
Jamaah tablig itu kembali ke masjid untuk mengambil barang barangnya suasana malam yang sejuk membuat jamaah tablig merasakan bahwa mengajarkan agama tidak semudah membalikkan tangan dakwah dari pulau ke pulau menyisakan dua hal tangis atau kerinduan.
"Emm ustadz kita mau balik sekarang" tanya Hasbi.
"Iya nak kita pulang sekarang karena kondisi tidak menentu" jelas ustadz Manaf.
Di saat Nada sudah selesai merapikan pakaiannya langsung pergi ke masjid mengikuti rombongan.
"Kok masjidnya basah ya" tanya Nada.
Hasbi langsung mendekati Nada lalu memegang pagar masjid yang sudah mengembun.
"Ya Allah pertanda apa ini kenapa masjidnya basah seperti ini dahulu cuaca yang seperti ini tidak membuat basah atau menyisakan embun" jelas Hasbi.
Malam yang tidak turun hujan tiba tiba dari atap masjid terdengan seperti rintikan air hujan.
Tes.... tes... tes...
Nada dan Hasbi langsung terkejut dengan bunyi itu.
"Apa itu dek kok kek hujan gitu" tanya Arya.
Tak beberapa lama Faisal juga Firman dari belakang bertriak.
"Sumur di belakang luber airnya keluar semua" jelas Faisal.
__ADS_1
Hasbi dan Arya yang ingin tau langsung berlari untuk melihat kejadian itu.
tak bersekang lama mereka keluar dari masjid yang mereka bangun itu.
"Kami tinggal kamu ya jaga diri baik baik dan jangan kotor lagi" jelas Yasmin sambil mengusap usap dinding masjid.
"Simpan semua cerita kita ya di sujud terakhir kita jangan kamu roboh lagi yah" tambah Yasmin dengan meneteskan air mata.
"Adek udah ya nggk usah nangis kita bisa kok nemu masjid yang baru dan lebih indah" jelas Nada.
"KakDa bukan masalah masjid yang megah atau yang indah Yasmin udah nyaman di masjid ini kenapa kita pergi" tanya Yasmin.
Ustadz Manaf juga memegang masjid itu dengan berat hati untuk meninggal kan.
"Saya takut bila mana ada orang yang mengotori masjid ini saya takut" jelas ustadz Manaf.
"Air apa ini kok dari masjid" tanya Nada.
"Nggk ujan padahal loh" jelas Arya.
"Trus ini apa masa air liur?" Tanya Nada.
"Kak Kayaknya masjidnya nangis mau kita tinggalin dari tadi kan masjidnya ngkuarin air aja yang biasanya di dinding kering ini enggk kan" jelas Yasmin.
Nada dan Arya langsung berfikir dan transfer ke hati.
__ADS_1
"Masya Allah masjid nya nggk mau kita tinggalin dek" jelas Arya.
Tiba tiba ada segrombolan warga dan para manusia babi itu datang dengan kekerasan mengusir para jamaah tablig itu.
"Hah cepat kau pergi dari sini" jelas manusia babi itu.
"Iya kami akan pergi dari sini" jelas ustadz Manaf.
Baru beberapa langkah tiba tiba air turun dari atap atap masjid dan daerah yang lain kering seperti biasanya.
air dari belakang sumur itu meluap sehingga tidak ada yang bisa berkata apa apa mereka menyangka bahwa itu adalah kenikmatan namun tidak.
Jamaah tablig ikut merasakan kesedihan yang di alami oleh masjid yang mereka bangun yang mereka bersihkan yang mereka rawat setiap hari.
Jamaah tablig itu hanya diam dan menundukan kepalanya.
Tak di sangka air meninggi dan deras ustadz Manaf langsung menggendong Yasmin dan mengajak yang lain untuk naik ke atas bukit.
"Yok cepat sepertinya ini adalah banjir" sanggah Ustadz Manaf.
Tak sampai sepuluh menit air itu meninggi orang orang yang di dalamnya itu bertriak dengan kencang dan mengambil harta benda mereka tak di sangka bahwa desa itu sudah seperti Danau.
Jamaah tablig itu langsung menangis karena kerinduan dengan Masjid itu.
"Emm masjidnya udah tenggelam. gimana kakek" jelas Yasmin pada ustadz Manaf.
__ADS_1
Tiba tiba dari pusaran danau itu ada sebuah cahaya yang naik ke atas langit berlafaz.
Tulisan Azan sampai selesai dan yang terakhir seperti lafadz Allah SWT.