cepatlah bangun. Ah Iya aku lupa, seminggu lagi di sekolah ku ada acara tahunan dimana anak-anak harus mempersembahkan penampilan terbaik mereka, biasanya aku tidak mau ikut tapi tahun ini, aku akan ikut Mami harus datang."
"Oh Ya Mami, bla bla bla." Nici mengatakan semua yang ia pikirkan dia bicara sambil menggerak-gerakan tangan atau pun Kaki seolah dia bicara dengan orang yang sadar. Apa yang Nici katakan sukses membuat air mata Richard tumpah, dia tak mampu lagi membendung semuanya, dia menangis di sudut ruangan sembari menghadap tembok. Tubuhnya bergetar, dia berusaha meredam suara dengan telapak tangannya.
"Daddy!" Panggilan itu membuatnya seketika menghentikan tangisnya, dia mengusap sisa air mata yang tertinggal di pipinya, Richard menoleh pada Nici tanpa suara. Alangkah terkejutnya Ia, ternyata Shelia telah sadar dan saat ini Ia tersenyum padanya.
"Sa-sayang, kau sudah sadar?" Richard langsung berlari dan menghambur memeluk Shelia.
__ADS_1
"Umh... Ri-richard aku tidak bisa bernapas," keluh Shelia parau." Suaranya lemas tak bertenaga.
"A-astaga maafkan aku sayang, aku hanya terlalu senang, aku--," mata Richard kembali berkaca-kaca.
"Sudah jangan menangis, itu sangat tidak cocok denganmu." Ejek Shelia.
"Mami, bagaimana keadaanmu?" Nici mendekatkan diri pada Shelia.
"Sudah jauh lebih baik, berkat kalian berdua." Shelia tersenyum kembali.
"Nici biarkan Dokter memeriksa Mami dulu." Richard membawa Nici mundur memberi ruang agar Dokter memeriksa keadaan Shelia.
"Semuanya bagus, pemulihan anda juga cukup baik Nyonya Nelson. Anda tidak usah khawatir anda juga masih bisa hamil lagi." Ujarnya, membuat Shelia tersenyum miris.
"Terima kasih, dan maaf aku tidak bisa melindungi kalian." Richard mengecup dahi Shelia lembut.
"Jangan minta maaf itu bukan salahmu," Shelia masih dalam keadaan menunduk.
"Jangan bersedih, bukan kah kata Dokter kau masih bisa hamil lagi. Lagi pula, adanya Nici pun sudah cukup bagiku." Ujar Richard, Nici pun mendekat dan mencium pipi Shelia.
"Mami, adik kecil pasti sangat bahagia karena dia telah menyelamatkanmu, meski dia tidak bersama kita lagi, dia juga pasti sangat menyayangimu." Nici mencoba menghibur.
Shelia terkekeh pelan, "Nici, dia masih belum berbentuk dia belum menjadi adik kecil," Shelia mengusap kepala Nici pelan.
__ADS_1
"Aku tidak peduli, yang pasti dia adalah adik kecil." Nici mengedikkan bahunya.
"Baiklah baiklah." Shelia dan Richard sama-sama mencubit pipi Nici gemas.
Seminggu berlalu, Shelia masih belum dapat pulang ke rumah, karena masih harus di rawat beberapa hari lagi. Nici setiap hari datang untuk menemani Shelia, terkadang Khanza pun ikut menemani pula. Namun Richard, entah apa yang Pria itu lakukan akhir-akhir ini dia nampak sibuk, pergi pagi pulang larut malam, terkadang dia bahkan tidur di kantor.
"Richard, apa terjadi sesuatu pada perusahaan?" tanya Shelia penuh selidik.
Richard yang semula tenggelam di balik laptopnya kini dia menoleh, "tidak, semua baik-baik saja," jawab Richard tak lupa menyematkan senyum di bibirnya.
"Lalu kenapa kau tampak begitu sibuk akhir-akhir ini? Lihat matamu, kau tampak seperti Ken." Shelia terkikik geli melihat tampang suaminya. Richard meraih ponselnya dan berkaca melalui kamera depan. Tampak kantung matanya memang sedikit menghitam dan wajahnya terlihat pucat, juga dagunya yang sudah di penuhi dengan bulu-bulu halus dia nampak tak terurus.
"Kenapa kau tidak merawat dirimu?" tanya Shelia. Richard berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang Shelia.
"Aku sedang merencanakan penangkapan untuk pamanku Shelia, dialah yang menyebabkan kamu dan Nici terluka, aku tidak bisa membiarkan semua ini terus terjadi. Aku bisa mentolerir apa yang dia lakukan padaku selama ini, tapi padamu dan Nici, maaf aku tidak bisa. Dan apa kau tahu apa yang aku temukan lagi--?" Richard menjeda ucapannya membuat Shelia di dera rasa penasaran yang tinggi, "dialah yang menyebabkan kematian orang tuaku dulu." Shelia nampak begitu terkejut, dia tak dapat membayangkan apa yang Richard rasakan kala mendengar fakta mengejutkan ini.
"Apa Kakek tahu tentang ini?"
"Dia sudah tahu, dia bilang dia mendukung semua yang aku lakukan." Jawab Richard.
"Baguslah, semoga semua berjalan sesuai rencanamu sayang aku pun mendukungmu. Lakukan yang terbaik, bawa keadilan untuk orang tua kita dan juga anak kita." Shelia menggenggam tangan Richard memberinya energi semangat melalui telapak tangannya.
Seketika Richard menyergap bibir Shelia, bibir mereka saling bertautan satu sama lain untuk beberapa saat, hingga mereka harus mengakhiri acara pribadi mereka karena kedatangan Ken.
__ADS_1
"Ehem... Maaf sudah mengganggu kalian, tapi ada kabar mendesak yang harus aku katakan padamu Tuan. Martin Nelson, telah melarikan diri."