Anak Indigo

Anak Indigo
Rencana


__ADS_3

Malam pun tiba dimana perempuan yang masih menginginkan Jihan untuk mati itupun masih menyusun rencana untuk dapat membuat dia pergi sejauh mungkin dari kehidupan Nuga tersebut.


Di tempat yang jauh dari perkotaan dan sangat sepi dari kehidupan warga-warga sekitar perempuan itu menyusun rencana demgan anak buahnya tersebut.


Karena dia sudah sangat geram sekali dengan Jihan yang masih bisa hidup dengan sehat dan aman karena sang Kakak yang sudah berada di sekitarnya itu.


"Oke gue ngumpulin kalian di sini karena gue mau nyusun rencana buat bikin celaka Jihan lagi" ucap perempuan itu.


"Loh bukannya kemarin kita sudah celakain dia?" tanya anak buah 1.


"Iya kemarin dia sudah masuk rumah sakit dan sempat koma, namun dia masih bisa sembuh dan sehat seperti biasanya" jawab perempuan itu.


"Lalu kita mau nyusun rencana kayak gimana lagi ini?" tanya anak buah 2.


(Oke rencananya skip ya, hehe) :)


"Kalian mengerti kan?" tanya perempuan itu


"Mengerti" ucap anak buah 1 dan 2.


Selanjutnya mereka pun kembali kerumah masing-masing, karena rencana tersebut belum untuk dilakukan sekarang, karena masih ada Azka yang menjaga Jihan di sekitar nya tersebut.


Mungkin menunggu untuk beberapa waktu supaya bisa membuat Jihan celaka lebih dari yang kemarin supaya dia bisa pergi jauh dari Nuga tersebut.


Setelah itu perempuan itupun kerumah sakit sekedar melihat tingkah Jihan yang sedang bersama dengan Nuga tersebut.


Ia pun sangat kesal sekali melihat Jihan yang bisa begitu sangat manja dengan Nuga dan Nuga pun merespon semua tingkah manja Jihan tersebut.


"Huh kapan aku bisa sedekat itu dengan Nuga bahkan aku yang sudah lama menyukainya pun tidak bisa bermanja-manja seperti Jihan itu" ucap perempuan itu.


"Aku ingin sekali memiliki Nuga dengan seutuhnya, ahh aku ingin sekali memeluknya" ucap perempuan itu.


Perempuan itu ingin sekali rasanya masuk ke dalam ruangan itu dan menemui Nuga, tetapi dia juga takut dengan Azka karena Azka bisa membuat dia binasa dalam sekejap saja.


"Gimana sih caranya buat Azka itu mati di tangan gue? sedangkan Azka itu adalah king raja dari segala raja di alam ghaib, malahan dia nantinya yang bunuh gue duluan bukan gue yang bunuh dia" ucap perempuan itu.


"Gue cuma bisa buat adiknya aja yang mati bahkan buat kakaknya matipun susah karena dia memiliki akses besar berbeda dari adiknya dan juga dari Nuga itu" ucap perempuan itu.


Dan karena dia kesal setelah melihat kemanjaan dari Jihan terhadap Nuga dia pun memutuskan untuk pulang kerumahnya, karena dia sudah tidak tahan melihat adegan tersebut.


Di dalam ruangan hanya ada Nuga dan juga Jihan, sedangkan Azka dan Kakek mereka mengunjungi makam kedua orang tua Azka karena sudah lama tidak mengunjungi makam tersebut.


"Jihan apa kamu sudah lapar sekarang?" tanya Nuga.


"Belum kak, Kak Nuga sudah lapar?" tanya balik Jihan.


"Belum juga" jawab Nuga.


"Kak Nuga disini sampai kapan? apakah Kak Nuga dan Kak Azka gak sekolah?" tanya Jihan.


"Kami sekolah, hanya saja sekarang sedang libur karena sudah melewati masa UAS" jawab Nuga.


Yap sudah beberapa hari yang lalu Azka dan juga Nuga sudah melalui masa-masa ulangan mereka dan itu yang membuat mereka untuk pergi menjenguk Jihan ke negara sang Kakek tersebut.


Sedangkan sekolahnya Jihan mereka sudah duluan untuk menyelesaikan masa-masa ulangan mereka, karena sekolah luar negeri dan sekolah dalam negeri berbeda jadwal.


