
Keesokan harinya...
"Sayang sudah bangun?" tanya Jiho yang mendapati istrinya sedang mencuci baju.
"Ah iya,"
"Kamu juga sudah masak?"
"Iya A, semoga sesuai dengan seleramu ya..."
"Haha, iya pasti. Aku selalu suka masakan istriku."
Tiara tersenyum.
"Ini kopi buatku juga?"
"Iya A," jawab Tiara yang masih mencuci.
"Emang enak ya punya istri, jam segini udah siap semua. Makasih istriku...."
"Hmmm..... Jadi mau bawa bekal?"
"Iya kalau gak merepotkanmu."
"Ah, tidak... Nanti aku siapkan ya."
"Terima kasih sayangku. Butuh bantuan?" tanyanya yang tiba-tiba saja sudah berjejer di samping istrinya.
"Gak usah A, biar aku saja..."
"Ooh, iya..." dia berlalu.
Entah kenapa Tiara merasa dia berbeda. Ada sedikit kecanggungan diantara mereka.
'A Jiho kenapa ya? Dia sedikit berbeda. Apa karena semalam aku menepis tangannya? Ah sudahlah, aku hanya perlu menyelesaikan pekerjaan rumah ini.'
Tiara menjemur pakaian di teras depan, sedangkan A Jiho mulai mandi. Tak lupa, dia menyiapkan segala kebutuhannya, Tiara ingin jadi istri yang baik untuk suaminya itu.
"Aa berangkat dulu ya sayang..." pamit Jiho kepada istrinya itu.
"Iya, hati-hati ya A..."
"Maaf ya, istirahat Aa gak pulang..."
"Iya gak apa-apa A..."
Tiara menyalami dan mencium punggung tangan suaminya. Jiho tersenyum dan mengecup kening Tiara.
"Kalau mau pergi jangan jauh-jauh ya sayang..."
"Iya A, gak usah khawatir. Aku bukan anak kecil lagi..."
Jiho tersenyum lagi dan beranjak pergi.
***
Pagi-pagi Ferdi sudah meminum kopi buatannya sendiri.
'Kalau punya istri enak nih, pagi-pagi udah dibuatin kopi sama sarapan... Tiara lagi ngapain ya?' pikirnya.
Rasa rindunya pada Tiara sungguh membuat dia tak waras. Dia sempat mengambil foto Tiara di rumah orang tuanya kemarin sore. Dipandangi lekat-lekat foto gadis itu.
__ADS_1
"Kamu lagi apa sekarang dek?" dia bertanya sendiri. Ferdi merasa frustasi ketika mengingat Tiara sudah dipinang orang.
Dia meraih ponselnya dan segera menelepon nomor pujaan hatinya itu.
Tak butuh waktu lama telepon itupun tersambung.
[Halo, Assalamualaikum dek...] sapanya duluan yang tak sabar mendengar suara Tiara.
[Waalaikum salam, ada apa mas? Pagi-pagi udah telepon?]
[Ah, mas cuma pengin dengar suara kamu dek...]
[Hah? Oh... Gimana disana mas sehat?]
[Iya, mas sehat. Cuma...]
[Kenapa mas?]
[Hati mas yang gak baik-baik saja]
[Huuh...]
[Ini adek dimana? Kok kayaknya banyak suara kendaraan bermotor?]
[Ah, iya mas. Lagi jalan-jalan nih, lihat-lihat sekeliling]
[Sama siapa?]
[Sendiri...]
[Kok berani dek? Hati-hati ya, jangan jauh-jauh nanti malah kesasar...]
[Haha... Ya enggaklah mas, aku udah gede. Lagi pula ini cuma di depan gang yang kebetulan langsung jalan raya]
[Hmmm... Iya mas, habisnya aku jenuh di rumah terus gak ngapa-ngapain]
[Mau mas temenin?]
[Hah? Maksudnya?]
[Mau mas temenin?]
[Haha, jangan ngaco deh mas. Jarak kita kan jauh]
[Mas kan bisa menyusulmu kesana, gimana?]
[Nggak bolehlah, mau ngapain juga kesini]
[Ya ketemu kamu]
[Ih apaan sih mas... Udah dulu ya aku tutup teleponnya]
Tut Tut Tut Tut... Panggilannya langsung diakhiri.
Ferdi tersenyum. Entah kenapa terlintas untuk pergi menyusul Tiara. Dia rindu sekali padanya.
***
Tiara hanya bisa geleng-geleng kepala ketika tahu ternyata Ferdi masih mengharapkannya. Ponselnya dimasukkan kembali ke dalam tas. Dia berjalan lagi, menghampiri minimarket yang tak terlalu jauh dari tempatnya berdiri, dia ingin membeli sesuatu.
Ketika dia sedang berjalan, tiba-tiba saja "Brukk...!" Karena tidak berhati-hati dia menabrak seseorang.
__ADS_1
Beberapa benda terjatuh, rokok, korek api gas, dan minuman kaleng. Tiara memungutinya dan memberikan kepada empunya.
