ANTARA DUA HATI

ANTARA DUA HATI
Biang Kerok


__ADS_3

Prokk... Prokk... Prokk...


Sebuah tepukan tangan mengagetkan mereka bertiga. Mereka menoleh, dilihatnya seseorang yang selama ini selalu mengganggu kehidupan Jiho dan Tiara. Ya, dia Endra. Si biang kerok itu muncul lagi? Lalu Lina, wanita itu muncul dibelakangnya sambil tersenyum nakal.


Tiara kembali ketakutan, tubuhnya gemetaran. Entah rasa trauma itu belum juga hilang. Mungkin karena beberapa kali dia mengalami kejadian pahit karenanya. Dia langsung bersembunyi dibelakang tubuh suaminya.


"Hai... Kita berjumpa lagi," sapanya dengan tersenyum kecil.


"Ada apa kau kesini lagi?" tanya Ferdi.


"Ohooo... Halo, apa kabar kak?" Endra masih saja tersenyum dengan sinis.


Ferdi mengepalkan tangannya dan bersiap meninju lelaki dihadapannya itu.


"Tenang kak, jangan ngegas dulu. Kenapa harus emosi? Aku menyapa kalian dengan baik-baik." sahut Endra dengan entengnya.


"Ada apa kau kesini? Jadi wanita itu suruhanmu?"


Endra menyeringai. "Ah sayangnya, adikku telah gagal memisahkan mereka. Baru juga mulai, udah ketahuan duluan. Hahaha..."


"Apa? Wanita itu adikmu? Pantas saja sifatnya tidak jauh berbeda.


Endra tertawa.


"Kak, tapi aku jadi beneran suka sama laki-laki itu. Bisakah kau membuatnya jadi milikku?" Lina merajuk.


"Maksudmu Jiho?"


"Yaaa, dia sangat kereeen," sahut Lina dengan nada sumringah.


"Tentu saja adikku sayang. Kau menginginkan laki-laki itu? Aku akan menjebaknya agar dia bisa menikahimu," bisik Endra di telinga wanita itu.


"Bagaimana caranya?"


"Kau tenang saja, kita perlu rencana matang agar bisa menyelesaikan misi kita. Tapi kamu harus sabar. Kita tunggu sampai Tiara lahiran dulu," bisik Endra lagi.


"Hah? Kenapa selama itu?"


"Ya, kakak takut kejadian tahun lalu terulang lagi. Bisa-bisa kakak kehilangan dia selamanya."


"Hei! Kenapa kalian cuma berbisik-bisik saja?" tukas Ferdi keheranan.


Endra dan Lina menoleh dan tersenyum tipis. "Kenapa kak? Kalau aku bilang sama kamu sekarang, apa kamu akan mengabulkannya?"


"Apa maksudmu?"


"Aku menginginkan adikmu," lanjut Endra lagi.


Ferdi memandang Jiho dan Tiara (yang sedang ketakutan).

__ADS_1


"Berulangkali kau membahayakan adikku, apa kau belum puas? Pertama, kau hampir saja memperkosanya, kedua kau hampir saja membuatnya kehilangan nyawanya, ketiga kau telah membuatnya kehilangan bayinya. Sekarang kau akan membuatnya dalam bahaya lagi?"


"Dan selalu saja kau yang menyelamatkannya. Ternyata kau seorang kakak yang baik ya! Padahal suaminyapun tak becus melindunginya."


Mendengar ucapan Endra, Jiho sudah tak bisa menahan lagi. Dia ingin meninjunya, namun lagi-lagi Tiara menahannya.


"A, tetaplah disini. Jangan dengarkan dia. Dia sengaja melakukan itu," ucap Tiara dengan lirih. Ucapan Tiara membuat Jiho mengurungkan niatnya. Dia kembali terdiam. Terserah apa yang akan dikatakannya, tapi kemarahan tidak akan menyelesaikan masalah.


"Kenapa Jiho? Memang benar kan? Kau tak bisa melindungi istrimu?" ucap Endra dengan sinis.


"Kalau kalian kesini hanya untuk membuat keributan, pergilah. Jangan ganggu kami," tukas Ferdi.


"Ya, baiklah. Kami akan pergi. Tapi kami akan kembali lagi lain waktu," sahut Endra.


Endra mendekati Ferdi sambil berbisik. "Aku tahu kau bukan kakaknya. Itu hanya akal-akalanmu saja bukan? Kau juga mencintai Tiara, benar kan? Tapi kau terlalu pengecut, kenapa kau tak rebut saja istri sahabatmu itu?"


Mata Ferdi membulat.