"Oh begitu, berarti duluan Jihan dong Kak ulangannya?" tanya Jihan.


"Iya dong, kan memang berbeda" jawab Nuga.


"Lalu Jihan betah tidak sekolah disini?" tanya Nuga.


"Alhamdulillah lumayan betah Kak dan disini juga Jihan sudah memiliki teman, akan tetapi teman Jihan hanya satu, karena dikelas Jihan waktu itu pernah ada murid yang melihat Jihan berbicara sendiri didalam kelas jadilah mereka mengira Jihan gila kak" jawab Jihan.


"Memang mengapa waktu itu kamu berbicara sendiri?" tanya Nuga.


"Waktu itu ada seorang anak kecil Kak didalam kelas nah dia tu mau meminta tolong sama Jihan, karena kan yang bisa menolong dia cuma Jihan kak" jawab Jihan.


"Oh begitu, tapi dia tidak jahat kan dengan kamu?" tanya Nuga.


"Tidak kak, dia sangat baik denganku bahkan dia pernah waktu itu memberitahu Jihan bahwa akan ada hantu wanita jahat yang mau melukai Jihan" jawab Jihan.


"Oh begitu, lalu teman kamu itu cewek atau cowok?" tanya Nuga kepo.


"Ciee Kakak kepo ya? Haha, tenang Kak Jihan masih tetap cinta sama kak Nuga kok" jawab Jihan.


Nuga pun hanya bisa tersenyum malu ketika mendengar Jihan berkata seperti itu, karena memang pada dasarnya mereka berdua itu memiliki perasaan yang sama akan tetapi Nuga ingin Jihan fokus dulu dengan pendidikan nya.


Karena waktu itu Jihan pernah bilang kalau dia ingin kuliah dan mengembangkan bakatnya itu.


"Kok diam Kak? malu ya?" tanya Jihan.


"Kamu lagi menggoda Kakak ya?" tanya balik Nuga.


Jihan hanya tertawa saja mendengar pertanyaan dari Nuga itu, karena memang Jihan sangat suka sekali menggoda Nuga karena juga Nuga itu cepat sekali tergoda dengannya.


"Lagian kak Nuga cepat kali tergoda" ucap Jihan.


"Jangan-jangan kak Nuga di sekolah sering tergoda juga dengan cewek-cewek lain?" tanya Jihan.


"Eh enggak ada ya, Kakak disana gak suka dekat dengan cewek manapun selain kamu dan juga Nindya" jawab Nuga.


"Hoo begitu bagus deh, eh sekarang kan kakak sama kak Azka sedang ada disini, lalu bagaimana dengan Nindya?" tanya Jihan.


"Kamu tenang saja dia aman kok" jawab santai Nuga.


"Kok gitu kak? kan kalian sedang mengadakan misi" tanya kepo Jihan.


"Nanti kalau kakak mu sudah pulang kesini silahkan kamu wawancarai dia ya" jawab Nuga.


Jihan pun masih berkutat dengan fikirannya sendiri, karena jawaban dari Nuga belum menjawab pertanyaan dari nya sama sekali.


Dan tak lama pun Azka sudah kembali ke rumah sakit, akan tetapi dia hanya sendirian tidak bersama dengan sang Kakek.


"Assalamu'alaikum" ucap salam Azka.


"Wa'alaikumussalam" ucap Nuga dan Jihan.


"Loh kak Azka, Kakek mana?" tanya Jihan.


"Kakek di kantor karena sedang ada pekerjaan nanti kalau sudah selesai Kakek akan kesini" jawab Azka.


Jihan pun hanya menganggukkan kepala nya tanda ia mengerti dengan jawaban sang Kakak.


"Kak, Jihan kepo tentang Nindya ceritain dong kak" ucap kepo Jihan.


Azka yang mengerti dengan ucapan sang adik, ia pun duduk mendekati adiknya dan menjelaskan semua kekepoan Jihan tentang Nindya tersebut.


"Nindya aman kok dia Kakak tinggal dan Kakak sudah menyuruh anak buah Kakak untuk menjaga dia disana" jawab Azka.


"Lalu kak bagaimana misi kakak itu?" tanya Jihan.


"Tenang saja sampai saat ini Nindya masih aman kok" jawab Azka.


Jihan pun menganggukkan kepalanya tanda ia mengerti dengan ucapan Azka.