"Maaf saya tidak sengaja..." ucap Tiara gugup, dia menunduk setelah melihat lelaki dihadapannya berpakaian sangat rapi seperti seorang manager sebuah perusahaan yang selalu dilihatnya di televisi.
"Ya tidak apa-apa," sahutnya, kemudian dia berlalu begitu saja.
Tiara menghela nafas panjang. Dia memilih beberapa barang lalu membayarnya di kasir.
***
Sementara di tempat kerja Jiho
"Cie cie.... Yang pengantin baru, jam segini udah datang," ledek Deni teman kerjanya.
"Hahaha... Ya pastilah Den, kan habis di servis," seloroh Bang Nawas ikut menimpali.
Jiho tersenyum kecut menanggapinya. "Hhhh, kalian tidak tahu sih," Jiho hanya bergumam kecil tapi mereka langsung mengerubutinya.
"Ada apa lo sob? Nikah bukannya sumringah kok malah loyo gitu? kecapekan kah berapa ronde?" ledek Bang Nawas kepo.
"Apaan sih bang, kepo amat. haha..." jawab Jiho sekenanya.
"Ya elah nih anak, mau tau kita kepo? Lo gak kayak biasanya, kerja juga banyak salahnya. Pasti ada masalah kan?" tanyanya lagi.
"Iya nih, cerita kek. Kan bisa meringankan beban pikiran lo," sambung Deni.
"Yaps, kami siap mendengarkan keluhanmu, sob..." timpal bang Nawas.
"Iya kayak siapa aja lho, kan kita sudah kayak keluarga, susah senang sama-sama..." sahut Deni lagi.
Semenjak Jiho merantau di kota, merekalah yang telah banyak membantu, dari awal hingga saat ini.
"Wah... wah... bawa bekal juga nih, pasti istri tercinta yang masakin," lanjut Deni masih dengan nada meledek temannya itu.
"Tumben, biasanya lo pulang terus kalo istirahat. Ini ada istri di rumah kok malah istirahat gak pulang?" tanya Bang Nawas.
"Takut khilaf bang, lama-lama bersamanya takut gak bisa menahan diri,"
"Lho lho lho... menahan diri pegimane? diakan istri lo?"
Jiho menatap Bang Nawas dan Deni secara bergantian. Mereka masih menunggunya bercerita.
'Ah, tidak tidak... ini urusan rumah tanggaku, aku harus menyimpannya sendiri.' ucap Jiho dalam hati.
"Sudahlah bang... Oh itu para pelanggan sudah pada dateng," jawabnya kemudian.
Mereka mendengus kesal, selamet selamet gak jadi bulan-bulanan deh! Jiho terkekeh melihat mereka kehilangan mangsa untuk bercanda.
Dari semalam hati Jiho rasanya nyeri. Ah tidak, lebih tepatnya saat dia tahu hubungan mereka. Sejak kepulangannya, dan melihat mereka bersama dengan mesra. Sungguh sakit. Dikhianati orang yang paling dicintai dan sahabatnya sendiri. Jiho meyakinkan diri, dia pasti akan menerimanya sepenuh hati. Ternyata dia salah, perjuangannya lebih berat.
Harusnya dia jadi orang yang paling bahagia saat menikahi gadis impiannya. Tapi sepertinya gadis itu masih setengah hati dengannya.
Pikirnya, saat ia bersedia ikut bersama dan mulai bermanja-manja dengannya, dia sudah menerima Jihosepenuhnya, tapi sepertinya dia salah lagi. Jiho tahu, sahabatnya itu pasti punya tempat istimewa di hati istrinya.
'Rasanya ingin menyerah. Tapi tidak, tidak, aku akan memperjuangkan cinta ini. Aku harus lebih sabar terhadapnya, Aku harus tetap jadi suami yang baik untuknya. Aku harus mengambil hatinya lagi, biar sepenuhnya hanya milikku.' batinnya bergejolak sendiri.
Jujur, berdekatan dengannya membuat Jiho tak bisa mengontrol diri, wajahnya, bibirnya, tubuhnya, ah sungguh dia tak bisa menahan diri untuk berlama-lama lagi. Selama ini dia hanya bisa menciuminya, tak bisa lebih dari itu. Jiho takut khilaf seperti semalam, dan Tiara masih menolak, dia menepis tangannya.
Jiho tak ingin memaksanya. Biarlah, dia hanya perlu menunggunya dan tetap menjadi suami terbaik untuk istrinya.
'Aaarggh! sungguh aku egois sekali! Dia seharian sendirian di rumah, tanpa teman, melakukan semua pekerjaan rumah tanpa cela. Dia pasti kesepian sekali. Apa-apaan aku ini? Kenapa sampai sibuk kerja begini tanpa memikirkan bagaimana perasaannya!
__ADS_1
Ya, pulang nanti aku akan mengajaknya jalan-jalan keliling kota. Aku ingin melihat senyuman manisnya itu, bukan tangisannya lagi. Maafkan aku, istriku... Walau bagaimanapun, aku tetap mencintaimu.' ucap Jiho lagi masih berbicara pada hatinya sendiri.