"Kenapa? Kau takut pada Jiho? Atau kau merasa bersalah karena mencintai istrinya? Kalau aku jadi kamu, aku akan lakukan apapun untuk dapatkan wanita pujaanku. Hah, ternyata kau hanya lelaki cemen, padahal kesempatanmu mendapatkannya lebih besar dari pada aku. Sayang sekali..." bisik Endra lagi di telinga Ferdi.


Wajah Ferdi berubah merah padam. Dia marah mendengar ocehan Endra. Namun dia hanya bisa menahan emosinya dalam hati.


"Kalau gitu kami permisi. Tunggu saja, aku pasti kembali lagi dengan kejutan yang lain," sahut Endra. Dia mundur beberapa langkah kebelakang.


"I Love You, Tiara..." teriak Endra. Kemudian mereka pergi dan menghilang dari pandangan.


Tak lama Jihopun pergi meninggalkan mereka. "Sayang kamu tunggu disini dulu ya, Aa ke cafe sebentar."


Tiara mengangguk lagi.


Ferdi mengusap wajahnya sendiri dengan kasar. Ia menjadi gusar dengan perkataan Endra.


"Mas, kamu tidak apa-apa?" tanya Tiara menghenyakkannya.


Ferdi tak menjawabnya, dia hanya menatap Tiara lekat-lekat. Dia ingin mencari jawaban kenapa bisa mencintainya begitu dalam.


"Mas, kenapa bengong?" tanya Tiara lagi.


'Hah! Aku mikir apaan sih. Dengan melihatnya baik-baik saja, itu sudah cukup buatku. Kenapa harus terpengaruh dengan ucapan lelaki brengsek itu!' ucap Ferdi membatin.


"Mas?" suara lembut Tiara sungguh menyejukkan hatinya.


"Ah tidak, mas tidak apa-apa, dek" sahutnya sambil tersenyum.


Deg... Deg... Deg... Tiba-tiba jantungnya berdebar lebih cepat. Duh, padahal selama ini Ferdi berusaha menahan dan menyembunyikannya. Kenapa harus seperti ini lagi?


"Mas, aku kangen sama bapak dan ibu..." ucap Tiara, dia duduk disampingnya.


Ferdi hanya menoleh tanpa sepatah katapun. Hanya tersirat sebuah pertanyaan.

__ADS_1


Tiara mengambil nafas panjang. "Sebenarnya udah lama aku ingin pulang. Kalau dari telepon saja rasanya ada yang kurang. Aku ingin sekali ketemu sama bapak dan ibu, tapi...."


"Jiho melarangmu?"


Tiara menggeleng. "Tidak, bahkan aku tidak pernah mengatakan apapun padanya. Hanya saja, sudah terlalu lama kami merantau, tapi belum juga pulang. Aku merasa jadi anak yang durhaka."


"Sabar dulu, kamu kan sekarang sedang hamil..."


"Iya, aku tahu mas. Aku belum ada kesempatan untuk pulang. Setelah beberapa kejadian yang telah berlalu. Apalagi sekarang aku sedang hamil, mungkin saja A Jiho tak mengizinkanku pulang. Dia pasti takut akan terjadi sesuatu lagi pada bayi ini."


"Iya dia pasti mengkhawatirkan kalian. Tapi coba bicarakanlah dulu padanya."


"Hmmm... Aku akan mengatakannya nanti."


"Kalau dia melarangmu pulang, itu pasti karena dia mengkhawatirkan kamu dan bayimu."


"Iya mas."


"Kamu sabar aja, pasti nanti ada waktunya kalian bisa pulang ketemu bapak sama ibu"


Tiara mengangguk.


"Kamu fokus saja sama bayi yang ada dalam kandunganmu. Tetap jaga kesehatan dan jangan banyak pikiran. Oh ya, kandunganmu udah masuk usia berapa bulan?"


"Bentar lagi tujuh bulan, mas..."


"Sudah punya persiapan buat lahirannya dedek bayi?"


"Aku gak khawatir kalau masalah itu mas. A Jiho rajin menabung buat biaya persalinan sama persiapannya dedek bayi."


"Alhamdulillah kalau begitu. Aku tahu dia suami yang bertanggung jawab."


Tiara tersenyum.


"Ya sudah, nanti kamu tinggal bicarakan sama suamimu tentang keinginanmu atau unek-unekmu selama ini. Jangan simpan sendirian, kalau kamu gak ngomong suamimu gak bakal tahu."


Tiara kembali mengangguk.


"Mas, mau aku bikinkan teh?" tanya Tiara.


"Hmm, ya boleh. Kamu masak apa, dek?"


"Aku belum masak. Bukannya di cafe ada makanan ya mas?"


"Hahaha, memang ada dek. Tapi mas gak selera, mas lagi mau makan masakan rumah."


"Ya sudah nanti aku masakin, nanti kita makan bareng ya, sambil nunggu A Jiho pulang..."


"Oke"

__ADS_1


__ADS_2