"Kamu sudah makan?" tanya Azka.


"Belum kak" jawab Jihan.


"Kenapa?" tanya Azka.


"Ya belum lapar lah kak Azka" jawab Jihan kesal.


Azka pun hanya tertawa karena mendengar kekesalan dari Jihan tersebut, karena sudah sangat lama sekali Azka tidak melihat wajah kesal Jihan itu.

__ADS_1


"Kak Azka suka banget lihat Jihan kesal" ucap Jihan.


"Kamu lucu adik kecilku" ucap Azka.


"Kak Azka ku yang ganteng dan yang ku sayang, Jihan ini sudah besar ya bahkan Jihan sudah SMA sama seperti kalian berdua" ucap kesal Jihan.


"Kamu itu masih kecil, kamu itu kecepatan sekolah" ucap Azka karena dia masih ingin membuat Jihan kesal.


Jihan yang masih kesal pun hanya diam saja, karena kalau dia menjawab lagi dan lagi, maka Azka masih terus menggoda nya sampai Jihan menangis, karena itu adalah kebahagiaan Azka tersendiri.


Setelah mereka berbincang-bincang akhirnya pun Dokter dan juga Suster masuk kedalam ruangan Jihan, Dokter dan Suster itu bernama Lina dan Rini mereka Kakak beradik.


"Selamat pagi Nona Jihan" sapa Dokter Lina.


"Selamat pagi juga Dokter Lina" sapa balik Jihan.


"Selamat pagi Jihan" sapa Suster Rini.


"Selamat pagi juga Suster Rini" sapa balik Jihan.


Sedangkan Azka dan Nuga hanya tersenyum saja melihat Jihan yang akrab dengan Dokter dan Suster tersebut.


Sifat Jihan memang selalu ceria, karena itulah Azka, Nuga dan juga Kakek sangat khawatir dengan Jihan sebab Jihan jikalau sedang ada masalah dia suka sekali untuk memendam nya sendiri dibandingkan untuk bercerita dengan orang lain.


Mereka bertiga takut nanti akhirnya Jihan mengalami depresi berat, karena masalah yang dia pendam sendiri tersebut.


"Bagaimana keadaannya Nona Jihan?" tanya Dokter Lina.


"Ih Dokter mah kan udah dibilang panggil Jihan aja gak usah pakai Nona gitu" jawab Jihan protes.


"Oh oke-oke maafkan saya ya" ucap Dokter Lina.


"Hehe oke, keadaan Jihan udah membaik Dokter, apakah Jihan sudah boleh pulang?" tanya Jihan.


"Wah baru saja saya mau memberitahu, tapi instingmu sudah sangat peka sekali ya" jawab Dokter Lina.


Jihan pun hanya tertawa saja mendengar ucapan dari sang Dokter tersebut.


"Jadi Dokter Sekarang Jihan sudah boleh pulang?" tanya Azka.


"Sudah boleh, karena Jihan sudah lekas membaik dari hari-hari sebelumnya" jawab Dokter Lina.


"Wah terimakasih Dokter Lina, karena sudah merawat adik saya" ucap Azka.


"Sama-sama Azka" jawab Dokter Lina.


Darimana Dokter Lina tahu nama Azka? karena orang tua mereka itu dahulunya sahabatan dan semenjak orang tua Azka meninggal, maka Azka memutuskan untuk pindah dari negara tempat Lina dan Kakek nya itu tinggal, jadi Azka dan Lina sangat jarang sekali untuk bertemu.


Sedangkan dengan Nuga, Lina hanya kenal nama saja sedangkan untuk akrab mereka tidak seakrab seperti Lina dan Azka tersebut.


"Oke baiklah Jihan saya dan juga Rini hanya ingin menyampaikan itu saja, selamat beraktifitas seperti biasanya ya, jaga kesehatan dan jangan sampai terluka lagi dan semoga kita bisa bertemu lagi" ucap Dokter Lina.


"Bye-bye Dokter Lina terimakasih" ucap balik Jihan.


Dan setelah perginya Dokter Lina dan juga Suster Rini tadi, Azka pun berinisiatif untuk menghubungi sang Kakek untuk memberi kabar bahwa Jihan sudah dapat pulang sekarang.


"Gue nelpon Kakek dulu sebelum kita bawa Jihan pulang" ucap Azka.


