
"Shelia cantik ya!"
"Sangat!" jawab Richard tanpa sadar.
"Tubuhnya terlihat sexy kan."
"Hmh...."
"Om suka?!"
"Su--," seketika Richard tersadar, dia melirik ke samping tempat duduknya, ternyata Nici tengah cengengesan sembari minum segelas susu.
Wajah Richard memerah, dia menunduk malu.
"Nici, Mami berangkat kerja dulu ya. Kamu jangan nakal dan dengar ucapan Om Richard." Shelia mengecup pucuk kepala Nici.
"Oke Mami! Oh Ya Mami, Om Richard ingin bilang sesuatu." Nici mulai menjahili Richard. Membuat Richard seketika salah tingkah, dia tidak menyangka Nici akan mengatakannya pada Shelia.
Shelia kembali menoleh, dia menghentikan langkahnya sejenak, 'Mampus aku.' batin Richard.
"Katakan?!" Shelia menunggu Richard berucap.
"Eng--enggak jadi, lagian gak penting ko." Richard berdalih sembari melayangkan tatapan kesal pada Nici. Shelia mendelik sambil berdecak kesal karena Richard dan Nici mempermainkannya. Dia pun lantas berlalu pergi.
Richard pun menghela nafas lega, "Haha Om takut sama Mami ya?!" Richard pun mengangguk.
"Tapi Om suka kan?"
"So-tau kamu. Anak kecil mana faham, yuk berangkat sekolah." Richard bangkit dari kursi sambil membawa piring bekasnya makan, lantas langsung mencucinya.
"Cih, badan dan usia ku boleh kecil, tapi otakku tidak." Nici menoel hidungnya sendiri berucap dengan sombongnya.
"Anak kecil, tetaplah anak kecil!" Richard mengacak rambut Nici sembari berlalu.
"Hey Om, aku tidak terima di panggil anak kecil!" Nici berkecak pinggang sembari berdiri di atas kursi.
"Lalu kamu mau di panggil apa?" Richard menoleh kembali.
"Tuan Nick!" Ucapnya dengan percaya diri. Richard hanya tertawa mendengar perkataan Nici.
__ADS_1
"Kenapa Om menertawakan ku?" Nici tak terima di tertawakan.
"Haha, baiklah Tuan Nick, mari kita pergi sekolah!"
'Kenapa panggilan ini terasa aneh ketika keluar dari mulut Om Richard.' Gumam Nici dalam hati.
Mereka pun berangkat ke sekolah, terlihat Cherry bersama Bibi Marry berjalan menghampiri mereka.
"Nici, jadi ini Om kamu? Yang kamu bilang waktu itu?"
Nici mengangguk, "Hay Om, aku Cherry!" Cherry tersenyum manis.
Richard berjongkok, mensejajarkan posisinya dengan para bocah kecil itu, "Nama Om, Richard, kamu panggil saja Om Richard." Richard mencubit pipi gembul Cherry pelan.
"Om ganteng deh." Celetuk Cherry tiba-tiba, membuat Richard seketika tertawa.
Nici nampak kesal, dia melipat tangan di dada dengan wajah mematut. Dia kesal karena Cherry memuji Richard di depannya, Richard yang menyadari kecemburuan Nici, dia semakin ingin menggodanya.
"Emang Om ganteng gitu?" tanyanya.
"Banget, Om gak nyadar ya? Om itu ganteng banget, emang sih agak mirip Nici, tapi Om lebih ganteng." Puji Cherry dengan polosnya dia tidak menyadari ada orang yang hatinya tengah terbakar di depan sana.
"Hah, Nici kenapa?" Cherry nampak kebingungan melihat tingkah Nici yang tiba-tiba marah tanpa alasan.
"Udah gih masuk, Ibu guru udah datang tuh." Ucap Richard.
Cherry mengangguk dan berlari menyusul Nici kedalam kelas.
"Tuan Richard, apa kamu saudaranya Shelia? Sepertinya kamu baru pertama kali mengunjungi Shelia ya?" Ucap Bibi Marry ramah.
"Emh...Iya, apa Anda sudah lama mengenal Shelia?" tanya Richard, dia mulai ingin mencari Informasi tentang Shelia dari Bibi Marry.