"Oke Ka" ucap Nuga.


Dan Azka pun memutuskan untuk menghubungi Kakek nya diluar ruangan tersebut.


Sedangkan Jihan sudah asyik sendiri menonton televisi yang berada didalam ruangan nya tersebut.


Kalau Nuga dia pun berinisiatif untuk membereskan pakaian-pakaian Jihan dan juga perlengkapan Jihan.


"Ji kamu mau makan dulu? ini Kak Nuga ada roti, mau?" tanya Nuga.


"Mau dong Kak, eh tapi Kak Nuga dan Kak Azka juga belum makan" jawab Jihan.


"Hehe oke kak, ini Jihan ambil ya makasih Kak Nuga" ucap Jihan.


Nuga pun hanya tersenyum ketika melihat Jihan juga tersenyum, karena Nuga sangat suka sekali dengan senyum Jihan tersebut.


"Huh seandainya disini gak ada Azka mungkin Jihan sudah gue cium" ucap Nuga dalam hati.


"Lo bilang apa tadi Ga?" tanya Azka dalam hati.


"Heh kok?" tanya heran Nuga.


Nuga lupa kalau dia sama seperti Jihan yang tidak bisa mensegel kata hatinya sendiri seperti Azka.


Lalu tak lamaa pun Azka masuk kedalam ruangan Jihan dan Azka menatap Nuga dengan tatapan mata tajam.


Nuga yang di tatap pun hanya bisa tersenyum nanar saja, karena dia sangat takut ketika Azka sudah marah.


Pernah waktu di SMP Azka marah dan memukul seseorang dengan membabi buta, sebab orang itu sudah mengganggu ketenangan Jihan di sekolah itu, jadinya Azka membuat orang itu jera dan tidak lagi untuk berbuat seenaknya.


"Hehe kenapa nih Ka?, ngeri banget tatapan mata lo" tanya Nuga.


"Lo ngapain tadi?" tanya balik Azka.


Dan Nuga pun sangat tidak berani untuk membalas perkataan Azka sedangkan untuk menatap matanya saja pun dia sangat takut sekali sebab sorot matanya itu sangat tajam dan menakutkan.


"Ih Kak Azka, kenapa sih?" tanya Jihan.


"Kenapa Kak Azka sayang?" tanya balik Azka.


"Kok tatapannya mengerikan gitu?" tanya Jihan.


"Haha enggak kok, kamu lagi apa itu? makan roti?" tanya Azka.


"Hehe iya Kak, tadi roti ini dikasih sama kak Nuga" jawab Jihan.


Dan Azka pun hanya menganggukkan kepalanya tanda nya dia mengerti ucapan dari sang adik tersebut.


"Jadi Kakek kesini gak Kak?" tanya Jihan.


"Kita pulang bertiga dulu ya, gak apa-apa kan?" tanya balik Azka.


"Oh gak apa-apa Kak" jawab Jihan.


Azka pun hanya mengelus rambut panjang nya Jihan, karena dia memiliki insting yang sangat kuat untuk orang-orang di sekitarnya termasuk dengan Nindya juga akan tetapi semenjak ia meninggalkan Nindya gadis tersebut tidak memiliki masalah sama sekali di kota itu.


Azka sangat takut jika nanti Jihan akan terluka lagi, sedangkan Azka dan Nuga masih harus kembali ke kota tempat dia berada yang sebenarnya.


"Ada apa Ka?" tanya Nuga.


Nuga itu sangat peka sekali terhadap perasaan seseorang, makanya itu dia sangat tahu kalau Azka sudah membelai rambut Jihan, maka Azka sedang mengkhawatirkan sesuatu.


"Eh gak apa-apa kok Ga" jawab Azka.


"Gue lupa kalau Nuga itu sangat peka sekali orangnya" ucap Azka dalam hati.


Nuga pun hanya bisa memandangi wajah Azka, sebab dia tidak bisa seperti Azka yang bisa membaca fikiran seseorang tersebut.


"Ayo lah kak Azka, kak Nuga kita pulang Jihan bosan disini" ajak Jihan.


"Yaudah ayo" ajak Azka.


"Tapi Kak nanti kita ke toko hp ya, kan hp Jihan hilang" ucap Jihan.


"Siap bos kecil" ucap Azka.


Dan mereka pun bergegas mengangkat semua barang-barang milik Jihan dan membereskan tempat itu sebelum mereka benar-benar meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Lalu mereka bertiga pun berjalan bersamaan untuk kearah lobby tempat parkirnya mobil yang dikemudikan oleh Nuga tersebut.


Setelah Nuga memasukkan barang-barang tersebut kedalam bagasi, lalu merekapun masuk kedalam mobil dan Nuga pun diperintahkan oleh Azka untuk menjalankan mobil tersebut dan setelahnya mereka sudah meninggalkan pekarangan rumah sakit itu.


Namun dari jauh sudah ada yang mengintai gerak-gerik mereka bertiga, yap perempuan itu masih saja menginginkan Jihan untuk mati, maka dia bisa bersama dengan Nuga untuk selamanya.


"Gimana ya caranya supaya Jihan bisa menjauh sebentar dari jangkaun Azka? kalau kayak gini malah gue yang di serbu sama anak buah Azka" ucap perempuan itu.


"Ah sudahlah kepala ku semakin sakit karena memikirkan hal ini" ucap perempuan itu.


Akhirnya perempuan itu pun memutuskan untuk pulang kerumahnya.


Lalu untuk Azka, Nuga dan juga Jihan mereka telah sampai di halaman rumah mereka, Jihan begitu bahagia sekali karena dia sudah bisa menghirup udara segar dan melihat pemandangan-pemandangan bagus tidak seperti dirumah sakit tempat dia di rawat kemarin.


Jingga pun sudah turun duluan dari mobil dan dia pun berlari menuju taman yang penuh bunga itu, karena Jihan sangat menyukai bunga-bunga yang indah.


"Ji jangan lari-larian" teriak Azka.


Ya Azka masih sangat khawatir dengan kondisi Jihan yang menurutnya masih belum stabil itu, sedangkan Jihan kalau sudah berada di rumah dia pasti tidak mau di atur-atur.


Jihan pun hanya menampilkan deretan giginya yang putih itu.


"Gini nih kalau punya adik yang masih TK" ucap Azka.


Padahal Azka berbicara sudah sangat pelan sekali, akan tetapi Nuga yang sangat peka itu pun masih bisa mendengar nya.


"Namanya juga orang lagi bahagia Ka, jadi harap maklum saja" ucap Nuga.


"Heh lo, ngapain lo dengar-dengar gue lagi ngomong? padahal gue udah pelan banget ini" ucap Azka.


"Ya namanya juga kedengaran Ka" jawab Nuga.


"Lo itu punya telinga kelewat peka jadinya ya gitu tuh" ucap kesal Azka.


"Ya ampun salah terus gue, punya telinga salah gak punya telinga serem juga" ucap Nuga.


Karena Azka juga kesal terhadap Nuga, akhirnya dia pun pergi masuk kedalam rumahnya dan meninggalkan Nuga seorang diri, karena Jihan sudah di pekarangan tamannya itu.


"Hadeh nasib gue nih di tinggal terus" ucap Nuga.


Akhirnya Nuga pun ikut masuk kedalam rumah karena dia ingin istirahat juga.


Jihan pun karena sudah lelah melihat-lihat taman bunga nya itupun akhirnya memutuskan untuk masuk kedalam rumah.


"Capek banget, sebaiknya aku istirahat aja dulu nanti kak Azka marah-marah lagi karena dia ngeliat aku masih disini kan bahaya" ucap Jihan.


Pintu rumahnya sengaja tidak ditutup oleh Azka, karena Azka masih mau memantau keadaannya Jihan kan bisa saja nanti akan terjadi sesuatu sama Jihan kalau dia tidak memantau nya.


Azka sengaja menunggu Jihan diruang tamu karena dari ruang tamu itu bisa terlihat langsung daerah taman bunga itu.


Dan setelah Jihan mau memasuki rumahnya, namun sebuah anak panah nyasar yang ingin menusuk Jihan pun meleset dengan sangat cepat, karena sebelum anak panah itu berhasil menyentuh Jihan, Azka pun sudah berlari kearah anak panah itu untuk mengambil nya.


"Ya ampun Jihan" teriak Azka.


Setelah dia sudah berhasil menangkap anak panah itu.


Jihan yang terlihat syok itupun hanya dapat diam dan Jihan pun sudah berada dipelukan sang Kakak, karena Azka tahu ketika Jihan sedang syok maka dia sedang membutuhkan sebuah pelukan.