"Ya lumayan sih, waktu itu Shelia tengah mengandung Nici, saat pindah kesini. Dia wanita hebat, dia membesarkan Nici dan menghidupinya seorang diri. Laki-laki bodoh yang telah menyia-nyiakan dia pasti akan menyesal, telah membuang wanita yang hebat seperti Shelia dan Anak yang pintar seperti Nici." Terang Bibi Marry dengan nada kesal.
"Emh, apa Nyonya Marry tahu siapa Ayah Nici?" Bibi Marry mengehela nafas berat.
"Jangankan saya, Shelia sendiri pun tidak tahu siapa Ayahnya Nici yang sebenarnya."
"Mengapa bisa begitu?" Richard semakin didera rasa penasaran, dia ingin tahu apa benar Shelia wanita yang ia tiduri malam itu.
__ADS_1
"Hem... Saya tidak tahu cerita lengkapnya, hanya yang saya tahu, Shelia telah di jual oleh pacarnya sendiri pada seorang laki-laki hidung belang, hingga dia hamil dan melahirkan Nici." Ucap Bibi Marry di akhiri dengan helaan nafas, "beruntung ada Tuan Daren yang selalu membantu dan menyemangati Shelia." Tambahnya.
"Daren?!"
"Ya Tuan Daren, kamu belum pernah bertemu dia ya?" Richard menggeleng, "dia adalah Ayah angkat Nici."
Deg...!!
"Ayah angkat?!" Richard mengulang perkataan terakhir Bibi Marry.
"Hem! Tuan Daren orang yang sangat baik, dia sangat menyayangi Nici. Biasanya dia akan datang hampir tiap hari, tapi, sudah beberapa hari saya tidak melihat dia datang."
"Oh begitu!" Richard tersenyum kecut.
Daren...Daren...Daren!! 'Siapa sebenarnya laki-laki ini?'
Nama Daren terus saja berputar di kepala Richard.
"Emh, Nyonya Marry! Apa Daren pernah suka sama Shelia?" Richard ingin memastikan dugaannya.
"Bukan suka lagi, Tuan! Dia bahkan sudah pernah di tolak beberapa kali oleh Shelia, tapi dia tidak ingin menyerah dan terus berusaha memikat hati Shelia. Tapi, entah mengapa hati Shelia bagai sekeras batu, dia bahkan tidak tersentuh oleh kata-kata dan perbuatan Daren." Richard mengangguk tanda mengerti, dia merasa lega mendengar penuturan Bibi Marry yang membuat ke-khawatiran sedikit berkurang di hatinya.
***
Malam hari, ketika mereka menunggu makan malam tiba. Nici tengah memainkan komputer tabung yang ada di kamarnya. Dia mengotak-atik dengan cekatan jemari kecilnya bermain di atas keyboard. Dia mencari Informasi tentang Richard dan siapa dia sebenarnya. Nici ingin memastikan apa benar Richard Ayahnya, atau dia hanya kebetulan mirip dengan dia.
"Richard Nilson, ketemu!" Gumam Nici sembari menyeringai, menampakan gigi susunya masih kecil-kecil.
"Wah Nici bisa main komputer ya. Coba Om lihat, kamu main apa?!" Richard yang tiba-tiba datang membuat Nici terlonjak saking terkejutnya. Nici repleks menutupi layar koputer dengan tubuhnya.
"Ini hanya game online biasa." Nici berdalih, dia tak membiarkan Richard melihat apa yang tengah ia selidiki.
"Hem game online ya, mari Om temani kamu bermain."
"Eh, gak usah Om! Sebiknya kita pergi makan sekarang, Mami pasti udah selesai deh masaknya." Nici mengalihkan perhatian Richard agar tidak terus menatap layar komputernya. Richard pun mengangguk dan keluar lebih dulu. Terlihat Nici mematikan komputernya dan langsung melompat turun dari atas kursi. Lantas ia pun, menyusul Richard dengan segera.
Richard tersenyum tipis, melihat kelakuan Nici. Sebetulnya dia sudah membaca apa yang di cari Nici di internet, namun dia memilih tetap diam dan berpura-pura tidak tahu.
Terlihat Shelia tengah menata makanan di atas meja, Richard sudah duduk santai di sana. Nici pun ikut duduk di samping Richard, dan mereka pun makan malam bersama.
__ADS_1