"Tenang Ji tenang jangan menangis ada kakak disini" ucap Azka menenangkan Jihan.


"Kak ta...tadi itu anak panah ma..mau mem..bunuh Ji... Jihan kan?" tanya Jihan gagap.


"Udah Ji disini masih ada Kakak yang bakal lindungin kamu, kamu tenang ya" ucap Azka.


Dan tak lama pun Nuga datang menghampiri mereka.


"Ka itu Jihan kenapa? kok nangis?" tanya Nuga.


"Nanti gue jelasin sekarang kita kekamar Jihan" ucap Azka.


Sebelum Azka kekamar Jihan, Azka pun sudah menaruh anak panah itu di ruang keluarga.


Dan setelahnya pun mereka berdua mengantarkan Jihan kekamarnya.


"Ji kamu tidur ya" ucap Azka.


"Gak mau Kak nanti dia datang lagi" ucap Jihan.


"Kamu tenang disini gak bakal ada yang bisa nyakitin kamu, disini ada Kak Azka, Kak Nuga dan juga Kakek" ucap Azka.


"Gak mau Kak, Jihan gak mau" ucap Jihan masih syok.


"Hadeh kalau kayak gini caranya gue buat Jihan tidur ajalah biar tenang sedikit" ucap Azka dalam hati.


"Ga lo buat Jihan tidur dan nanti gue buat ingatan dia hari ini hilang" ucap Azka menyuruh Nuga.


Nuga yang mengerti pun hanya menganggukkan kepalanya saja.


Lalu Nuga menutup mata Jihan dengan tangannya tersebut sambil dia membaca mantra nya dan tak butuh waktu yang lama, akhirnya Jihan pun tertidur.


Lalu setelahnya Azka pun mendekati Jihan dan dia pun memegang kepala Jihan dengan satu tangannya saja habis itu dia membaca mantranya dan setelahnya mungkin nanti Jihan akan melupakan kejadian anak panah tadi.


"Ga kita keruang keluarga" ajak Azka.


Nuga pun hanya mengikuti Azka dari belakang, karena dia tidak berani bertanya sebelum Azka yang menjelaskannya duluan.


"Oke tadi ada anak panah nyasar yang mau menusuk Jihan" ucap Azka.


"Ha? apa? anak panah?" tanya Nuga.


Azka pun hanya berdeham saja, karena dia sangat malas untuk menjawab yang kedua kalinya itu.


"Lalu bagaimana?" tanya Nuga.


"Ya seperti yang lo lihat ini adalah anak panahnya" jawab Azka.


"Jadi ini anak panah yang sempat mau nusuk Jihan? terus lo duluan yang lihat dan menyelamatkan Jihan?" tanya Nuga


"Iya, gue tadi masih memantau keadaan Jihan takut kalau dia kenapa-kenapa, eh taunya ada aja kan kejadian yang diluar dugaan" jawab Azka.


"Firasat gue bilang ini masih ada kaitannya dengan perempuan yang suka sama gue itu Ka" ucap Nuga.


"Ya firasat gue juga ngerasanya seperti itu" ucap Azka.


"Lo harus temui perempuan itu Ga dan lo harus bicara baik-baik sama dia, gue gak mau Jihan semakin di buat celaka sama dia" ucap Azka.


"Gimana gue mau ketemu sama dia sedangkan gue aja gak tahu dia siapa" ucap Nuga.


"Gue bakal bantu lo Ga tenang aja, gue gak mau Jihan dalam masalah terus apalagi itu juga menyangkut masalah keselamatan dirinya sendiri gue takut dia kenapa-kenapa" ucap Azka.


Nuga jadi tidak tega melihat Azka seperti itu, karena baru sekarang Azka memperlihatkan sisi sayangnya terhadap sang adik biasanya Azka hanya cuek saja dengan mengenai masalah adiknya, namun sekarang dia sudah mau memperlihatkan nya kepada orang lain.


"Pokoknya siapapun itu kita harus menemui dia Ga, harus" ucap Azka penuh tekad.


Nuga pun hanya menganggukkan kepalanya, karena dia tidak bisa berkata-kata lagi dengan melihat kesungguhan Azka yang seperti itu.


.


.


.


Heyyo ketemu lagi nih


oh iya jangan lupa like and comment ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2